Obituari Bakdi Soemanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Heri Priyatmoko, alumnus Pascasarjana Sejarah FIB UGM

    Dua tahun silam, saya bolak-balik bersemuka dengan anak priayi itu di kantornya yang tak terlalu jembar. Selain sebagai narasumber untuk keperluan tesis, lelaki keturunan darah biru ini saya mintai kesediaannya menyikapi dengan kritis draf buku saya mengenai sketsa Solo tempo doeloe. Pria sepuh tersebut adalah Bakdi Soemanto, guru besar Fakultas Ilmu Budaya UGM, yang baru saja wafat pada Sabtu (11 Oktober 2014).

    Dosen yang diganjar penghargaan Tokoh Teater Tahun 2013 oleh Federasi Teater Indonesia ini lahir serta tumbuh besar di Kota Solo. Usia boleh senja, namun memorinya masih rapi mengisahkan sejarah kota dan budaya Jawa periode pasca-kemerdekaan. Ayahnya bernama Raden Mas Soemanto, seorang priayi yang bermukim di Kampung Kratonan. Kratonan adalah tempat tinggal abdi dalem pembuat pakaian yang dikenakan raja dan keluarganya.

    Lelaki kelahiran 29 Oktober 1941 ini punya kemiripan dengan Umar Kayam. Mereka berdua pernah gedhe di Kota Bengawan dan sama-sama memahatkan kenangannya ke dalam tulisan ringan di kolom Kedaulatan Rakyat. Bercokol dan bekerja di Yogyakarta tidak memutus ikatan batin mereka dengan Solo. Umur makin menua, keinginan bernostalgia malah kian membuncah. Termasuk upaya memanggil pulang kearifan masa lalu dan pesan kehidupan yang diajarkan oleh orang tuanya. Nasihat dan mutiara Jawa yang berserakan dalam karangannya bisa diunduh untuk suluh generasi sekarang.

    Sebagai contoh, Bakdi lincah bercerita pentingnya tradisi nyadran. Sedari bocah, ia bersama keluarga besar Trah Tinalan dari garis Keraton Kasunanan Surakarta menjalankan ritual tersebut menjelang bulan Siyam (puasa). Seluruh anggota keluarga besar berjongkok dan duduk bersila di depan makam setiap leluhur. Di samping mengenang setumpuk jasa almarhum, mereka mendoakan supaya yang telah meninggal diampuni Gusti Allah. Sadar genealogi dan menjaga harmoni keluarga trah merupakan hal pokok bagi manusia Jawa.

    Gara-gara soal kursi, ibunya pernah mencak-mencak. Dalam dunia bangsawan, kursi bukan sekadar tempat untuk menaruh pantat, tapi juga menjadi simbol status sosial dan kehormatan suatu rumah tangga. Dikisahkan, para sahabat seniman yang bermain ke rumah Bakdi lebih suka duduk dan rebahan di tikar. Ibunya, yang datang dari Solo dan memergoki hal itu, langsung marah. Dia mengatakan sesuatu yang dalam bahasa Indonesianya begini: "Kamu ternyata tidak bisa menjaga kehormatan. Beli kursi sana! Kalau tidak punya uang, ibu mau belikan. Bagaimana ini, rumah tanpa kursi tamu. Bikin malu. Jangan lupa, bapakmu itu seorang priayi. Kamu itu anak seorang darah biru sungguhan."

    Keturunan priayi dan menjadi intelektual terkemuka, ternyata tak membuat congkak peneliti drama karya Samuel Becket, Waiting for Godot, ini. Kesantunan, cara pandang, atau sikap Bakdi terpengaruhi oleh sejarawan Sartono Kartodirdjo, budayawan Umar Kayam, dan penyair W.S. Rendra. Dalam banyak tulisan ringannya, tiga tokoh mumpuni itu disebut-sebut oleh Bakdi.

    Tiga figur di atas semasa hidup dikenal sebagai orang-orang yang sederhana, cinta keadilan, peduli pada wong cilik, dan masih banyak lagi sifat yang mulia. Siapa sangka, Bakdi Soemanto kemarin telah menyusul mereka di alam keabadian. Barangkali di sana mereka sudah bercakap-cakap.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kue Bulan dalam Festival Tengah Musim Gugur atau Mooncake Festival

    Festival Tengah Musim Gugur disebut juga sebagai Festival Kue Bulan atau Mooncake Festival. Simak lima fakta unik tentang kue bulan...