Pagan

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • untuk H.J.C. Princen (1926-2002) Memang sebaiknya kau pergi sekarang, Poncke. Kepergian mengandung kehilangan. Kita akan tahu sesuatu terasa hilang, dan di saat itu kita tahu ada sesuatu yang tak tergantikan. Seperti ketika kami kehilangan kau. Terutama di hari ini, Poncke, bagaimana kami akan bisa menggantikan engkau? Kaulah yang tahu makna tanah air sebagai "tanah tumpah darah". Kaulah yang memilih sebuah ibu pertiwi justru karena luka-lukanya, bukan karena kejayaannya, memilih sebuah negeri justru karena onak-durinya, bukan karena kemenangannya. Hidupmu seakan-akan sebuah penegasan, berulang kali, bahwa luka, duri, darah itu justru cerita tentang manusia yang paling pokok: manusia yang bukan cuma makhluk berpikir, tapi juga makhluk yang merasakan pedih. Bagimu, humanisme, yang merayakan keagungan manusiayang diteguhkan oleh pelbagai filsafat, ilmu, dan penaklukanpada saat yang sama perlu menyaksikan sesuatu yang lain: manusia yang ketakutan, yang lemah, menyerah, diculik, disiksa, dimaki, disembelih. Atau setidaknya yang menangis. Aku kira itulah sebabnya, Poncke, kau tak bisa menerima kekuatan yang memusnahkan makhluk yang menangis itu: kau cegah manusia jadi algojo dan domba korban. Sebab itu hidupmu adalah cerita seorang prajurit yang diperintah mengembalikan kolonialisme tapi berbalik melawan kolonialisme, seorang anggota partai politik yang tahu betapa penting tapi betapa suramnya kekuasaan, seorang yang dianiaya dan sebab itu tahu mengapa ia tak boleh menganiaya. Ya, memang sebaiknya kau pergi sekarang, Poncke. Kami akan kehilangan kau, tapi dengan itu pula kami akan lebih merasakan bahwa kini tengah terancam apa yang selamanya kau yakini: sikap menampik untuk menjunjung tinggi yang serba kuat dan berjaya, sikap yang menolak untuk mengesahkan syak wasangka dan keangkuhan. Tanpa kau, kami justru akan tahu betapa pentingnya suaramu di depan sebuah dunia yang kini ingin menyambut kuasa Romawi yang barusebuah etos yang percaya bahwa yang kuat dan angkara (bukan yang lemah dan lembut) yang akan mewarisi bumi. Dengan bangga etos ini menyebut diri "pagan"kata yang tak bisa diterjemahkan dengan istilah "kafir"karena penganjurnya tahu: Tuhan hanya membela yang lemah, sedangkan imperium Romawi membuktikan lain. Atas nama analisis yang dingin, penganjurnya pun berujar bahwa sebenarnya yang lemah tak ada gunanya, karena sebagian dunia dihuni sebuah ancamandan ancaman berarti "orang barbar". Maka yang penting bukanlah kemerdekaan, melainkan ketertiban. Dan ketertiban berarti penaklukan atas yang dianggap "liar", "biadab", "melawan". Yang superkuat akan membereskan dunia. Maka lebih baik memang kau pergi hari ini, Poncke, agar tak mendengarkan itu semua: sebuah pandangan yang kelam tapi rabun dan menakutkan tentang dunia, tapi juga sebuah pandangan yang merasa diri gagah, liat, dan berani. Hak asasi, bagi paganisme baru ini, hanya membuat bingung orang di dunia yang "barbar", dan sebab itu hak asasi manusia hanya bisa "diakui" bagi mereka yang "beradab". Ingat kejayaan Romawi dahulu kala: kekuatan itu bertahan dan berkembang karena tak hendak membiarkan makhluk di luar pintu gerbang itu berbuat sesukanya. Ingat, kata pemikir paganisme baru, dunia berada di tengah "bentrok peradaban": yang sebelah sini hebat, luhur, maju, merdeka, dan yang sebelah sana brengsek, kacau, berjiwa hamba, merosot. Dalam bentrok itu, tatkala yang "sebelah sana" mengancam, keamanan adalah segala-galanya. Maka segala kekuatan imperial yang ada harus dikerahkan untuk melenyapkannya. Kau tak akan menyaksikan paganisme baru itu, Poncke. Kau tak akan mendengarkan keganasan di balik "peradaban" itu. Tapi kau bukannya tak meninggalkan bekas. Bekasmu harapan dan kesunyian. Harapan, karena ada lagi manusia yang ternyata bisa jadi bukti bahwa tak ada imperium yang tanpa seorang pun yang menampiknya, dan tak ada keunggulan yang selama-lamanya menang: seperti kau menolak kejayaan Hitler di Eropa, kau juga tak hendak membiarkan kemenangan kolonialisme Belanda di Indonesia. Seperti kau tak hendak mengukuhkan "demokrasi terpimpin" Sukarno, kau pun menggugat kemutlakan "Orde Baru" Soeharto. Setiap kali sebuah kekuasaan besar retak sejenak oleh sebuah suara jerit, kita tahu bahwa tak ada takhta yang bisa menjajah dunia tanpa akhirnya menjajah diri sendiri. Maka sebuah jerit, sebuah protes, menunjukkan bahwa pada bayangan setiap manusia yang menaklukkan bumi, ada seorang lain yang dihina dan dilukai. Sejak itu ketenteraman adalah sesuatu yang palsu. Teman kita yang Kristen akan mengatakan, "Kita tahu apa yang kemudian terjadi, setelah Roma menyalibkan anak manusia yang tak bersalah di Palestina." Teman kita yang muslim akan berbisik, mengikuti Quran, "Membunuh seorang manusia sama halnya dengan membinasakan seluruh kemanusiaan." Maka kita akan selalu dengar jerit itu, Poncke. Dan di setiap jerit ada kesunyian. Sudah tentu imperium yang dibangun dari bukit-bukit Roma, seperti imperium yang kini hendak dibangun Tuan Bush, tak hendak mengakui kesunyian itu. Bukannya mereka tak mengenal doa: di pantheon mereka, para imperialis, bersembahyang dan bercakap ke langit tinggi. Tapi doa para penakluk bukanlah doa yang menerima kesunyiankarena kesunyian, seperti kau tahu, adalah ruang di lubuk hati di bawah, di dekat liang lahat, di mana ketidakyakinan diri menyusup dan tak kembali: ketidakyakinan yang mengharu-biru, ketika kita merasa diri "hanya manusia", daif, terbatas. Pergilah, Poncke, dan dengan itu kau temui kesunyian yang paling ujung: kau lepas, sendiri, fana, dan kami yang ditinggalkan, yang kehilangan, tahu apa artinya seseorang yang pernah hadir dan tak tergantikan. Kami menangis. Tapi setiap saat seseorang hilang, kita bersaudara. Goenawan Mohamad

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.