Teritorium

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • SEJARAH belum berakhir, ilmu-bumi belum mati. Setidaknya tak mudah menentukan perihal ini. Akhir atau kematian tak pernah merupakan sebutir titik yang tunggal, dan tak pernah hadir secara mendadak. Peta dunia lama memang tak berlaku lagi; beberapa satuan besar (Yugoslavia, Uni Soviet, Cekoslovakia) telah bercerai hampir berai. Menyaksikan bagaimana kapital dihimpun dan diputar setiap detik melalui jalan raya saiber yang supersibuk, tak dibatasi lagi oleh bea cukai mana pun, orang pun berseru tentang "dunia tanpa tapal batas." Sekarang, setelah 11 September 2001, seakan-akan "dunia tanpa tapal batas" itu menyatakan diri dalam serial kekerasan: pelbagai negeri serentak menghadapi (organisasi? atau organisasi tanpa bentuk?) teror yang tak berpusat di satu ibu kota, tak jadi warga di satu negara. Tapi sebelum mengatakan bahwa geografi sudah selesai, dan sebuah "desa global" menggantikan peta lama, orang sebaiknya datang ke Rockefeller Plaza di tengah Manhattan, New York. Pra-11 September 2002, di sebuah petak yang kurang-lebih 12 x 20 meter persegi itu tampak terpacak deretan tiang bendera dengan bermacam-ragam corak dan warna dari pelbagai negara. Tapi segera setelah World Trade Center dihancurkan oleh dua pesawat yang dibajak, orang Amerika dengan serta-merta merasa diserang, dan bendera Bintang-dan-Garis dikibarkan sejak di celana pendek sampai dengan di gedung tinggi. Juga di petak pulau Manhattan yang terkenal itu tak ada lagi simbol yang lain selain Bintang-dan-Garis, Bintang-dan-Garis. Orang Amerika tak senang disebut "nasionalis"; mereka bangga bila disebut "patriotik". Tapi bagi saya yang terjadi sekarang adalah kebangkitan nasionalisme Amerika, yang, seperti nasionalisme di mana-mana, penuh semangat, acap kali picik, dan merisaukan. Dua pesawat Boeing milik perusahaan penerbangan Amerika ditabrakkan ke dua menara tinggi di Manhattan, dan lebih dari 3.000 orang tewas. Umumnya orang mengatakan bahwa itulah buat pertama kalinya Amerika diserang di wilayahnya sendiri. Tentu saja tak benar. Pada tahun 1993 World Trade Center sendiri pernah dicoba diledakkan oleh Mahmud Abouhalima dan kawan-kawan, dan tak bisa dilupakan adalah sebuah serangan yang membunuh 168 orang termasuk anak-anak dan melukai 500 lain di Oklahoma City, ketika gedung milik pemerintah federal dibom dengan bahan peledak hampir 2.000 kilogram. Itu pada tahun 1995. Bahwa serangan 11 September dianggap sebagai "serangan pertama terhadap Amerika di wilayahnya sendiri" saya kira berasal dari ingatan dari tahun 1941, ketika Pearl Harbor di Hawaii dibom kapal udara Kerajaan Jepang. Foto dan film tentang hari itu seakan-akan diputar kembali: ada pesawat terbang. Ada langit luas. Ada ledakan. Dan ada orang "asing"dalam arti mereka yang tak memegang paspor Amerika. Percobaan meledakkan World Trade Center pada tahun 1993, selain dianggap gagal dan hanya membunuh enam orang, didalangi oleh seorang sopir taksi New York kelahiran Mesir. Apalagi penghancuran di Oklahoma City pada tahun 1995. Timothy MacVeigh lahir di Amerika, berkulit putih, berambut cepak. Dengan kata lain, yang dipakai adalah sebuah definisi dari batasan kenasionalan yang lamadengan pekik yang lama. Dengan segera kita menyaksikan bukan sebuah Amerika Serikat yang merasa jadi satu bagian dari dunia yangseperti Sri Lanka, India, Aljazair, Pakistan, Israel, Palestina, Mesir, Nikaragua, Indonesiamenanggungkan bom dan bedil teroris berkali-kali. Yang kita saksikan justru sebuah Amerika Serikat yang menutup diri, seraya meminta dunia di luar dirinya memandangnya dengan simpati ataupun jeri. Nasionalisme dan narsisisme bertaut. Amerika Serikat, yang sejak lama melirik PBB dengan sebal, yang tak mau ikut dalam perjanjian "kenaikan suhu global", yang tak berminat dengan ide mahkamah kriminal internasional, yang sumbangannya untuk bantuan luar negeri cuma 0,1 persen dari GNP (di bawah Jepang, yang 0,35 persen, dan Prancis, yang 0,39 persen, dan apalagi Denmark, yang 1,01 persen)ya, dengan kata lain, Amerika Serikat yang bantuan luar negerinya konon sama besarnya dengan biaya yang dikeluarkan orang di negeri itu untuk anjing dan kucing piaraankini adalah Amerika Serikat yang membangun tembok benteng yang panjang. Ide untuk mengadili orang yang dianggap teroris asing (sebelum dibuktikan sebagai "teroris", tapi sudah terbukti "asing") dalam sebuah mahmilub gaya Orde Baru adalah contoh yang paling mencolok tentang diberlakukannya sebuah batas tebal nasional dalam soal keadilan. Belum lagi pengawasan terhadap mahasiswa asing, belum lagi pengetatan soal visa. Tapi Amerika Serikat tak sendirian dalam grandrung teritorial ini. Israel mengambil tanah orang Palestina, India dan Pakistan berkelahi soal Kashmir, Australia menampik orang-orang malang dari Afganistan yang terkatung-katung, dan Indonesia berusaha kalau perlu dengan darah dan besi agar Aceh dan Papua tak "melepaskan diri". Sungguh, geografi belum berakhir. Bahkan masih punya sihir. Juga bagi Usamah bin Ladin, yang dulu mengembara, kini menghilang. Dia juga bangkit karena kesadaran teritorial. Ketika Irak menyerbu Kuwait, dan Kerajaan Saudi cemas kalau Saddam Hussein melewati perbatasan, Usamah berada di dekat keluarga raja. Ketika para penguasa Saudi mengundang dan membiarkan tentara Amerika berada di Dhahran, Usamah menjauh dari istana, dan mengkritiknya. Baginya, ada yang harus ditentang ketika tentara "kafir" tinggal di "tanah suci"seakan-akan bukan hanya Mekah dan Madinah yang suci, melainkan seluruh jazirah Saudi. Sakralisasi wilayah memang bisa menggetarkan, tapi tak jarang berlebihan. Saya ingat lagu puja kepada sebuah negeri yang bernama Indonesia yang diajarkan guru ketika saya masih di sekolah dasar: "bumimu suci, angkasa kudus." Goenawan Mohamad

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kue Bulan dalam Festival Tengah Musim Gugur atau Mooncake Festival

    Festival Tengah Musim Gugur disebut juga sebagai Festival Kue Bulan atau Mooncake Festival. Simak lima fakta unik tentang kue bulan...