Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Menolong dalam Kesulitan?

image-profil

image-gnews
Iklan

J. Sumardianta, Guru Sma Kolese De Britto, Yogyakarta

Ketika ibumu semakin tua. Saat sorot mata penuh cinta dan harapannya tidak lagi menatap seperti dulu. Kala kaki letihnya tidak bisa lagi menopang perjalanan, pinjamkan lenganmu buat memapah. Hiburlah dia. Temanilah berjalan-jalan untuk terakhir kali. Jika ibu meminta sesuatu, berikanlah. Akan datang waktu paling getir dalam hidupmu. Ketika mulut ibu tidak pernah meminta apa-apa lagi. Itulah saatmu menangis sejadi-jadinya."

Siapa sangka alegori ini ditulis Adolf Hitler. Sisi kemanusiaan sang diktator terbit kala kehilangan ibu. Bagaimana seorang penjahat kemanusiaan, penyebab tragedi bagi jutaan orang saat Perang Dunia II, memberikan tausiah cinta? Hitler mungkin menulis sajak itu jauh sebelum menjadi iblis.

Membaca ulang sajak Hitler, hati bagai dirajam sembilu. Ibu saya dipanggil Tuhan sehari menjelang perayaan Natal 2004 lalu. Proses berpulangnya terbilang mendadak. Pukul 16.00 sore ibu meminta diantar ke rumah sakit karena tidak enak badan. Naik-turun mobil dilakukannya sendiri. Sampai di IGD, sesak napas dan kejang. Pukul 17.45, ibu berpulang pada usia 72 tahun meninggalkan suami dan enam anak.

Sesederhana itu proses kematian ibu. Sesederhana cara pandang, sikap, dan perilaku almarhumah dalam mengatasi kerasnya hidup. Ibu anak tunggal dari istri kedua kakek. Kakek menikah empat kali. Saat ibu berumur sebulan, kakek menggorok tiang bambu penyangga rumah yang sekaligus berfungsi sebagai celengan nenek. Duit ludes buat berjudi.

Kakek minggat ke Jogja. Di alun-alun utara ia mendapati ratusan lelaki berseragam dinaikkan ke truk. Kakek ingin ikut rombongan. Sewaktu melapor, kakek langsung diberi seragam dan disuruh naik truk juga. Kakek baru menyesal saat iring-iringan truk memasuki Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Semua penumpang masuk kapal. Jepang hendak mempekerjakan mereka sebagai romusha di Borneo.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pada 1945, tiga tahun sesudah menjalani romusha, kakek menikah lagi di Kalimantan. Kakek lalu pindah ke Deli Serdang, Sumatera Utara, bersama tiga anak lelaki dari istri keempat. Pada 1960-an kakek mengubah hutan menjadi area persawahan di Lampung Tengah. Di sinilah hidupnya mulai membaik.

Teringat anak yang ditelantarkannya, kakek baru pulang ke Jawa pada 1970-an. Bapak-anak bertemu lagi setelah berpisah tiga dekade. Elegi mengharukan seorang penyintas (survivor) romusha. Kakek diganjar romusha gara-gara menganut falsafah mo limo: main/judi, mendem/mabuk, madon/kawin-mawin, madat/narkoba, dan maling/mencuri.

Pada masa muda, tahun 1960-an, ibu bekerja sebagai pembantu rumah tangga keluarga Cina di Jakarta. Di bilangan Cikini, ibu menyaksikan seorang perempuan hamil, sedang menggendong kedua anaknya, mati tertembak peluru nyasar pengikut Karto Suwiryo. Bedil sebenarnya diarahkan pada Bung Karno, yang tengah berpidato peresmian gedung sekolah.

Dalam kesulitan, memberi pertolongan. Itulah yang dilakukan kedua orang tua saya saat masih bekerja di kota. Di rumah kami yang sempit, bapak-ibu mau memberi tumpangan buat kerabat pengidap kanker rahim saat menjalani terapi di rumah sakit. Rumah kami terbuka bagi kerabat dari kampung yang transit untuk kuliah atau kerja. Waktu itu, saya tidak habis pikir mengapa rumah yang sudah sesak dengan rupa-rupa impitan ini masih dijejali kenestapaan akibat kemurahan hati orang tua.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Sejarah Barus, Kota Perdagangan di Sumatra Utara yang Tersohor di Dunia pada Abad ke-6

3 hari lalu

Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 24 Maret 2017 di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara (Dok. Yayasan Museum Barus Raya/MBR).
Sejarah Barus, Kota Perdagangan di Sumatra Utara yang Tersohor di Dunia pada Abad ke-6

Di masa jayanya, kapal-kapal asing silih berganti memasuki dan berlabuh di Barus untuk mengangkut kamper, kemenyan, dan emas.


