Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Memaknai Menyerahnya Goliat Tabuni

image-profil

image-gnews
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Amiruddin, al-Rahab Direktur Eksekutif Papua Resource Center

Papua memang selalu memiliki kejutan. Yang terbaru, kabar menyerahnya pemimpin kelompok bersenjata, Panglima Organisasi Papua Merdeka (OPM), Goliat Tabuni (GT) di Tingginambut, Puncak Jaya, yang disampaikan ke media oleh Kasdam Cendrawasih. Menyerahnya GT itu kemudian oleh Pangdam Cendrawasih dikaitkan dengan rencana kedatangan Presiden Jokowi pada Mei nanti ke Papua.

Sayangnya berita itu berakhir hambar. Sebab GT, melalui keponakannya, Deerd Tabuni, membantah menyerah (tabloidjubi.com, 28/3/15). Untuk menutupi kesalahan Kasdam itu, Pangdam Cendrawasih Fransen G. Siahaan membenarkan bahwa GT belum menyerah, yang menyerah adalah 23 orang anak buahnya tanpa senjata.

Meskipun menyerahnya GT itu seperti sensasi, ini penting untuk dimaknai secara politik, karena berkaitan dengan rencana kehadiran Presiden yang hendak berdialog dengan tokoh-tokoh di wilayah Puncak Jaya, Papua. Untuk itu, berita tersebut memiliki nilai politik yang tinggi dan strategis untuk dicermati.

Sebagaimana kita ketahui, dalam 10 tahun ini, Puncak Jaya dan sekitarnya telah menjadi wilayah konsentrasi kelompok-kelompok bersenjata di Papua. Dalam 10 tahun itu, Puncak Jaya terus-menerus dirongrong oleh aksi kekerasan bersenjata di satu sisi dan di sisi lain menjadi ajang kampanye pelanggaran HAM oleh aparat keamanan. Pada 2013–2014 saja telah terjadi aksi bersenjata 40 kali. Korban jiwa yang jatuh jumlahnya 30 orang lebih (aparat dan rakyat), pada 2013–2014. Aparat pun kehilangan 20-an pucuk senjata.

GT adalah sosok tua dan disegani dalam kelompok bersenjata di Papua, khususnya di wilayah pegunungan tengah Papua. Markas GT berada di Distrik Tingginambut, Puncak Jaya. Puncak Jaya dan Puncak adalah wilayah dengan kelompok bersenjata paling kuat saat ini di Papua.

Sejak kelompok GT hadir di Puncak Jaya, kelompok bersenjata lainnya ikut bergabung, yaitu Anton Tabuni, Dinus Wakerwa, Marunggen Wonda, Lekaka Talenggen, dan Militer Murib. Tiap-tiap kelompok memiliki puluhan senjata. Kelompok-kelompok yang bergabung dengan GT inilah yang aktif melakukan penyerangan dan aksi-aksi bersenjata yang memakan korban jiwa di Puncak Jaya dan Puncak sepanjang 2004–2014. Meskipun saat ini dikabarkan masing-masing kelompok bergerak sendiri-sendiri, GT tetap sosok yang disegani. Bahkan GT menjadi ikon perlawanan bagi kelompok-kelompok bersenjata dan politik di Papua.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dengan melansir berita menyerahnya GT, aktor keamanan di Papua sepertinya hendak melakukan cipta kondisi untuk menyambut kedatangan Presiden Jokowi ke Mulia. Bagaimanapun, secara intelijen dan keamanan, menyerahnya GT adalah "hasil operasi" kelas premium untuk disuguhkan ke hadapan Presiden. Pesannya bahwa, "patah" perlawanan bersenjata yang paling keras di Papua selama ini. Sayangnya, operasi cipta kondisi itu tidak rapi, sehingga berantakan dalam beberapa hari.

Melihat simpang-siurnya kabar penyerahan diri GT yang dikaitkan dengan rencana keinginan Presiden untuk berdialog di Papua, ada beberapa analisis yang bisa dikemukakan. Pertama, aktor keamanan telah menempatkan sosok GT di posisi terpenting, sekaligus menempatkannya dalam posisi paling rentan di antara komandan-komandan kelompok bersenjata di Papua. Sepertinya informasi sengaja dilepas untuk melihat rivalitas di antara pemimpin kelompok-kelompok bersenjata dalam menyambut ajakan berdialog dari Presiden Jokowi.

Kedua, jika bukan untuk menciptakan rivalitas, aktor keamanan di lapangan dalam melakukan cipta kondisi tidak terkoordinasi dalam satu komando yang baik, sehingga melepas informasi yang prematur dan mudah dibantah. Dalam kerangka ini, upaya berdialog dengan cara kontak langsung kepada pimpinan kelompok-kelompok bersenjata yang dikehendaki Presiden Jokowi menjadi mentah dan akan lebih sulit ke depan.

