Mencegah Narkotik di Kampus

Majalah Tempo

Enak dibaca dan perlu.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kesepakatan kerja sama Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Kepolisian Republik Indonesia dengan beberapa perguruan tinggi di Indonesia untuk memberantas narkotik perlu didukung. Serentetan kejadian beberapa bulan terakhir, yang mengaitkan perguruan tinggi dengan aktivitas penggunaan narkotik, memang sangat memprihatinkan.

    Temuan narkotik dan zat psikotropika di kampus, atau penangkapan Wakil Rektor III Universitas Hasanuddin Musakkir sebagai tersangka pengguna sabu, dipercaya hanya merupakan puncak gunung es. Data BNN menunjukkan, di antara 4,2 juta orang pengguna narkotik, 22 persen adalah pelajar dan mahasiswa. Dengan demikian, bisa dipastikan betapa buruk dan bobroknya kualitas generasi muda bangsa ini bila fakta yang mengerikan ini tidak ditangani secara sungguh-sungguh.

    Adanya kerja sama ini memungkinkan pemberantasan peredaran narkotik dan zat-zat terlarang lainnya di kawasan kampus akan berjalan lebih sistematis. Bukan sekadar tindakan-tindakan penggerebekan oleh aparat kepolisian berdasarkan informasi yang mereka kumpulkan, tapi juga ada langkah-langkah berkesinambungan yang bertujuan menjadikan kampus sebagai komunitas anti-narkotik.

    Pengelola universitas jelas tak akan mampu sendirian mencegah peredaran narkotik. Kejahatan narkotik merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime). Jaringan dan kapital yang terlibat di dalamnya tak terhitung besarnya. Tak sedikit negara yang menerapkan hukuman mati bagi para pengedar narkotik, tapi bisnis ini tak kunjung surut.

    Kejahatan lintas negara ini jelas-jelas membutuhkan strategi perlawanan oleh aparat penegak hukum secara luar biasa pula. Fokus membersihkan kampus-kampus dari peredaran narkotik merupakan langkah penting untuk meminimalkan serangan barang haram ini ke anak-anak muda, yang merupakan pasar potensial di mana-mana.

    Apalagi kampus-kampus bisa menjadi tempat yang nyaman bagi peredaran narkotik dan zat psikotropika lainnya. Tempat-tempat kegiatan di lingkungan yang relatif bebas dari pengawasan bisa menjadi area transaksi barang haram. Kegiatan kemahasiswaan yang tidak hanya terbatas pada jam belajar formal juga merupakan kondisi yang menguntungkan bagi para pengedar, yang tidak mustahil juga berasal dari kalangan mahasiswa sendiri.

    Yang perlu dirumuskan bersama di antara kepolisian dan BNN sebagai aparat penegak hukum serta pihak perguruan tinggi adalah bentuk kerja sama mereka. Aksi gerebek dan penangkapan di lingkungan kampus memang bisa menimbulkan efek jera, namun dampaknya tak berlangsung langgeng. Sebab, pada dasarnya bisnis peredaran narkotik tak kenal jera.

    Dengan demikian, perlu diformulasikan penanganan jangka panjang. Kampanye-kampanye kreatif gaya anak muda, misalnya melalui musik, lomba karya tulis, dan seminar-seminar, bisa menjadi bagian dari upaya ini. Agar ada terapi kejut, pelaksanaan tes urine terhadap mahasiswa dan dosen secara random tapi tertutup bisa menjadi cara efektif untuk mendeteksi prevalensi penggunaan narkotik di kampus.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.