Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Konflik dan Harmoni

image-profil

image-gnews
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Muhammad Bagus Irawan, Warga Jepara. Alumnus UIN Walisongo Semarang

Keberagamaan di Indonesia sedang darurat harmoni. Munculnya berbagai spanduk anti-Syiah di berbagai daerah menambah panjang rentetan kriminalisasi kelompok agama minoritas. Ada agenda terselubung yang dikait-kaitkan dengan sokongan dana berlimpah dari luar negeri, untuk menimbulkan konflik agama di Indonesia. Tak ayal, terjadinya baku hantam di Masjid Az-Zikra Sentul pimpinan Ustad Arifin Ilham, beberapa pekan lalu, adalah percikan awal.

Menilik sejarah, kita tahu bahwa selama ini bara kekerasan konflik beragama di negeri ini berasal dari pemanfaatan doktrin agama sebagai etos kerja. Konflik terjadi karena ada faktor "mahar" atau "proyek" yang didenominasi oleh kekuatan politik tertentu. Banyak organisasi masyarakat militan yang bermain di sini, bahkan sebagian mereka disokong oleh kekuatan penegak hukum. Dengan kata lain, konflik agama adalah buah transaksional belaka.

Faktanya, agama bagi pemeluknya memiliki dua sifat: teologis dan sosiologis. Teologis berhubungan dengan fatsun normatif yang telah dipegang teguh dan diwarisi secara turun-temurun (ultimate value). Ini berhubungan dengan keyakinan terhadap kekuatan supernatural yang bersifat gaib dan memiliki landasan berupa teks dalam kitab suci (written text). Adapun agama sosiologis diatribusi terhadap sikap pemeluk agama di tengah kehidupan sosial yang merupakan bentuk interpretasi atas teks suci dan menghasilkan teks-teks sosial (social text). Harmoni sebagai wujud dari agama ramah lingkungan, hadir dari rahim kedua. Hal itu adalah ikhtiar manusia sebagai pemegang mandat Tuhan sekaligus makhluk sosial, yang idealnya bergotong-royong secara damai dan toleran.

Kita lihat bagaimana keharmonisan di Jepara. Faktor kesejahteraan ekonomi dan kestabilan politik menjadi kunci utama. Lebih spesifik lagi, masyarakat Desa Bondo, secara statistik agama Islam menjadi mayoritas dengan catatan 59 persen, Kristen 40 persen, dan 1 persen agama lain. Kendati Islam dominan, keberagamaan benar-benar dijalankan sebagai motor perdamaian. Ketika ada salah satu warga meninggal, baik dari muslim maupun non-muslim, mereka berbaur bersama bergotong-royong tanpa diskriminasi. Begitu juga ketika ngajekno (pengajian kematian dalam tradisi Islam) atau panglipuran (pengajian kematian dalam tradisi Kristen). Meskipun pengajian dipimpin oleh tokoh agama masing-masing, kedua kelompok ini melebur menjadi satu. Spanduk anti-Syiah pun tak ada di Jepara, karena paham Syiah juga berdampingan secara harmonis dengan kelompok mayoritas semisal NU dan Muhammadiyah.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tingginya tingkat toleransi masyarakat Desa Bondo juga terlukis dari kesediaan mereka untuk menjaga sisi teologis pemeluk agama lain. Ketika salah satu warga Kristen punya hajatan (mengadakan pesta pernikahan atau lainnya), modin (pemimpin agama Islam dalam struktur organisasi desa) diminta untuk menyembelih sapi atau kambing yang akan disajikan dalam hajatan. Sebab, dalam ideologi Islam, seorang muslim harus memakan makanan yang halal, yang salah satu syaratnya adalah disembelih seorang muslim dengan mengikuti ketentuan yang telah digariskan oleh syara'.

Harmoni bisa diciptakan manakala kebijakan sosial mendukung hal tersebut. Pesan harmoni dari Jepara ini barangkali bisa jadi refleksi teologis-sosiologis bagi bangsa Indonesia.


Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Pemerintah Merasa Toleransi dan Kebebasan Beragama di Indonesia Berjalan Baik

50 hari lalu

Foto udara sejumlah umat Islam menunaikan salat Idul Fitri 1445 Hijriah secara berjamaah di Jalan Jatinegara Barat dan Jalan Matraman Raya, Jatinegara, Jakarta, Rabu, 10 April 2024. Warga muslim setempat biasanya melaksanakan salat Idul Fitri maupun Idul Adha di samping kanan dan kiri Gereja Protestan Koinonia yang didirikan pada 1889 itu. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Pemerintah Merasa Toleransi dan Kebebasan Beragama di Indonesia Berjalan Baik

Kemenkumham mengklaim Indonesia telah menerapkan toleransi dan kebebasan beragama dengan baik.