Wisata Edu-heritage Ungkap Benang Merah Cirebon - Jakarta di Masa Lalu

22 hari lalu

Bangunan Keraton Kasepuhan yang dibangun oleh Panembahan Pakungwati I tahun 1529 di Cirebon, Jawa Barat, (26/1). Keraton kerajaan Islam ini merupakan perluasan dari Keraton Pakungwati yang dibangun oleh Pangeran Cakrabuana. TEMPO/Prima Mulia
Wisata Edu-heritage Ungkap Benang Merah Cirebon - Jakarta di Masa Lalu

Sejarah hubungan Cirebon - Jakarta dimulai saat Pelabuhan Sunda Kelapa yang dikuasai oleh Portugis.


692 Tahun Ibnu Khaldun, Sejarawan Muslim Penulis The Muqaddimah Pengantar Sejarah Dunia

26 hari lalu

Ibnu Khaldun
692 Tahun Ibnu Khaldun, Sejarawan Muslim Penulis The Muqaddimah Pengantar Sejarah Dunia

Ibnu Khaldun seorang tokoh muslim yang berpengaruh terhadap ilmu sosial, politik, dan ekonomi dunia. Ini peringatan 692 tahun kelahirannya.


Tutup Sampai Juni 2024, Benteng Vredeburg Yogya Direvitalisasi dan Bakal Ada Wisata Malam

57 hari lalu

Salah satu sudut Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta yang tengah direvitalisasi hingga Juni 2024. Tempo/Pribadi Wicaksono
Tutup Sampai Juni 2024, Benteng Vredeburg Yogya Direvitalisasi dan Bakal Ada Wisata Malam

Museum Benteng Vredeburg tak hanya dikenal sebagai pusat kajian sejarah perjuangan Indonesia tetapi juga destinasi ikonik di kota Yogyakarta.


Situs Sejarah Hingga Museum Jadi Favorit Wisatawan di Festival Musim Semi Cina

18 Februari 2024

Festival Musim Semi di Cina. Xinhua
Situs Sejarah Hingga Museum Jadi Favorit Wisatawan di Festival Musim Semi Cina

Liburan Festival Musim Semi atau Tahun Baru Imlek berlangsung meriah di Cina. Wisatawan penuhi libur 8 hari itu ke berbagai destinasi wisata menarik.


Arab Saudi Temukan Ribuan Artefak pada Awal Periode Islam

6 Februari 2024

Pengunjung melihat koleksi museum di Museum Almoudi, Mekkah, Arab Saudi, Jumat 28 Oktober 2022. Museum tersebut berisikan berbagai properti peradaban dan perlengkapan hidup sehari- hari masyarakat Arab di zaman dulu. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Arab Saudi Temukan Ribuan Artefak pada Awal Periode Islam

Di antara temuan arkeologi itu adalah artefak-artefak dari Masjid Usman bin Affan pada abad ke 7 hingga ke 8 sebelum masehi


Optimis Ganjar-Mahfud Kuasai Suara, Sekjen PDIP: Keduanya Berpihak Sejarah yang Benar

14 Januari 2024

Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDIP Hasto Kristiyanto memberikan keterangan kepada media ketika mengunjungi Rumah Susun Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, pada Ahad, 14 Januari 2024. Dalam kunjungannya itu, Hasto juga membagikan telur kepada warga setempat. Tempo/ Adil Al Hasan
Optimis Ganjar-Mahfud Kuasai Suara, Sekjen PDIP: Keduanya Berpihak Sejarah yang Benar

Mengingat pentingnya sejarah itu, Hasto mengungkap pesan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.


Berkunjung ke Lokasi Tragedi Situjuah di Sumatra Barat, Ada Peringatan Khusus Setiap Januari

12 Januari 2024

Monumen Peristiwa Situjuah di Nagari Situjuah Batua, Sumatra Barat (TEMPO/Fachri Hamzah)
Berkunjung ke Lokasi Tragedi Situjuah di Sumatra Barat, Ada Peringatan Khusus Setiap Januari

Sampai saat ini tragedi Situjuah masih dikenang masyarakat Nagari Situjuah Batua Sumatra Barat. Ada pengibaran bendera sebulan penuh dan ziarah makam


Bernalar Berdaya di SMAN 91 Jakarta: Membangun Generasi Muda dengan Pemikiran Cerdas dan Literasi

11 Januari 2024

Bernalar Berdaya di SMA 91 Jakarta Timur
Bernalar Berdaya di SMAN 91 Jakarta: Membangun Generasi Muda dengan Pemikiran Cerdas dan Literasi

Kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan generasi muda terhadap literasi digital dan sejarah.


Ini Alasan Kenapa Tahun Baru Jatuh Pada 1 Januari, Ada Sejarahnya

26 Desember 2023

Januari ditetapkan sebagai awal tahun baru melalui sejarah yang panjang. Berikut ini alasan kenapa tahun baru jatuh pada 1 Januari. Foto: Canva
Ini Alasan Kenapa Tahun Baru Jatuh Pada 1 Januari, Ada Sejarahnya

Januari ditetapkan sebagai awal tahun baru melalui sejarah yang panjang. Berikut ini alasan kenapa tahun baru jatuh pada 1 Januari.