Lamijah

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lamijah datang dari masyarakat muslim di Kosovo. Perempuan ini terusir dari tanah kelahirannya sebagaimana ribuan orang sebangsanya hari ini di Yugoslavia. Tapi ia punya akhir yang tak lazim: ia datang dan berumah di sebuah komune Yahudi di Israel utara. Cerita ini bukanlah sekadar bagian dari kisah dramatis di sudut-sudut Balkan. Juga bukan cuma sebuah berita menarik: "Israel menampung pengungsi muslim". Kisah Lamijah mengungkapkan satu hal yang merundung abad ke-20: selalu ada yang bisa mengerikan dalam hubungan kita dengan sejarah, tapi pada saat yang sama, selalu ada yang membuat masa lalu berharga justru dalam kerapuhan manusia. Tanggal 1 April itu, Lamijah dan ribuan orang meninggalkan Pristina, ibu kota Kosovo. Orang-orang Serbia menggusur mereka. Lamjiah dan suaminya, Vllaznim Jaha, harus naik kereta api dengan penumpang yang berjejal. Mereka terpaksa masuk lewat jendela, tak tahu persis perjalanan akan berakhir di mana. Dua tas mereka hilang, juga barang-barang kenangan: foto keluarga, buku harian anak, potret ayah. Tapi seakan-akan masa lalu tak bisa 100 persen dihancurkan, ada yang masih tertinggal. Sebuah sertifikat. Di sana disebut nama "Dervis Korkut". Nama ayah Lamijah. Dervis adalah kurator museum Sarajewo tahun 1940-an. Ia pakar sejarah etnis Bosnia-Herzegovina. Tapi yang luar biasa bukan itu. Ketika Sarajevo diduduki Jerman, sebuah pemerintahan boneka pun didirikan, dan orang Yahudi diburu. Di tengah teror itu Dervis Korkut melakukan sesuatu yang nekat. Ia menyembunyikan beberapa orang Yahudi. Di rumahnya bahkan ia simpan sejilid Haggadah dari abad ke-14. Kitab Yahudi itu selamat. Juga Mira Bakovic. Gadis ini tinggal selama setengah tahun dengan keluarga Korkut. Dervis dan istrinya, Servet, menampungnya ketika Mira diam-diam masuk kembali ke Kota Sarajevo dari pedalaman, tempat ia aktif dalam perlawanan anti-Nazi. Mira diberi nama "Amira". Jika ada perwira Jerman bertamu—karena Dervis Korkut seorang yang terpandang—Mira disamarkan sebagai pembantu rumah tangga yang memakai jilbab. Keluarga Korkut adalah keluarga muslim, dan mereka bisa mengatur penyamaran dengan cara itu. Lalu Jerman kalah, juga di Sarajevo. Perang berhenti. Yugoslavia berdiri, merdeka, dan selama setengah abad hidup seakan kembali normal. Cerita tentang manusia yang diusir hanya karena sebuah asal-usul etnis seakan-akan cuma bagian dari zaman silam yang gila. Mira pindah ke Israel. Dervis tak pernah menceritakan fragmen masa lalu itu kepada anaknya, bahkan sampai ia meninggal pada 1968. Tapi orang-orang yang diselamatkannya tetap ingat—horor tahun 40-an itu sangat membekas dalam hidup mereka—dan sebab itu Dervis mendapatkan sebuah tanda penghargaan dari Yad Vashem, sebuah lembaga di Yerusalem, untuk mengenang pembantaian Yahudi oleh Nazi. Dervis, seorang muslim nun di Yugoslavia, memperoleh sepucuk sertifikat yang juga diberikan kepada sejumlah orang yang pernah melakukan apa yang ia lakukan: mempertaruhkan nyawa sendiri untuk menyelamatkan nyawa orang Yahudi dari pembunuhan, seperti Schlinder dalam cerita Schlinder's List. Sertifikat itulah yang menolong Lamijah di umurnya yang ke-40. Sebenarnya ia dan suaminya tak bermaksud ke Israel. Hari itu mereka diturunkan di perbatasan Macedonia. Gelap