Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Rezim Nilai Tukar dan Rupiah

image-profil

image-gnews
Iklan

Andi Irawan, pengamat ekonomi Universitas Bengkulu

Empat kali rupiah mengalami depresiasi tajam selama hampir dua dekade terakhir, yang dipicu oleh transmisi guncangan ekonomi eksternal. Pertama, pada pertengahan 1997, dimulai dari kolapsnya ekonomi Thailand yang menyebabkan kerentanan ekonomi kawasan. Selanjutnya, hal ini berdampak hilangnya kepercayaan terhadap prospek ASEAN sebagai macan Asia. Hal ini kemudian berimplikasi pada capital outflow yang masif dari kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Kedua, pada 2008. Berawal dari kebangkrutan lembaga keuangan terbesar keempat AS, Lehman Brothers, yang mengakibatkan pasar Wall Street terguncang. Selanjutnya, seperti tsunami, krisis melibas perusahaan-perusahaan finansial besar lainnya. Kebangkrutan perusahaan-perusahaan tersebut menyebabkan para investor global mencairkan investasinya secara besar-besaran di negara berkembang (termasuk kita) dalam rangka memperkuat likuiditas perusahaan induknya di AS atau untuk memenuhi kebutuhan likuiditas individual mereka. Fenomena ini menghasilkan capital outflow di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ketiga, pada pengujung 2013. Berawal dari respons pelaku ekonomi dunia terhadap rencana pengurangan pembelian obligasi atau pengurangan kebijakan memperlonggar likuiditas atau quantitative easing (QE) oleh bank sentral AS, The Fed.

Hal tersebut menimbulkan ekspektasi dari para pemilik modal bahwa kondisi ekonomi AS telah pulih sepenuhnya. Sementara itu, kekuatan Asia sebagai sumber pertumbuhan global sudah turun lebih dari 50 persen dibanding tiga bulan lalu. Ini gara-gara gonjang-ganjing sektor keuangan dunia dengan perlambatan terbesar di Cina. Akibatnya, aliran modal yang selama ini banyak masuk ke kawasan Asia beralih kembali ke AS.

Keempat, pada pengujung tahun ini, perbaikan ekonomi AS setelah mengalami proses pemulihan krisis sejak 2008 telah memungkinkan The Fed untuk mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat dengan menaikkan suku bunga. Ekspektasi investor global terhadap kebijakan The Fed tersebut menyebabkan keluarnya modal asing dari negara yang sedang tumbuh (emerging market), termasuk Indonesia, menuju Negara Abang Sam.

Pengalaman-pengalaman kita tentang penyebab depresiasi rupiah yang tajam tersebut menunjukkan bahwa adalah sangat riskan mengharapkan terjadinya kekuatan ekonomi nasional kalau faktor penting, seperti kurs rupiah yang stabil dan kuat, ditentukan oleh faktor eksternal yang non-manageable dan unpredictable tersebut.    

Dan harus kita sadari, sistem rezim nilai tukar yang kita anut saat ini adalah rezim nilai tukar mengambang bebas (floating exchange rate regime). Itulah sumber dasar yang menyebabkan mata uang kita sangat rentan mengalami instabilitas ( Salvatore, 1996).  Rezim nilai tukar ini kita anut di era reformasi berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1999 tentang Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Artinya, solusi mendasarnya adalah mengubah rezim nilai tukar tersebut dari yang bebas menjadi rezim nilai tukar tetap. Untuk konteks kita hari ini, mengimplementasikan rezim nilai tukar tetap (fixed exchange rate regime) adalah suatu hal yang sulit karena keterbatasan cadangan devisa yang dimiliki oleh Bank Indonesia. Sebab, syarat utama dari implementasi rezim nilai tukar tetap adalah, suatu negara harus punya cadangan devisa yang besar sehingga setiap permintaan valas berapa pun besarnya bisa disuplai oleh negara.

Walaupun demikian, bukan hal yang mustahil kita mengimplementasikan rezim nilai tukar tetap untuk rupiah karena kita punya pengalaman menerapkan rezim tersebut di era oil booming saat Orde Baru.


