Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Masjid Cheng Hoo

image-profil

image-gnews
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Achmad Fauzi, Aktivis Multikulturalisme

Masjid Muhammad Cheng Hoo memberikan keteladanan penting tentang inklusivisme beragama. Masjid yang terletak di Kota Surabaya ini bisa dijadikan referensi bagi masjid dan tempat ibadah lain dalam mengatur pola interaksi dengan umat agama lain. Ketika mengumandangkan azan subuh, misalnya, muazin tidak menggunakan pengeras suara, sehingga warga sekitar yang mayoritas non-muslim tidak terganggu. Eksplanasi tersebut untuk menghindari pola-pola konflik yang berbasis perebutan aset massa. Apalagi, ketika pergumulan penyiaran agama telah melampaui batas-batas demarkasi teologi masing-masing agama, masjid menjadi momentum terbaik untuk menyebarkan ajaran agama yang moderat, toleran, dan menjunjung tinggi kepelbagaian.

Masjid Muhammad Cheng Hoo merupakan rumah ibadah yang bercorak unik dan multikultural. Ide penamaannya diilhami oleh tokoh legendaris Tionghoa, Laksamana Cheng Hoo, yang dikenal saleh dan toleran dalam beragama. Jejak historis dari ekspedisi Laksamana Cheng Hoo pada abad ke-15 diakui telah menaburkan benih-benih ajaran Islam yang penuh kelembutan, yang di dalamnya menyeruak aroma toleransi dan penghormatan terhadap budaya-budaya lokal. Keberadaan Masjid Muhammad Cheng Hoo terbuka untuk siapa saja tanpa memandang agama, ras, warna kulit, ataupun golongan. Dulu, Nabi Muhammad juga memperlakukan masjid secara terbuka dan menjadikannya tempat dialog lintas agama.  

Masjid Muhammad Cheng Hoo berhasil menjadi simbol keragaman. Ini menjadi aset bagi masyarakat dalam mewujudkan inspirasi semangat kepelbagaian. Zaman dulu, masjid berdiri berdampingan secara damai di antara gereja. Kelenteng berdiri di antara vihara dan pura. Tapi kini suasana yang ada sudah berbeda. GKI Yasmin saja hingga kini masih menjadi objek konflik antar-agama meski putusan MA telah berkekuatan hukum tetap.

Padahal Presiden berharap GKI Yasmin dan masjid di dekatnya dapat berdiri secara berdampingan sehingga menjadi miniatur kerukunan antar-umat beragama di Indonesia. Itulah tantangan kita bersama untuk beragama secara toleran. Sentimen negatif itu dapat tereliminasi jika tempat ibadah sebagai pusat peradaban selalu menggemakan tema kerukunan sebagai isu utama. Rumah ibadah seharusnya menjadi tempat menyemai kedamaian, inklusivisme, dan rasa saling menghargai antar-umat beragama.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Banyak prestasi gemilang yang telah diraih oleh masjid monumental ini dalam menghadirkan wajah Islam yang ramah. Tak hanya dalam bidang penggemblengan akidah, dalam aspek kemasyarakatan pun Masjid Muhammad Cheng Hoo membangun jembatan komunikasi dengan warga sekitar. Hal itu terlihat dari ragam kegiatan yang ada, seperti pembagian buku serta alat tulis kepada anak-anak kecil yang berada lingkungan di sekitar, pembagian bahan pokok murah, perayaan Nuzulul Quran, donor darah, serta pengobatan tradisional akupunktur Tiongkok. Di bidang pendidikan, mereka telah mendirikan Istana Balita dan usaha-usaha lainnya. Ini sebuah kemajuan yang menggembirakan. Masjid Muhammad Cheng Hoo tak kenal lelah dalam memancangkan pilar-pilar kesalehan sebagai mercusuar bagi umat dan menjadi "kiblat" bagi masjid-masjid lain di Indonesia.

Ke depan, lembaga-lembaga keagamaan harus proaktif meneladani dan merumuskan kembali strategi dakwah bernapaskan toleransi, inklusivisme, kebangsaan, dan kemanusiaan. Walhasil, dari masjid, jalan spiritual yang sejuk dan mengayomi seluruh umat manusia kembali menemui jalan terang. *


Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Pemerintah Merasa Toleransi dan Kebebasan Beragama di Indonesia Berjalan Baik

49 hari lalu

Foto udara sejumlah umat Islam menunaikan salat Idul Fitri 1445 Hijriah secara berjamaah di Jalan Jatinegara Barat dan Jalan Matraman Raya, Jatinegara, Jakarta, Rabu, 10 April 2024. Warga muslim setempat biasanya melaksanakan salat Idul Fitri maupun Idul Adha di samping kanan dan kiri Gereja Protestan Koinonia yang didirikan pada 1889 itu. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Pemerintah Merasa Toleransi dan Kebebasan Beragama di Indonesia Berjalan Baik

Kemenkumham mengklaim Indonesia telah menerapkan toleransi dan kebebasan beragama dengan baik.


