Rudy

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +

  • RUDY Singgih mereka bunuh. Di sebuah malam (dalam catatan: menjelang akhir April 2001), empat orang polisi menggedor, memecahkan kaca jendela sambil berteriak, dan akhirnya masuk. Rudy ada di rumah, segera menyerah, dan mereka membawanya ke luar. Istri dan kedua anaknya, keduanya belum lima tahun, menyaksikan, ketakutan. ”Saya serahkan dia, Pak, tapi jangan diapa-apakan,” istri itu berkata, hampir menangis.

    Di luar pintu, mereka menembak kaki Rudy. Dalam keadaan luka ia diseret ke sebuah mobil yang menunggu di jalan. Dengan cepat mobil pun berangkat dari daerah perumahan di Buahbatu, Bandung itu. Esok paginya diketahui: Rudy di kamar mayat, dengan sebuah luka di kaki dan sebuah liang lagi di dadanya. ”Lubang itu lebar,” kata istrinya, yang datang melihat mayatnya di rumah sakit. Tampaknya ia ditembak dari punggung, tembus jantung. Tapi tak ada autopsi.

    Rudy Singgih mereka bunuh. Begitu mudah. Dan tiba-tiba kita, orang biasa yang suka duduk-duduk di rumah menonton telenovela, berjalan santai di lorong pusat-pusat belanja, bercanda dengan anak, lari pagi, atau bernyanyi di karaoke, tiba-tiba kita sadar: kekejaman bukanlah perihal yang jauh. Ia bisa datang menghantam orang yang kita kenal, orang yang seperti kita, yang suka duduk-duduk menonton telenovela, berjalan santai di shopping mall, dan bernyanyi.

    Kenapa? Dia mencoba melawan polisi, kata juru bicara kepolisian di Bandung. Saya membayangkan Rudy tersungkur di mobil polisi itu. Dengan apa ia melawan? Dengan sangkur, kata polisi suatu kali. Dengan belati, kata polisi di kali lain. Dengan….

    Saya kenal Rudy. Pernah bekerja dengan dia, pernah bepergian dengan dia, dan bercanda dengan dia. Saya tak bisa membayangkan Rudy memegang sebilah bayonet. Dia bukan orang yang tangkas untuk lari atau berkelahi, apalagi dengan satu kaki yang sudah ditembak. Rudy Singgih mereka bunuh. Kini kekejaman bisa dilakukan dengan sedikit energi, dalam sebuah dinas. Dan mereka selalu punya alasan.

    Di rumah di Buahbatu itu polisi berteriak, ”Penjahat!” Istri Rudy tak mencoba membantah. Saya juga tak akan membuat Rudy bebas dari kesalahan. Ada selalu kecenderungan untuk serta-merta membuat seorang yang dianiaya menjadi suci. Penderitaannya seakan-akan menebus habis dosa apa pun. Saya tidak mengikuti kecenderungan itu. Bagi saya korban terjadi dalam suatu momen yang jadi sebuah awal dari apa yang kemudian, bukan sebuah momen yang bertaut dengan masa lalu. Pada momen ketika korban menjadi korban, manusia pun menjadi apa yang dalam bahasa Indonesia dengan baik disebut ”sesama”. Ada sebuah transformasi. Tetapi ia tak mengubah masa lalu seseorang yang diperkosa atau mati diinjak-injak dan diludahi. Kita tidak selamanya bisa menjadi ”sesama” dengan orang di masa lalu itu.

    Tapi antara seorang yang dibunuh karena ia jahat dan seorang yang dibunuh karena empat orang polisi berteriak ”ia jahat!” ada sebuah beda yang sepenuhnya kualitatif. Kejahatan bukanlah hasil sebuah kesimpulan polisi, empat orang atau sebatalion. Ada jalan panjang, ada proses, yang harus dilalui, dan jalan atau proses itu disebut ”ragu”. Di ujung sini si penuduh, di ujung sana si tertuduh, dan tertuduh harus mendapatkan manfaat dari jalan panjang itu untuk tidak dipastikan bersalah.

    Kita kini seharusnya sudah hafal dengan itu—mengenal betul bahwa sebuah kepanjangan tangan hukum (dalam cerita sebelum perang polisi disebut ”hamba wet”) bukanlah hukum itu sendiri. Tapi Rudy Singgih mereka bunuh. Dan tidak hanya dia. Ada seorang yang pernah membuat statistik sederhana dengan cara yang sederhana: baca Pos Kota dan hitung jumlah orang yang tewas ditembak polisi ketika ditangkap dengan tuduhan kriminal, dan Anda akan menemukan angka yang mengejutkan—kurang-lebih 100 orang setahun. Tapi kita, orang biasa yang suka duduk-duduk di rumah menonton telenovela, berjalan santai di lorong pusat-pusat belanja, bercanda dengan anak, lari pagi, atau bernyanyi di karaoke, umumnya tak mengenal mereka. Tiap pembunuhan menyorotkan satu cahaya terang, dan beribu-ribu kematian terjadi dalam bayang-bayang. Media massa memberitahukan adanya mereka, tetapi media massa juga menjauhkan mereka. Di halaman sekian kolom sekian surat kabar, di jam sekian dalam acara X di televisi, sebuah peristiwa, sesuatu yang mengandung kedalaman, telah menjadi sebuah fakta: sesuatu yang datar, rata.

    Dan kebuasan pun menjadi datar dan rata, sebuah titik dalam satu deretan, titik yang satu sama lain tak bisa dibedakan. Dalam arti yang sangat muram, Rudy Singgih berjasa justru dalam kematiannya yang menyedihkan itu: dia mengingatkan bahwa ia bukan sekadar satu titik, bahwa ia berbeda—dan begitu pula halnya setiap orang yang ditembak mati tanpa keraguan oleh polisi, dibunuh hanya karena seorang atau sejumlah polisi berteriak ”penjahat!” Tanpa proses pengadilan. Rudy, tanpa dikehendakinya sendiri, membuat kebuasan yang rutin itu tampak terus-menerus membinasakan orang yang masing-masing istimewa. Kini, setidaknya untuk beberapa saat ini, wajah seseorang yang punggungnya ditembus peluru itu adalah wajah yang tak tergantikan.

    Dan tiba-tiba kita sadar bahwa kekejaman bukanlah perihal yang jauh. Tidak, kita tidak berada di wild, wild west. Dalam dunia yang dibawakan kembali oleh film John Wayne dan Clint Eastwood, kematian adalah kemungkinan siapa saja, sebab tak ada yang memonopoli kekerasan. Dalam dunia kita hari ini, setiap orang biasa-biasa saja adalah calon korban dan setiap pemegang pistol calon algojo. Kekejaman pun berkerumuk di depan pintu, tinggal mengetuk minta masuk.

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.