Batas

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pada suatu hari nanti, hotel itu akan pergi. Atau mungkin tidak. Apa pun yang akan terjadi, ia tetap sebuah tanda dari sebuah suasana yang tak permanen: sebuah keadaan transit, dalam wujud sebuah ruang mewah yang terapung-apung di Pelabuhan Dili sejak ribuan orang PBB datang dari segala penjuru ke Timor Timur, dengan sebuah tugas mulia, yang bersifat darurat dan bergaji memukau. Central Maritime, hotel berbintang empat berwujud kapal itu?dengan 133 kamar, semuanya disepersejuk oleh pengatur suhu, dengan empat buah bar dan restoran yang masing-masing bisa menampung 40 sampai 100 orang lebih, dengan stok anggur terbaik yang tak pernah tandas, daging steak yang empuk dan makanan Thai yang sedap, dengan kolam renang, ruang mandi sauna, dan salon kecantikan?memang seperti sebuah intermezo yang aneh dalam sejarah dan geografi Timor Timur. Senja 30 Agustus itu saya naik ke sana, melalui sebuah tangga kapal yang panjang. Sejumlah gadis menyambut sebagai resepsionis, dengan bahasa Inggris beraksen Bangkok. Di dek atas, tampak petugas Unicef sedang beresepsi. Di dekat buritan, di bagian luar Restoran Oceana yang bisa menampung 160 tamu, sejumlah VIP dari Amerika sedang bersantap, termasuk seorang wakil menteri luar negeri dan seorang anggota Kongres. Di Submarine Pub, tampak beberapa petugas UNTAET, dengan 94 dolar uang saku per hari, minum bir atau vodka-tonik, mendengarkan musik dan bercanda. Dari dek atas kita bisa memandang ke laut lepas, yang beberapa jam yang lalu tampak biru. Atau ke arah bukit-bukit di belakang kota yang kini menghitam kehilangan sinar; di kejauhan, di salah satu punuknya, tampak petak hutan yang sedang terbakar, dengan api yang seakan-akan emas berpendar yang terpahat di gigir gelap. Udara tak panas lagi. Matahari, yang sejam yang lalu tampak merah bulat terpajang di atas pesisir berliku yang panjang, kosong, dan purba, sudah tak lagi hadir. Siang dan Kota Dili?debu dan puing yang tersisa dari bumi hangus dan pembunuhan, trauma dari kekerasan dua tahun yang lalu, ketakutan dari sejumlah tahun sebelumnya?seakan-akan menjauh. Di mana gerangan sejarah bersembunyi, dari anjungan ini? Sejarah sedang berganti. Menjelang akhir Agustus 2001 itu rakyat Timor Loro Sa?e memilih 88 wakilnya untuk membentuk lembaga konstitusi, dan sebuah republik akan lahir. Dari atas dek Central Maritime, transisi itu seakan-akan ditandai dengan sebuah pesta: resepsi pejabat PBB, sipil atau militer, yang menikmati hari-hari terakhir masa dinas mereka yang berbahagia untuk menolong 700 ribu rakyat yang malang di wilayah itu sambil menerima gaji $ 5.000 sebulan. Tapi pesta yang lebih penting, lebih berarti, ada di sudut-sudut jalan kota dan pelosok dusun, ketika penduduk pulau yang tampan dan ramah itu berbondong-bondong berkampanye dan memilih, dengan kegairahan yang merata. Tapi siapa pun tahu setiap pesta akan usai. Timor Loro Sa?e akan jadi sebuah negara-bangsa tersendiri. PBB tak akan hadir penuh lagi buat mengurusnya. Sebentar lagi tanah ini?seperti kapal itu?akan kehilangan tamu, dan mungkin Central Maritime akan angkat sauh, mungkin ke sebuah pulau lain yang harus diselamatkan. Mungkin ini awal dari antusiasme baru. Tapi mau tak mau ini satu permulaan dari sebuah perjalanan yang lazim, dan mungkin rutin, dari sebuah republik, di mana tak ada lagi suasana transit, karena ia mau tak mau harus mengasumsikan diri sebagai sebuah wujud yang permanen. Setelah ini: kekuasaan yang normal, dan hidup yang berliku-liku. Kekuasaan, seperti ketakaburan, selalu menorehkan rasa sedih. Di Timor Timur ia menggoreskan sebuah luka panjang yang dalam. Berabad-abad yang lalu Portugal datang dari ribuan mil laut jauhnya, dengan logika imperialisme kuno yang menggunakan bedil, bui dan Bijbel dan mencampur Tuhan dengan rempah-rempah. Di paruh kedua abad ke-20, Indonesia datang mengambilalihnya dari jarak dekat, mungkin untuk meniru India yang merebut bekas jajahan Portugal lain di Goa, mungkin untuk kebanggaan militer dan kepuasan ahli-ahli strategi Perang Dingin, atau mungkin hanya untuk membuat peluang korupsi besar bagi siapa saja yang mengurus logistik tentara dan operasi intelijen?ya, siapa tahu? Kemudian Indonesia pergi. Bersama dengan itu, bagian pulau Timor itu hendak dihancurkan dalam sebuah kebrutalan yang kemudian terkenal di seluruh dunia. Dan PBB pun datang dan membentuk UNTAET, dan pasukan pelbagai negara berpatroli, berjaga, dan bendera pelbagai negara berkibar sebagai penolong (dan tentu saja Sang Merah Putih tak ada di antaranya). Parade juru selamat ini juga sebuah kekuasaan yang besar, mungkin?seperti imperialisme Portugis dan aneksasi Indonesia?terlalu besar buat penduduk yang tak sampai sejuta orang itu. Para pemimpin Timor Loro Sa?e tampak menyadari itu: sebuah negeri yang pernah dilanda pelbagai tangan dan kaki raksasa lebih baik memilih sistem kekuasaan yang lebih rendah-hati. Hidup selalu punya kelok-keloknya sendiri, yang sering diabaikan oleh mereka yang merasa pintar di meja kementerian. ?Saya lebih menyukai hasil yang lebih berimbang di antara para pemenang pemilihan ini,? kata Xanana, beberapa hari sebelum kotak suara dihitung. Ada satu pemenang, tapi tak ada mayoritas yang berlebihan?dan memang itulah yang kemudian terbukti, ketika Partai Fretilin, yang membanggakan akan mendapat angka 80 persen, ternyata tak mencapai mayoritas 60 persen. Di kantor Persatuan Veteran tempat ia memilih basisnya, dengan celana jins tua dan sepatu sandal yang lekang, dengan suara halus yang berhati-hati?tak berbeda dari dulu, ketika saya menemuinya di Penjara Cipinang, Jakarta, beberapa tahun yang lalu?Xanana, calon presiden ini, sadar dan merasakan benar bahwa kearifan adalah sesuatu yang datang dari kesadaran akan batas. Dan dari sebuah negeri yang kecil dan miskin, tapi dengan sejarah yang bisa dibanggakan, kesadaran itu memang bisa terasa tulus, bisa terasa nyaring. Goenawan Mohamad

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.