Miniatur Toleransi dari Tapanuli Utara

1 April 2024

Miniatur Toleransi dari Tapanuli Utara

Bupati Nikson Nababan berhasil membangun kerukunan dan persatuan antarumat beragama. Menjadi percontohan toleransi.


Indonesia Angkat Isu Literasi Keagamaan Lintas Budaya di Sidang Dewan HAM PBB

16 Maret 2024

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi berbicara dalam Sidang ke-55 Dewan HAM PBB di Jenewa, Swiss, pada Senin 26 Februari 2024. ANTARA/HO-akun X @Menlu_RI
Indonesia Angkat Isu Literasi Keagamaan Lintas Budaya di Sidang Dewan HAM PBB

Isu tersebut dinggap penting diangkat di sidang Dewan HAM PBB untuk mengatasi segala bentuk intoleransi dan prasangka beragama di dunia.


Asal-usul Hari Toleransi Internasional yang Diperingati 16 November

16 November 2023

Suasana Terowongan Silaturahim yang menghubungkan antara Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral, Senin, 25 Oktober 2021. Terowongan yang dibangun dengan panjang tunnel 28,3 meter, tinggi 3 meter, lebar 4,1 meter dengan total luas terowongan area tunnel 136 m2 dengan total luas shelter dan tunnel 226 m2 menelan dana sebesar Rp 37,3 miliar. TEMPO/Syara Putri
Asal-usul Hari Toleransi Internasional yang Diperingati 16 November

Setiap 16 November diperingati sebagai Hari Toleransi Internasional.


Terkini Metro: Pangdam Jaya Ajak Remaja Masjid Jaga Toleransi, BMKG Minta Warga Depok Waspada Kekeringan

18 Juni 2023

Wali Kota Tangerang Selatan bersama Pangdam Jaya Mayjen TNI Mohamad Hasan meresmikan dua Markas Koramil, Selasa 30 Mei 2023. Foto TEMPO/Muhammad Iqbal
Terkini Metro: Pangdam Jaya Ajak Remaja Masjid Jaga Toleransi, BMKG Minta Warga Depok Waspada Kekeringan

Kepada remaja masjid, Pangdam Jaya mengatakan pluralisme sebagai modal kuat dalam bekerja sama untuk menjaga persaudaraan dan kedamaian di Indonesia.


Mas Dhito Puji Toleransi Umat Beragama Desa Kalipang

24 Mei 2023

Mas Dhito Puji Toleransi Umat Beragama Desa Kalipang

Berbudaya itu, bagaimana budaya toleransi beragama, menghargai umat beragama lain, budaya tolong menolong.


Ngabuburit di Tepi Danau Jakabaring Sambil Lihat Simbol Toleransi Beragama

1 April 2023

Menikmati pemandangan indah di pinggir danau venue dayung, Jakabaring Sport City. Disini pengunjung dapat pula olahraga jogging sore sembari ngabuburit. TEMPO/Parliza Hendrawan
Ngabuburit di Tepi Danau Jakabaring Sambil Lihat Simbol Toleransi Beragama

Di akhir pekan atau hari libur nasional, Jakabaring Sport City menjadi pilihan destinasi liburan dalam kota yang seru.


Ketua MPR Ajak Junjung Tinggi Nilai Toleransi Agama

16 Februari 2023

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo berfoto bersama dengan pengurus BEM PTNU Se-Nusantara di Jakarta, Rabu (15/2/23).
Ketua MPR Ajak Junjung Tinggi Nilai Toleransi Agama

Indeks perdamaian global terus memburuk dan mengalami penurunan hingga 3,2 persen selama kurun waktu 14 tahun terakhir.


Bamsoet: MPR dan MUI Siap Gelar Sosialisi Empat Pilar MPR

2 Februari 2023

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo.
Bamsoet: MPR dan MUI Siap Gelar Sosialisi Empat Pilar MPR

Sosialisasi itu akan mengangkat tema seputar peran organisasi keagamaan dalam menjaga kerukunan dan kondusivitas bangsa.


Wakil Kepala BPIP Dorong Pemkab Klaten dan FKUB Raih Penghargaan

16 November 2022

Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Dr. Drs. Karjono, S.H., M.Hum menghadiri Pengukuhan Pengurus Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Rabu, (16/11).
Wakil Kepala BPIP Dorong Pemkab Klaten dan FKUB Raih Penghargaan

Klaten disebut sebagai miniaturnya Indonesia. Di tengah keberagaman agama tetap memiliki keharmonisan, persatuan dan kesatuan.