Miniatur Toleransi dari Tapanuli Utara

1 April 2024

Miniatur Toleransi dari Tapanuli Utara

Bupati Nikson Nababan berhasil membangun kerukunan dan persatuan antarumat beragama. Menjadi percontohan toleransi.


Indonesia Angkat Isu Literasi Keagamaan Lintas Budaya di Sidang Dewan HAM PBB

16 Maret 2024

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi berbicara dalam Sidang ke-55 Dewan HAM PBB di Jenewa, Swiss, pada Senin 26 Februari 2024. ANTARA/HO-akun X @Menlu_RI
Indonesia Angkat Isu Literasi Keagamaan Lintas Budaya di Sidang Dewan HAM PBB

Isu tersebut dinggap penting diangkat di sidang Dewan HAM PBB untuk mengatasi segala bentuk intoleransi dan prasangka beragama di dunia.


Asal-usul Hari Toleransi Internasional yang Diperingati 16 November

16 November 2023

Suasana Terowongan Silaturahim yang menghubungkan antara Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral, Senin, 25 Oktober 2021. Terowongan yang dibangun dengan panjang tunnel 28,3 meter, tinggi 3 meter, lebar 4,1 meter dengan total luas terowongan area tunnel 136 m2 dengan total luas shelter dan tunnel 226 m2 menelan dana sebesar Rp 37,3 miliar. TEMPO/Syara Putri
Asal-usul Hari Toleransi Internasional yang Diperingati 16 November

Setiap 16 November diperingati sebagai Hari Toleransi Internasional.


Terkini Metro: Pangdam Jaya Ajak Remaja Masjid Jaga Toleransi, BMKG Minta Warga Depok Waspada Kekeringan

18 Juni 2023

Wali Kota Tangerang Selatan bersama Pangdam Jaya Mayjen TNI Mohamad Hasan meresmikan dua Markas Koramil, Selasa 30 Mei 2023. Foto TEMPO/Muhammad Iqbal
Terkini Metro: Pangdam Jaya Ajak Remaja Masjid Jaga Toleransi, BMKG Minta Warga Depok Waspada Kekeringan

Kepada remaja masjid, Pangdam Jaya mengatakan pluralisme sebagai modal kuat dalam bekerja sama untuk menjaga persaudaraan dan kedamaian di Indonesia.


Mas Dhito Puji Toleransi Umat Beragama Desa Kalipang

24 Mei 2023

Mas Dhito Puji Toleransi Umat Beragama Desa Kalipang

Berbudaya itu, bagaimana budaya toleransi beragama, menghargai umat beragama lain, budaya tolong menolong.


Ngabuburit di Tepi Danau Jakabaring Sambil Lihat Simbol Toleransi Beragama

1 April 2023

Menikmati pemandangan indah di pinggir danau venue dayung, Jakabaring Sport City. Disini pengunjung dapat pula olahraga jogging sore sembari ngabuburit. TEMPO/Parliza Hendrawan
Ngabuburit di Tepi Danau Jakabaring Sambil Lihat Simbol Toleransi Beragama

Di akhir pekan atau hari libur nasional, Jakabaring Sport City menjadi pilihan destinasi liburan dalam kota yang seru.


Ketua MPR Ajak Junjung Tinggi Nilai Toleransi Agama

16 Februari 2023

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo berfoto bersama dengan pengurus BEM PTNU Se-Nusantara di Jakarta, Rabu (15/2/23).
Ketua MPR Ajak Junjung Tinggi Nilai Toleransi Agama

Indeks perdamaian global terus memburuk dan mengalami penurunan hingga 3,2 persen selama kurun waktu 14 tahun terakhir.


Bamsoet: MPR dan MUI Siap Gelar Sosialisi Empat Pilar MPR

2 Februari 2023

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo.
Bamsoet: MPR dan MUI Siap Gelar Sosialisi Empat Pilar MPR

Sosialisasi itu akan mengangkat tema seputar peran organisasi keagamaan dalam menjaga kerukunan dan kondusivitas bangsa.


Wakil Kepala BPIP Dorong Pemkab Klaten dan FKUB Raih Penghargaan

16 November 2022

Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Dr. Drs. Karjono, S.H., M.Hum menghadiri Pengukuhan Pengurus Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Rabu, (16/11).
Wakil Kepala BPIP Dorong Pemkab Klaten dan FKUB Raih Penghargaan

Klaten disebut sebagai miniaturnya Indonesia. Di tengah keberagaman agama tetap memiliki keharmonisan, persatuan dan kesatuan.