Dalam perspektif Ekonomi Internasional Klasik, cadangan devisa sebenarnya identik dengan kekayaan sumber daya alam dan kinerja ekonomi internasional suatu negara. Dalam teori klasik tentang nilai tukar disebutkan bahwa emas adalah logam mulia penting yang pernah dijadikan oleh banyak negara dalam era Bretton Woods untuk mem-back-up nilai tukar mata uang mereka. Dan bukan hanya emas, semua kekayaan alam suatu negara identik dengan reserve nasionalnya jika kekayaan alam tersebut berhasil dikelola dan hasilnya bisa disimpan sebagai reserve (cadangan devisa). Jika semua kekayaan alam negara ini benar-benar kita kelola dengan baik dan menjadi reserve nasional kita, rupiah pasti sangat kuat dan tidak mudah goyah oleh gejolak ekonomi eksternal apa pun.

Dalam konteks ini, kita perlu merujuk sepenuhnya pada pengelolaan sumber daya alam berdasarkan konstitusi kita (UUD 45 Pasal 33 ayat 3) yang mengatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam lain yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Artinya, pengelolaan sumber daya alam nasional tidak boleh diserahkan kepada sektor swasta, apalagi asing. Pemerintah dan DPR perlu merevisi semua undang-undang yang berkenaan dengan pengelolaan sumber daya alam nasional ini yang membenarkan pengelolaannya oleh swasta, apalagi asing.  Berdasarkan konstitusi, semuanya harus dikelola oleh negara (melalui BUMN). *


Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Nilai Tukar Rupiah Makin Merosot, Rp 16.255 per USD

47 hari lalu

Karyawan menunjukkan uang pecahan 100 dolar Amerika di penukaran mata uang asing di Jakarta, Selasa 16 April 2024, Nilai tukar rupiah tercatat melemah hingga menembus level Rp16.200 per dolar Amerika Serikat (AS) setelah libur Lebaran 2024. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Edi Susianto menyampaikan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terjadi seiring dengan adanya sejumlah perkembangan global saat libur Lebaran. TEMPO/Tony Hartawan
Nilai Tukar Rupiah Makin Merosot, Rp 16.255 per USD

Nilai tukar rupiah ditutup melemah 45 poin ke level Rp 16.255 per USD dalam perdagangan hari ini.


95 Persen Pakai Bahan Baku Lokal, Unilever Tak Terdampak Pelemahan Rupiah

52 hari lalu

95 Persen Pakai Bahan Baku Lokal, Unilever Tak Terdampak Pelemahan Rupiah

Unilever Indonesia mengaku tak terlalu terdampak dengan pelemahan rupiah karena mayoritas bahan baku mereka berasal dari dalam negeri.


Tingginya Suku Bunga the Fed dan Geopolitik Timur Tengah, Biang Pelemahan Rupiah

52 hari lalu

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo bersama jajaran Deputi Bank Indonesia saat menyampaikan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Februari 2024 di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu 21 Februari 2024. Perry Warjiyo mengatakan keputusan mempertahankan BI-Rate pada level 6,00 persen tetap konsisten dengan fokus kebijakan moneter yang pro-stability. TEMPO/Tony Hartawan
Tingginya Suku Bunga the Fed dan Geopolitik Timur Tengah, Biang Pelemahan Rupiah

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter AS yang masih mempertahankan suku bunga tinggi.


Ekonom Sebut Putusan MK Tak Beri Pengaruh Signifikan terhadap Nilai Tukar Rupiah

53 hari lalu

Suasana sidang putusan perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2024 di gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Senin, 22 April 2024. Dari 8 hakim MK, 5 hakim memutuskan menolak seluruh permohonan sengketa Pilpres 2024 yang diajukan oleh passion Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud. TEMPO/ Febri Angga Palguna
Ekonom Sebut Putusan MK Tak Beri Pengaruh Signifikan terhadap Nilai Tukar Rupiah

Yusuf Wibisono menilai bukan putusan MK yang memberi pengaruh terhadap nilai tukar rupiah, melainkan konflik geopolitik dan kebijakan The Fed.


