Popularitas

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • KEBAJIKAN yang sering diajarkan ialah: jangan mencari popularitas. Seorang paman yang jadi pemimpin daerah di pelosok sana mendengar ajakan ini, dan ia mengangguk-angguk. Ia lalu menuliskan dalam lubuk hatinya semboyan "jangan-mencari-popularitas" itu. Ia bekerja tanpa pamrih, begitu fikirnya (setengah memuji diri sendiri, tentu). Ia selalu bilang kepada para wartawan setempat yang kadang-kadang mendatanginya: "Saya tidak suka publikasi, dik" -- maksudnya, tentulah, tidak suka publisitas. Dan ia mencurigai dirinya sendiri bila ia sudah mulai ngomong dengan wartawan, sebagaimana ia juga mencurigai koleganya bila mereka sudah mulai sering dimuat di koran. Sementara itu ia memang takut jangan-jangan atasannya menilai dia teramat banyak bicara, dan dengan begitu menjadikan ia lebih menonjol ketimbang si atasan. Maka ia cuma berbicara seperlunya. Dan karena popularitas bukan tumbuh lantaran koran saja, tapi juga lewat pergaulan luas dengan masyarakat, paman ini juga membatasi diri ke situ. Ia berhati-hati bersikap dalam kesempatan bertemu dengan orang banyak. Ia tidak mau nampak terlalu hangat, teramat mendekat, bergurau, berbantah ataupun menunjukkan rasa intim yang lain. Ia bisa pura-pura tidak begitu kenal dengan orang yang sebenarnya sudah dikenalnya. Dalam upacara, juga dalam pidato, ia menunjukkan tidak ingin dikasih tepuk-tangan dan sambutan meriah. Ia selalu berkata teguh: "Saya tidak ingin cari popularitas". Tapi pada suatu hari, tanda-tanda krisis mulai terasa di bawah kursinya. Urusan yang harus dilakukan demikian banyak, tapi ia tahu bahwa orang-orang yang menjadi anak-buahnya terbatas jumlah, gaji dan pengalamannya. Ia sebenarnya membutuhkan elemen lain dalam melaksanakan tugas jabatannya: elemen dari luar birokrasinya. Ia membutuhkan "partisipasi masyarakat". Ia tahu bahwa apa yang didengarnya dari Bapak Presiden benar: pentingnya masyarakat melu handarbeni, "ikut memiliki". Tapi ia kini merasa seperti dalam langkah yang mati. Ia menjadi susah tidur -- terutama juga karena takut kalau dicopot. Proyekproyek memang mulai berantakan. Ia berfikir bahwa ia bisa saja mengadakan mobilisasi penduduk, dengan sedikit paksaan di sana-sini, untuk mensukseskan program pembangunannya. Tapi untuk itu pun ia tak begitu berani. Jangan-jangan ia bakal dituduh menjadi "oknum". Ia tahu bahwa atasannya pasti tidak suka jika ada kerusuhan, protes atau malah korban di daerahnya. Atasannya tidak mau ada ribut-ribut Dan ia jadi berkeringat, resah. Sebagai apa dia ini sekarang? Birokrat? Atau pemimpin? Kepada siapa ia harus menyandarkan dirinya? Kepada atasan? Ah, atasan tidak selalu tahu keadaannya yang sebenarnya. Ia tak pernah berhubungan dalam garis "solidaritas" dengan dia. Ia cuma takut. Dan untuk bersandar kepada masyarakat ...., dia mungkin tidak pernah dikenal. Atau lebih tepat: dia cemas tidak akan dipercaya. Ia tidak pernah bersentuhan dengan mereka, lewat hati. Tiba-tiba ia jadi ragu: jangan-jangan kebajikan untuk "tidak-mencari-popularitas", untuk posisinya, bukanlah kebajikan yang tepat. Kebajikan itu mungkin cocok untuk seorang pekerja laboratorium, seorang peneliti, atau seorang sekretaris. Tapi untuk dia? Esok paginya tiba-tiba ia merasa lega. Ia membaca satu kalimat dari Ki Ageng Suryomentaram, putera Hamengkubuwono VII yang meninggalkan kehidupan sebagai pangeran dan menjadi petani serta filosof: "Apabila kepentingan kekuasaan itu landasannya salah, maka ia akan merupakan hasrat menguasai orang lain. Padahal orang berkuasa atau dipercaya, itu disebabkan karena ia mengenakkan orang lain .... " .

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.