Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Teater Jokowi

image-profil

image-gnews
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Amarzan Loebis, amarzan@tempo.co.id

Ketika mendengar Presiden Joko Widodo akan mengumumkan struktur dan personalia kabinetnya di Tanjung Priok, Rabu, 22 Oktober lalu, saya segera berpikir: anak ini mulai kebablasan. Dia mulai kehilangan kemampuan memahami pembabakan pencitraannya, dari kandidat Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibu Kota hingga ke takhta nomor satu di negeri ini.

Secara alamiah, setiap manusia mempunyai motivasi untuk membangun citranya. Secara teoretis, setiap manusia sesungguhnya tidak ingin ditanggapi sebagaimana dirinya sendiri, tetapi "sebagaimana ia ingin ditanggapi". Psikologi "looking up" ini berlaku universal dan permanen, tanpa kecuali. Perbedaannya hanya terletak dalam satu hal: disadari atau tidak.

Jokowi, sepanjang yang saya amati, menjalaninya dengan sadar. "Pencitraan", yang sering dilekatkan kepada (mantan) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sesungguhnya juga dikelola dengan bagus oleh Jokowi dalam bentuk berbeda. Saya menyebutnya bentuk "teaterisasi", yaitu menciptakan panggung-panggung yang "tidak biasa", "orisinal", dan "unik"-termasuk blusukan itu.

Khalayak sasarannya, yang kemudian berubah menjadi pemilih loyal dalam pemilihan yang lalu, memang terpesona, terpana, terpanggil, atau paling tidak terhibur. Puncak keterpesonaan itu adalah Pesta Rakyat beberapa saat setelah pelantikan, ketika ratusan ribu orang mengantar sang Presiden dan wakilnya ke Istana Negara. Sepanjang sejarah Republik, belum ada peristiwa yang menandingi "teater" hari itu.

Setelah itu, semestinya Jokowi sadar bahwa ia sudah pindah ke ranah yang lain. Dia sudah menjadi Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, yang terikat pada sejumlah tata krama dan tata protokoler yang hampir berlaku sama di semua negara modern. Mengumumkan struktur dan personalia kabinet di Tanjung Priok, misalnya, memang bisa disebut "membuat sejarah". Belum ada satu pun presiden di seluruh dunia yang pernah mengumumkan kabinetnya di Tanjung Priok.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pertanyaannya sederhana: apakah "teater" itu memang urgen? Dalam kondisi batal saja, event tak jadi itu menghabiskan biaya sekitar Rp 500 juta. Jika dibelikan gerobak bakso-yang melekat kepada komunitas profesi yang pertama kali disebut Jokowi dalam pidatonya sebagai presiden-uang itu bisa dibelikan sekitar 200 gerobak bakso.

Panggung Jokowi sekarang adalah panggung kenegaraan. Sebaiknya ia belajar banyak dari wakilnya, Jusuf Kalla, pengusaha dan negarawan berpengalaman yang selalu tenang, tidak grasa-grusu, tidak gumunan, tidak kagetan, dan karena itu tidak over acting. Ucu-demikian Kalla biasa disapa-memang bukan figur yang bergelora, yang berapi-api, yang mudah dibaca. Hanya satu hal yang bisa dipastikan dari dia, yaitu menjaga stabilitas kumisnya yang-kalau meminjam ungkapan lama-tak ubahnya semut beriring.

Peneliti Burhanuddin Muhtadi benar belaka ketika mengatakan sebaiknya Jokowi mengurangi berbicara banyak. Sebaiknya ia memulai pekerjaannya sebagaimana ia menjanjikan hal yang akan dilakoni pada masa kepresidenannya. Ketertundaan pengumuman kabinet, bagaimanapun, sudah berhasil menciptakan bahan guyonan yang tidak menguntungkan baginya.

Filosofi pembangunan yang "berpaling ke samudra" memang baik-baik saja. Tapi itu tidak berarti bahwa semua acara kenegaraan harus dilakukan di Tanjung Priok, di Bawean, di Kenjeran, atau di Cilamaya. Bayangkan jika pengumuman kabinet itu jadi diselenggarakan di Tanjung Priok. Berapa ratus-bahkan ribu-petugas keamanan yang harus dikerahkan untuk mensterilkan paling tidak sekujur Jakarta Utara? Berapa gerobak bakso yang bisa dibeli sebagai pengganti "teater" pencitraan itu?


Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Harta Kekayaan Megawati, SBY, dan Jokowi Saat Akhir Menjabat Presiden RI, Siapa Paling Tajir?

30 Maret 2024

Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati dan Jokowi. Instagram, dan ANTARA
Harta Kekayaan Megawati, SBY, dan Jokowi Saat Akhir Menjabat Presiden RI, Siapa Paling Tajir?

Harta kekayaan Jokowi Rp 95,8 miliar selama menjabat. Bandingkan dengan harta kekayaan presiden sebelumnya, Megawati dan SBY. Ini paling tajir.


Pendukung Bersorak Setiap Prabowo Sebut Nama Titiek Soeharto, Ini Profil Anak Keempat Presiden RI ke-2

18 Februari 2024

Titiek Soeharto. TEMPO/Nickmatulhuda
Pendukung Bersorak Setiap Prabowo Sebut Nama Titiek Soeharto, Ini Profil Anak Keempat Presiden RI ke-2

Setiap kali Prabowo menyebut nama Titiek Soeharto, pendukungnya bersorak. Berikut profil pemilik nama Siti Hediato Hariyadi.