Pelemahan Rupiah dan IHSG Berlanjut, Airlangga: Indonesia Masih Lebih Baik

53 hari lalu

Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto ketika ditemui usai Salat Idulfitri 1445 H di Masjid Ainul Hikmah, DPP Partai Golkar, Slipi Jakarta pada Rabu, 10 April 2024. TEMPO/Defara
Pelemahan Rupiah dan IHSG Berlanjut, Airlangga: Indonesia Masih Lebih Baik

Kendati terjadi pelemahan rupiah, Airlangga mengklaim rupiah masih lebih baik dibanding mata uang lain. IHSG juga diklaim lebih baik dari negara lain.


Bos BCA Ungkap Penyebab Pelemahan Rupiah, Mulai dari Dividen hingga Impor Bahan Baku

53 hari lalu

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja saat mencoba mesin CS Digital dan mengganti kartu BCA magnetic menjadi kartu BCA berteknologi chip hasil kerja sama dengan Mastercard. Tempo/M JULNIS FIRMANSYAH
Bos BCA Ungkap Penyebab Pelemahan Rupiah, Mulai dari Dividen hingga Impor Bahan Baku

Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA) Jahja Setiaatmadja menilai pelemahan rupiah bukan hanya karena konflik Iran-Israel.


Konflik Iran-Israel Disebut Perparah Nilai Tukar Rupiah, BI Diminta Naikkan Suku Bunga

54 hari lalu

Karyawan pabrik menunjukkan jenis gandum dalam proses produksi tepung terigu.di PT. Indofood Sukses Makmur Tbk., Bogasari, Tanjung Priok, Jakarta, Jumat 19 April 2024. Ketua Umum Asosiasi Tepung Terigu Indonesia (APTINDO), Franciscus Welirang, mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah akan mengerek harga terigu nasional.  TEMPO/Tony Hartawan
Konflik Iran-Israel Disebut Perparah Nilai Tukar Rupiah, BI Diminta Naikkan Suku Bunga

Konflik Timur Tengah ini dikhawatirkan akan bereskalasi menjadi perang yang lebih besar. Nilai tukar rupiah semakin melemah.


Istana Tegaskan Presiden Jokowi Terus Dorong Penguatan KPK

1 Desember 2023

Presiden Joko Widodo bersama Seskab Pramono Anung saat Penyerahan secara Digital Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dan Buku Daftar Alokasi Transfer ke Daerah (TKD) Tahun Anggaran 2024 di Istana Negara, Jakarta, Rabu 29 November 2024.  Presiden Joko Widodo menyiapkan Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp3.325,1 triliun pada 2024. Dana tersebut akan ditujukan untuk beberapa hal yang menjadi fokus. Dana tersebut terdiri dari belanja pemerintah pusat Rp2.467,5 triliun dan transfer ke daerah Rp857,6 triliun. Pemerintah juga akan menuntaskan proyek infrastruktur prioritas, percepatan transformasi ekonomi hijau dan dukung reformasi birokrasi serta aparatur sipil negara (ASN). TEMPO/Subekti.
Istana Tegaskan Presiden Jokowi Terus Dorong Penguatan KPK

Ari Dwipayana menyebut semua pihak termasuk Presiden Jokowi berharap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjalankan fungsinya dengan baik.


Wamenkeu Sebut Pelemahan Rupiah Bisa Untungkan Eksportir

27 Oktober 2023

Karyawan tengah menghitung uang pecahan 100 dolar Amerika di sebelah uang rupiah di penukaran valuta asing di Jakarta. Tempo/Tony Hartawan
Wamenkeu Sebut Pelemahan Rupiah Bisa Untungkan Eksportir

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan depresiasi kurs rupiah terhadap dolar Amerika bisa menguntungkan para eksportir.


Agenda Jokowi Reshuffle Gelombang Kedua

26 Oktober 2023

Agenda Jokowi Reshuffle Gelombang Kedua

Presiden Jokowi dikabarkan kembali akan reshuffle kabinet pada pekan depan. Siapa saja yang bakal diganti?