sudah sampai ke tanah, dan selama 11 jam mereka harus tinggal di sebuah wilayah tak bertuan sebelum berjalan kaki ke pos penjaga tapal batas. Hari itu pikiran mereka adalah ke Swedia. Tapi pemerintah Swedia tak ingin menerima Jaha suami-istri. Tak tahu lagi harus ke mana, di Skopje, ibu kota Macedonia, Lamijah menunjukkan sertifikat Yad Vashem kepada ketua perhimpunan masyarakat Yahudi di kota itu. Ia sebenarnya tak tahu persis apa arti dokumen itu. Tapi rupanya dengan itulah ia dan Vllaznim dapat masuk ke Israel. Di Bandara Ben-Gurion, 12 April, ketika mereka tiba, seseorang datang menyambut: Davor Bakovic. Laki-laki berumur 50 tahun itu adalah anak Mira Bakovic, yang meninggal dalam umur 76 tahun, dan selalu bercerita bagaimana keluarga Korkut menyelamatkan nyawanya di Sarajevo. "Saya merasa seakan-akan seorang saudara kandung muncul dari tempat yang jauh," kata Davor. "Lingkaran hidup saya bertaut dengan Lamijah…." Lamijah dan Vllaznim diberi tempat di sebuah kibbutz di Maagan Mikhael, di wisma tamu dari mana tampak Laut Tengah yang biru. Perdana Menteri Natanyahu sendiri menyambut mereka dan mengatakan bahwa menurut undang-undang Israel, jasa mereka memungkinkan mereka jadi warga negara. Mereka dipersatukan dengan kedua anak mereka, Fitore dan Fatos, yang sudah lebih dulu diselundupkan ke Hungaria—dengan menggunakan nama Serbia—sesaat sebelum pesawat NATO menjatuhkan bom untuk menghentikan teror orang Serbia terhadap minoritas muslim di Kosovo. Lamijah di Israel: kisah ini memang seakan seutas garis yang semula tak diketahui ke mana akan berakhir tapi ternyata membentuk sesuatu yang bulat: teror hari ini bertemu dengan teror 50 tahun yang lalu, korban bersua dengan korban…. Tapi benarkah akhirnya yang kita temui sebuah lingkaran, di mana awal secara pas bertemu dengan akhir, dan happy ending tiba, dan orang tersenyum di depan lazuardi? Saya ragu. Bukankah sebenarnya kita tak pernah persis tahu di mana awal dan akhir itu? Ketika awal dan akhir sejarah dipatok dengan tonggak yang mutlak, yang totaliter pun lahir—karena dalam sebuah bentuk yang rapi, apa saja yang dianggap mengganggu harus diberantas. Itulah yang terjadi di Yugoslavia kini: kekejaman untuk sebuah bulatan. Di Kafe Mimosa di Pristina, orang selalu bercakap tentang masa silam dan angin apa yang bertiup. Bagi Si Serbia, Kosovo adalah "jantung Serbia", karena mereka sudah di sana sejak 1.000 tahun yang lalu. Bagi Si Muslim Albania, mereka anak cucu suku Illyria, yang sudah menetap 1.000 tahun lebih dulu. Mempersaingkan masa silam, membersihkan masa kini, menarik garis, meneror, menendang pergi—sejarah mungkin sejenis obat perangsang. Tapi masa silam Lamijah adalah satu titik di sebuah faal yang sebenarnya tak terduga. Sejarah tak menjaminnya, ia seakan varian yang tak pasti, sesuatu yang beda dan rapuh, sebuah kebetulan di antara sejuta kemungkinan. Justru itu ia membuat kita tak semena-mena tentang manusia. Justru itu kita kagum, bangga, bersyukur, karena ada seorang Dervis Korkut, pada zaman yang gila. Goenawan Mohamad

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kue Bulan dalam Festival Tengah Musim Gugur atau Mooncake Festival

    Festival Tengah Musim Gugur disebut juga sebagai Festival Kue Bulan atau Mooncake Festival. Simak lima fakta unik tentang kue bulan...