Demam Bola dan Prestasi Kita

Majalah Tempo

Enak dibaca dan perlu.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Demam Piala Dunia datang lagi dan menggetarkan sudut-sudut pelosok bumi. Dunia berpesta, dan Indonesia selalu hanya menjadi penonton. Hajatan besar empat tahun sekali ini belum bisa menjadi vitamin untuk meningkatkan prestasi sepak bola Indonesia. Tim nasional kita tetap saja kelas paria.

    Daftar peringkat tim versi Asosiasi Sepak bola Dunia menjadi bukti telak soal itu. Dari tahun ke tahun, peringkat tim sepak bola Indonesia terus melorot. Satu dekade lalu, Indonesia masih masuk jajaran 100 tim terbaik dunia dengan duduk di peringkat ke-91. Kini, kita terlempar ke peringkat ke-157 dunia. Di Asia Tenggara sendiri, prestasi Indonesia ada di nomor buncit di bawah peringkat Vietnam (123), Thailand (149), Malaysia (153), dan Singapura (155).

    Sudah banyak janji yang ditebar oleh para pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia ataupun Menteri Pemuda dan Olahraga. Namun tim Indonesia sulit bangkit. Bolak-balik kali ganti pengurus PSSI dan ganti menteri, prestasi sepak bola Indonesia tetap terkubur. Kita tak bisa mengatasi faktor yang menghambat perkembangan sepak bola, seperti jumlah lapangan yang terus tergerus. Kompetisi usia dini juga minim.

    Yang bisa dibanggakan hanyalah sejarah. Indonesia dulu pernah masuk laga Piala Dunia 1938. Tim Indonesia saat itu bahkan menjadi wakil Asia pertama dalam Piala Dunia. Kini, mencetak prestasi di level Asia Tenggara pun Indonesia kesulitan setengah mati. Terakhir kali Indonesia meraih medali emas sepak bola adalah pada SEA Games 1987.

    Banyak perubahan radikal harus dilakukan agar Indonesia bisa menembus "divisi utama" sepak bola internasional. Tak perlu muluk-muluk dulu pasang target masuk dalam laga Piala Dunia. Untuk tahap awal, Indonesia harus bisa menembus papan atas Asia Tenggara, lalu naik kelas ke level Asia.

    PSSI dan Kementerian Olahraga nyaris tak bisa diharapkan. Organisasi itu mandek, terjebak rutinitas, dan dilanda konflik internal. Mereka juga gagal membuat kompetisi lokal yang menjadi saringan alami bagi lahirnya pemain berbakat. Alih-alih melahirkan turnamen yang bagus, Menteri Pemuda Olahraga Roy Suryo, misalnya, malah bermimpi ingin memindahkan Piala Dunia 2022 di Qatar ke Indonesia.

    Sepak bola Indonesia butuh terobosan seperti yang dilakukan pelatih tim nasional usia di bawah 19 tahun, Indra Sjafri. Tanpa bantuan PSSI, dia blusukan ke pelosok-pelosok mencari talenta terbaik, dan terbukti bermain gemilang. Tahun lalu, tim asuhannya menundukkan Korea Selatan, juara bertahan dan pemegang 12 kali gelar Piala Asia. Dalam laga persahabatan Mei lalu, tim ini juga bermain imbang 1-1 dan menang 3-0 atas finalis Piala Asia U-19, Yaman.

    "Revolusi" ala Indra Sjafri itulah yang perlu dilakukan secara konsisten. Langkah ini harus diteruskan dengan memburu pemain berbakat dengan usia yang lebih muda, di bawah 13 tahun. Hanya pada tunas-tunas muda kita bisa mengharap prestasi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.