Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Akses terhadap Buku

image-profil

image-gnews
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Agus M. Irkham, Pegiat Literasi

Festival Taman Bacaan Masyarakat di Kendari dihelat pada 17–21 September 2014. Perayaan literasi tersebut digagas bersamaan dengan puncak peringatan Hari Aksara Internasional ke-49. Festival yang dibuka oleh Dr Wartanto, Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, itu dihadiri oleh 300 pengelola taman bacaan masyarakat (TBM) se-Indonesia.

Untuk menyemarakkan festival, diselenggarakan pula berbagai acara pendamping. Acara itu dimulai dari bedah buku, pelatihan menulis, peluncuran buku, jumpa penulis, hingga diskusi tentang masih terjadinya ketidakadilan akses masyarakat terhadap buku di wilayah Indonesia timur, seperti NTB, Maluku, Papua, dan Papua Barat.

Ketidakadilan akses buku tersebut tecermin dalam data jumlah perpustakaan, penerbit, dan TBM. Jumlah total perpustakaan di Indonesia ada 61.477. Dari jumlah tersebut, mayoritas masih berada di Pulau Jawa, yakni 36.929 perpustakaan (60 persen), kemudian Kalimatan 3.031 perpustakaan (4,9 persen) dan Maluku-Papua hanya 246 perpustakaan (0,4 persen).

Dari jumlah total penerbit di Indonesia yang menjadi anggota Ikapi sebanyak 1.121 penerbit, Jawa menempati jumlah tertinggi dengan 1.004 penerbit (89,56 persen), Sulawesi dan Kalimantan masing-masing hanya 14 penerbit (1,24 persen). Bali, NTT, dan NTB 23 penerbit (2 persen). Adapun Papua hanya memiliki 1 penerbit!

Sementara itu, jumlah TBM dari angka total 2.467 di wilayah Indonesia timur hanya ada 106 TBM, atau hanya 4 persen. Persentase terbesar (1.495 TBM) ada di Jawa.

Bagaimana benang ruwet persoalan ketidakadilan akses buku itu dapat diudar? Salah satu sebab terjadinya ketidakadilan akses buku di Indonesia timur adalah biaya pengiriman yang mahal. Karena itu, tak mengherankan jika harga buku di Kupang, misalnya, bisa 30–40 persen di atas harga aslinya. Bahkan, di Papua bisa 3–4 kali lipat dari harga semula.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Menyadari kondisi sulit tersebut, para pegiat literasi di tingkat lokal tergerak untuk mencari jalan keluar. Salah satunya adalah komunitas blogger NTT yang bernama Flobamora Community (FC). Berdasarkan tuturan Dicky, salah satu anggota FC, kepada saya saat Festival TBM kemarin, mereka menggelindingkan pro-gram Buku bagi NTT. Program ini menjadi salah satu wujud nyata Gerakan NTT Cinta Baca.

Ada dua kegiatan penting dalam program tersebut, pertama para anggota FC yang menetap di NTT mengumpulkan donasi (uang) dan titik-titik lokasi yang akan diberi buku. Kedua, para anggota FC dan sukarelawan yang kebetulan adalah mahasiswa yang sedang berkuliah di Jawa berjejaring untuk mengumpulkan bantuan buku. Buku yang terkumpul nantinya dikirim ke NTT dan biaya kirimnya dibayarkan lewat donasi yang berhasil dikumpulkan.

Melalui akun Twitter @bukubagiNTT, para sukarelawan yang sudah tersebar di Jakarta, Bandung, Yogya, Semarang, Bali, dan Surabaya menjalin komunikasi, mengajak seluruh masyarakat untuk ikut menyumbangkan buku.

Sampai September 2014, @bukubagiNTT sudah berhasil mengumpulkan ribuan eksemplar buku dan telah didistribusikan ke taman bacaan, perpustakaan sekolah, rumah baca, serta rumah belajar di Sumba, Rote Ndao, dan Flores Timur.

Langkah taktis yang dilakukan FC bisa menjadi sebuah jalan keluar alternatif untuk mengatasi ketidakadilan akses buku. Dan seyogianya langkah ini didukung tidak saja oleh masyarakat secara individual, tapi juga industri perbukuan.


Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Saran KPAI Usai Kemendikbudristek Cabut Rekomendasi Buku Sastra

16 hari lalu

Moment keakraban kakak kelas dengan adik kelas saat hari pertama masuk sekolah setelah libur lebaran di SD Sarirejo Kartini, Kota Semarang, Selasa 16 April 2024. Tradisi Halal Bi Halal di sekolah dimanfaatkan untuk saling mengakrabkan antar siswa sehingga mencegah perundungan yang biasa dilakukan kakak kepada adik kelas. Tempo/Budi Purwanto
Saran KPAI Usai Kemendikbudristek Cabut Rekomendasi Buku Sastra

Rekomendasi Kemendikbudristek soal buku sastra yang bakal masuk kurikulum dinilai tidak ramah anak. Buku itu dianggap mengandung unsur kekerasan.