Masa-masa Akhir Jabatan Presiden RI dari Sukarno hingga Jokowi, Beberapa Berakhir Tragis

13 Februari 2024

Presiden Joko Widodo berbincang dengan warga penerima manfaat pada acara Penyaluran Bantuan Pangan Cadangan Beras Pemerintah di Gudang Bulog, Telukan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis 1 Februari 2024. Dalam kesempatan tersebut Presiden memastikan Pemerintah akan menyalurkan bantuan 10 kilogram beras yang akan dibagikan hingga bulan Juni kepada 22 juta masyarakat Penerima Bantuan Pangan (PBP) di seluruh Indonesia. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha
Masa-masa Akhir Jabatan Presiden RI dari Sukarno hingga Jokowi, Beberapa Berakhir Tragis

Tujuh Presiden RI miliki cerita pada akhir masa jabatannya. Sukarno, Soeharto, BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, dan Jokowi punya takdirnya.


Sejak Kapan Megawati Menjadi Ketua Umum PDIP?

11 Januari 2024

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato politik dalam perayaan HUT ke-51 PDI Perjuangan di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta, Rabu, 10 Januari 2024. PDI Perjuangan menggelar perayaan HUT ke-51 dengan mengusung tema 'Satyam Eva Jayate' alias kebenaran pasti menang yang dilaksanakan secara sederhana. TEMPO/M Taufan Rengganis
Sejak Kapan Megawati Menjadi Ketua Umum PDIP?

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bisa disebut sebagai ketua umum partai terlama di negeri ini. Sejak kapan?


Mengenang Gus Dur: Berikut Profil, Pemikiran, hingga Prosesi Pemakamannya

1 Januari 2024

Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. dok. TEMPO
Mengenang Gus Dur: Berikut Profil, Pemikiran, hingga Prosesi Pemakamannya

Genap 14 tahun kepergian Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Berikut kilas balik profil dan perjalanannya sebagai ulama dan presiden ke-4 RI.


Catatan 10 Tahun Terakhir Pertemuan Jokowi - SBY, Terakhir di Istana Bogor

5 Oktober 2023

07-nas-SBY-Jokowi
Catatan 10 Tahun Terakhir Pertemuan Jokowi - SBY, Terakhir di Istana Bogor

Pada 2 Oktober 2023, Presiden Jokowi bertemu Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ini catatan pertemuan mereka.


Megawati Haqul Yakin Ganjar Jadi Presiden RI ke-8, Jokowi: Habis Dilantik Besoknya Langsung...

2 Oktober 2023

Bakal Calon Presiden PDIP Ganjar Pranowo, Presiden Joko Widodo atau Jokowi, dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputeri saat mengjadiri Rapat Kerja Nasional atau Rakernas IV PDIP di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Jumat, 29 September 2023. TEMPO/Han Revanda Putra
Megawati Haqul Yakin Ganjar Jadi Presiden RI ke-8, Jokowi: Habis Dilantik Besoknya Langsung...

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Presiden Jokowi meyakini Ganjar Pranowo menang Pemilu 2024 dan menjadi Presiden RI ke-8.


Mr Assaat Gelar Datuk Mudo 9 Bulan Pernah Jadi Presiden RI, Tandatangannya Buat UGM Berdiri

19 September 2023

Mr. Assaat gelar Datuk Mudo adalah seorang politisi dan pejuang kemerdekaan Indonesia. wikipedia.org
Mr Assaat Gelar Datuk Mudo 9 Bulan Pernah Jadi Presiden RI, Tandatangannya Buat UGM Berdiri

Mr Assaat pernah menjadi acting Presiden RI selama 9 bulan pada 1949-1950. Tanpa kepemimpinannya, Indonesia mungkin saja direbut kembali Belanda.


74 Tahun SBY: Presiden Pertama Pemilu Langsung, Pernah Jadi Tokoh Berbahasa Lisan Terbaik

9 September 2023

Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY menunjukkan surat suara saat menggunakan hak suaranya dalam Pemilu serentak 2019, di salah satu TPS, di Singapura, Kamis, 14 April 2019. SBY berada di Singapura untuk mendampingi istrinya yang sedang dirawat. ANTARA/Anung
74 Tahun SBY: Presiden Pertama Pemilu Langsung, Pernah Jadi Tokoh Berbahasa Lisan Terbaik

Hari ini, 9 September 1949 Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY lahir di Pacitan, Jawa Timur. SBY merupakan Presiden Indonesia ke-6 selama 2 periode.


2 Presiden Indonesia yang Kerap Dilupakan: Sjafruddin Prawiranegara dan Mr Assaat

11 Januari 2023

Sjafruddin Prawiranegara. Foto: life.com
2 Presiden Indonesia yang Kerap Dilupakan: Sjafruddin Prawiranegara dan Mr Assaat

Sjafruddin Prawiranegara dan Mr Assaat adalah dua sosok yang pernag menjadu Presiden Indonesia. Sayang peran keduanya kerap dilupakan