Mutamangin

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dengan badan yang bulat, ia menggerakkan tubuhnya di pentas sempit, ia menggerakkan wayangnya yang tanpa wayang, ia menggerakkan seluruh cerita dengan loncatan dan selingan yang tak pernah putus: lagu, cetusan lucu, dialog yang tangkas, narasi yang sayu, gerak silat, aktor-aktor hidup yang membawakan peran, yang juga memainkan instrumen, yang juga jadi awak yang menari. Selama hampir dua jam penonton terpaku: Ki Dalang Slamet Gundono malam itu mementaskan lakon "Mutamangin". Bukan wayang biasa, bukan ketoprak biasa.

    Kita mungkin tak perlu mengidentifikasi bentuk pementasan ini. Slamet Gundono menampilkan sesuatu yang justru merayakan apa yang lepas dari identitas, tak terjebak oleh kategori. Pada saat-saat tertentu di pentas Teater Utan Kayu yang bersahaja itu, ia berhenti jadi tukang cerita dan aktor, dan "kembali" sebagai dalangtapi hanya dengan menggunakan dua benda yang dibungkus kain, yang dimainkannya seakan-akan sepasang golek yang bisa berubah jadi Dewa Ruci, atau Anoman, atau Bima. Tak ada perangkat gamelan. Yang hadir adalah kendang, rebana, suling, gambang, pelbagai kain yang disampirkan, sebuah benda yang mirip pintu masjid, sebuah tabung entah buat apa.

    Tak ada fragmen Mahabharata di sini, yang biasa dipentaskannya dengan wayang kulit. Juga tak ada cerita wayang golek dengan tokoh Amir Hamjah. Gundono mengambil bahan ceritanya dari satu kejadian di Jawa di abad ke-17, ketika seorang ulama diadili karena dituduh menyebarkan "ajaran sesat": Mutamangin.

    "Mutamangin" adalah cara Jawa untuk menyebut Syekh Ahmad al-Mutamakkin, seorang ulama Jawa Tengah yang konon hidup pada 1645-1740. Dalam dokumen bahasa Jawa, namanya dikekalkan dalam Serat Cabolek, serangkaian tembang yang pernah diduga ditulis oleh Yasadipura I (1729-1803). Dalam tembang panjang itu, Mutamakkin adalah seorang yang dituduh "mengajarkan ilmu hakikat" kepada orang ramai, melanggar sunah Nabi, tak loyal pada raja di Mataram, dan menghina dua pejabat agama dengan menamai anjingnya seperti nama mereka. Di akhir cerita, ulama yang digambarkan bertubuh kecil, berparas jelek, dan bersifat pengecut itu oleh kerajaan dihadapkan dengan seorang ulama yang lebih ulung ilmu pengetahuannya dan rupawan penampilannya: Ketib Anom Kudus.

    Pada konfrontasi itu Mutamangin terbukti kalah, "sesat". Ia layak dihukum. Tapi tidak. Berbeda dengan para peng-anjur "ilmu hakikat" yang terdahulu, raja tak menitahkannya dibakar hidup-hidup. Tokoh yang dicemooh ini mungkin begitu tak berarti, hingga akhirnya bahkan tak disebut-sebut lagi.

    Tapi, di pentas Gundono, Mutamangin bukan seorang yang sesat. Dalam adegan yang bisa mengingatkan kita akan adegan Inkuisisi dalam sejarah Gereja Katolik kuno, ulama dari Cabolek itu diadili, ditanyai, didakwa. Tapi ia bisa menjawab. Ia hanya tak mau berkata ketika Ketib Anom Kudus dan lain-lain mendesaknya supaya menjelaskan apa yang dimaksudkannya dengan "Nur Muhammad", sebuah roh mulia yang menurut dia ada dalam dirinya. Ia anggap mereka tak akan dapat memahami filsafatnya.