Kemendikbudristek Cabut Rekomendasi Buku Sastra karena Mengandung Unsur Kekerasan

17 hari lalu

Ilustrasi Sekolah Tatap Muka atau Ilustrasi Belajar Tatap Muka. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Kemendikbudristek Cabut Rekomendasi Buku Sastra karena Mengandung Unsur Kekerasan

Kemendikbudristek berharap berbagai perangkat ini dapat mendorong dan membantu guru memilih karya sastra yang sesuai untuk mengasah minat baca.


Aktivis dan 'Geng Motor' Banten Bikin Gerakan Motor Literasi  

13 Mei 2017

Seratus anggota organisasi Motor Literasi akan mendonasikan 2000 buku ke Banten Selatan pada 13-14 Mei 2017. Firman Hadiansyah
Aktivis dan 'Geng Motor' Banten Bikin Gerakan Motor Literasi  

Aktivis literasi dan komunitas motor Banten bikin gerakan
Motor Literasi.


Jokowi Upayakan Pengiriman Buku ke Perbatasan Gratis  

2 Mei 2017

Presiden Joko Widodo berpidato saat kunjungan kerja di Taman Pandawa, Kelcamatan Cicendo, Bandung, Jawa Barat, 12 April 2017. Dalam Kunjungan kerja tersebut Jokowi membagikan Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar, Pemberian Sertifikat Lahan kepada masyarakat Kota Bandung. TEMPO/Prima Mulia
Jokowi Upayakan Pengiriman Buku ke Perbatasan Gratis  

Mengatasi persoalan yang dihadapi pengiat literasi di
pedalaman, Jokowi akan menggratiskan ongkos pengiriman buku
ke daerah perbatasan.


Kemendikbud Terima 8 Juta Buku Bacaan dari Amerika Serikat  

24 Mei 2016

Seorang siswa membaca buku di Taman Baca di Kolong Flyover Balaraja, Kabupaten Tangerang, Banten, 7 Maret 2016. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat
Kemendikbud Terima 8 Juta Buku Bacaan dari Amerika Serikat  

USAID Indonesia yang diwakili Wakil Duta Besar Amerika Serikat Brian McFeeters memberikan 600 ribu buku untuk tujuh kabupaten/kota di Provinsi Banten.


Alasan Ahok Mengapa Harus Murka di Jakarta Book Fair  

27 Juli 2015

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), menyampaikan kata sambutan dalam  Pembukaan Jakarta Fair Kemayoran (JFK) 2015 di Arena JIExpo Kemayoran, Jakarta, 29 Mei 2015.  JFK 2015 kali ini berlangsung selama 38 hari, mulai 29 Mei hingga 5 Juli 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto
Alasan Ahok Mengapa Harus Murka di Jakarta Book Fair  

Ahok meluapkan kekecewaannya lantaran mendapati harga perlengkapan sekolah yang dijual di pameran itu ternyata lebih mahal dibanding harga pasar.


Gowa Bakal Hapus Mata Pelajaran Baca, Tulis, dan Hitung di SD

18 Juni 2015

TEMPO/Budi Purwanto
Gowa Bakal Hapus Mata Pelajaran Baca, Tulis, dan Hitung di SD

Menurut Ichsan, metode bermain sambil belajar dapat membuka komputer atau kerangka otak anak.


Ini Syarat Jalur Prestasi Penerimaan Siswa di Bandung

5 Juni 2015

Perwakilan pelajar dari beberapa sekolah membacakan ikrar untuk memupuk rasa perdamaian antar pelajar, menjaga batik di Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, pada peringatan Hari Batik Nasional, (2/10). TEMPO/Prima Mulia
Ini Syarat Jalur Prestasi Penerimaan Siswa di Bandung

Peserta Olimpiade Sains Nasional dan Internasional lewat jalur prestasi.


Buku Pelecehan Sahabat Nabi, Menteri Agama: Polisi Harus Usut

30 Maret 2015

Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin. ANTARA/Andika Wahyu
Buku Pelecehan Sahabat Nabi, Menteri Agama: Polisi Harus Usut

Buku itu dikecam lantaran memuat silsilah keluarga salah satu Khulafaur Rasyidin, Umar bin Khattab, dengan gambar babi.


Buku Pelajaran Agama Rawan Disusupi Paham ISIS

23 Maret 2015

Ilustrasi buku. Sxc.hu
Buku Pelajaran Agama Rawan Disusupi Paham ISIS

"Ajaran bunuh-membunuh telah dipraktekkan oleh ISIS. Mengajarkan buku itu secara tidak langsung menjadikan anak didik kader ISIS," kata Aan Anshori.