    Mutamangin, dalam lakon Gundono, berkibar. Ia memang terusir dari kerajaan, dengan pilu. Tapi akhirnya diabersama Bima dalam kisah wayangmasuk ke dalam diri Dewa Ruci di samudra. Di situ, terjadilah sebuah penyatuan diri secara mistik, yang dalam tradisi keagamaan di Jawa tampaknya selalu memesona.

    Dengan Mutamangin yang seperti itu, Gundono mengedepankan apa yang diangggap "pinggiran" oleh jaring-jaring kekuasaan. Ia bisa sangat kreatif, seperti Jlitheng, dalang segenerasinya yang juga ulung dalam membawakan wayang yang tak konvensional. Tapi agaknya hanya dia yang cocok untuk membawakan lakon Mutamangin: ia orang pesisir, ia sendiri pernah menjadi santridunia yang terpaksa ditinggalkannya ketika ia memilih jadi dalang wayang kulit, sesuatu yang nyaris "haram" bagi para kiai dan santri di kampungnya. Tapi ia tetap seorang pesisir, setidaknya malam itu.

    Wayangnya hampir seluruhnya menggunakan bahasa Tegal. Pentasnya menggunakan imaji-imaji dunia santri di pesisir utara Jawa, menggoreskan gerak tari/silat kunthulan dan srekalan, dan adegannya diseling suara rebana yang meriah: hal-hal yang oleh cita rasa para aristokrat di Surakarta dianggap "kampungan" dan kasar. Gundono tak cuma sampai di situ. Ia juga menggugat pandangan mapan yang lain, ketika di ujung lakon, kita lihat seorang perempuan berkerudung menari, gembira dan bebas, dan serombongan orang bernyanyi, menegaskan bahwa Allah se-benarnya tak membutuhkan sembahyang manusia.

    Mutamangin, dalam tafsir Gundono, sebagaimana wayangnya malam itu, adalah suara "lain". Ia bagian dari semarak keanekaragaman dan pembebasan. Dalam hubungan itu pula kisah kiai dari Cabolek itu tampak sebagai sebuah ilustrasi tentang benturan antara dua kekuatan. Di satu sisi ada kekuatan "resmi" yang memakai aturan syariat yang berlaku kapan saja dan di mana saja. Di sisi lain ada kehidupan "batin" seorang sufi: sebuah laku, sebuah "pengalaman", dan sebab itu tak bisa dibandingkan dengan yang lain, tak bisa pula sepenuhnya disoroti oleh aturan apa pun. Yang "batin" ini mau tak mau memaparkan bahwa syariat bukanlah segala-galanya.

    Sebuah tema konfrontasi yang terkenal, sebenarnya. Ia berkali-kali muncul melalui pelbagai karya sastra Jawa, terutama dalam legenda Syekh Siti Jenar yang melawan para ulama ("wali") Jawa di abad ke-15. Ia juga bisa merupakan tema Indonesia hari ini, ketika orang dengan menyebut diri "pembela Islam" merasa berhak menentukan bagi orang lain mana yang boleh dan tak boleh, juga ketika sejumlah ulama dengan tangan Negara bisa melenyapkan aliran yang mereka anggap "sesat".

    Ia bahkan bisa jadi tema agama itu sendiri. Pengalaman religius yang unik dan memesona terkadang, seperti "duhai" yang melintasuntuk memakai kata-kata Charles Taylor dalam Varieties of Religion Today (Harvard University Press, 2002)"a momentary sense of wow!", adalah pengalaman yang tak bisa diulangi tanpa kehilangan intensitasnya. Di detik-detik itu manusia mengalami suatu momen kerohanian yang "autentik", yang bisa ia rasakan sendiri tulus atau tidaknya: sebuah saat Dewa Ruci. Tapi manusia tak puas. Momen itu ia ingin buat reguler. Untuk itu pula disusun hukum dan institusi, dengan kekuasaan untuk menghukum, terkadang menerordan akhirnya, seorang atau beratus Mutamangin pun dibuang, dicemooh, dibinasakan.

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.