Ketiga, perlu pula dicatat bahwa penyerahan diri orang-orang yang disebut OPM selama ini lebih banyak dimobilisasi ketimbang murni penyerahan diri. Aksi penyerahan diri itu selalu muncul ketika hendak ada pergantian pejabat. Sepertinya "hasil operasi" tertinggi di Papua adalah adanya penyerahan diri atau senjata. Kerap pula mereka yang disebut OPM setelah menyerahkan diri tidak terurus dengan baik, dan kemudian kecewa. Bisa dikatakan, puluhan aksi menyerahkan diri tersebut tidak membuat aksi kelompok bersenjata berkurang.

Karena itu, Presiden harus jauh lebih cermat dalam menerima dan mencerna informasi mengenai perkembangan keamanan di Papua. Letjen (Purn) Bambang Darmono, mantan Kepala UP4B, dalam satu kesempatan pernah menyampaikan, untuk menangani kondisi keamanan di Papua, yang perlu dicermati adalah terjadinya kompetisi antar-aktor keamanan dalam mendapatkan "hasil operasi". Kompetisi itu kerap membuat informasi tidak akurat. Di samping itu, Presiden, dalam menjalin dialog di Papua, juga harus selalu menyadari bahwa konfigurasi demografi politik Papua yang trapesium selalu menyuguhkan pemimpin yang tidak tunggal. Untuk itu, langkah menangani Papua juga tidak pernah bisa tunggal.


Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Komnas HAM Sebut Kekerasan di Papua Masih Terus Berlanjut

9 hari lalu

Front Mahasiswa Papua Peduli Korban Kekerasan menggelar malam solidaritas di Patung Kuda, Jakarta, Jumat, 16 September 2022. Malam solidaritas tersebut digelar untuk mengenang empat warga Papua yang menjadi korban mutilasi oleh aparat Tentara Nasional Indonesia. TEMPO / Hilman Fathurrahman W
Komnas HAM Sebut Kekerasan di Papua Masih Terus Berlanjut

Komnas HAM Papua mencatat sebanyak 41 kasus kekerasan terjadi di berbagai wilayah di Tanah Papua, pada periode 1 Januari hingga 1 Juni 2024.


Kronologi Pembunuhan Warga Sipil di Intan Jaya yang Diduga Dibunuh KKB

25 hari lalu

Pasukan TPNPB OPM di Kampung Pogapa, Intan Jaya, Papua Tengah. Dokumentasi TPNPB.
Kronologi Pembunuhan Warga Sipil di Intan Jaya yang Diduga Dibunuh KKB

Lokasi pembunuhan Boki Ugipa berada di wilayah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Lewis Kogoya.


Pakar Sebut Inisiatif Panglima TNI Ubah Istilah KKB Jadi OPM Tidak Memilki Arti

59 hari lalu

Panglima TPNPB Kodap VIII Intan Jaya Brigadir General Undius Kogeya bersama pasukannya. Sumber: TPNPB OPM
Pakar Sebut Inisiatif Panglima TNI Ubah Istilah KKB Jadi OPM Tidak Memilki Arti

Perubahan istilah KKB menjadi OPM justru berpotensi meningkatkan eskalasi konflik di Papua


TNI Kejar Pelaku Pembunuhan Danramil Aradide Papua yang Tewas Ditembak OPM

59 hari lalu

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat Brigadir Jenderal Kristomei Sianturi saat ditemui di Polda Metro Jaya, Rabu, 10 Januari 2024. Tempo/M. Faiz Zaki
TNI Kejar Pelaku Pembunuhan Danramil Aradide Papua yang Tewas Ditembak OPM

TNI masih melakukan pengejaran terhadap pelaku pembunuhan Letda Inf Oktovianus Sogalrey.


Anggota Komisi I Sebut Istilah OPM Lebih Realistis tapi Berdampak Politis

14 April 2024

Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin. Foto: Runi/nr
Anggota Komisi I Sebut Istilah OPM Lebih Realistis tapi Berdampak Politis

Penyebutan nama OPM bisa berdampak negatif lantaran kurang menguntungkan bagi Indonesia di luar negeri.


Setelah Kebakaran SD Inpres, Polisi Sebut Ada Percobaan Pembakaran SD Negeri di Yahukimo

14 Maret 2023

Warga Yahukimo tewas, diduga ditembak Kelompok Kriminal Bersenjata  (KKB) Rabu malam 8 Maret 2023. FOTO: dokumentasi  Humas Polda Papua
Setelah Kebakaran SD Inpres, Polisi Sebut Ada Percobaan Pembakaran SD Negeri di Yahukimo

Arief Kristanto mengatakan ada percobaan pembakaran terhadap SD Negeri Dekai, Jalan Seredala, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua.


Susi Pudjiastuti Soal Insiden Susi Air: Pilot Disandera OPM hingga Penerbangan Tertunda

1 Maret 2023

Founder Susi Air, Susi Pudjiastuti memberikan keterangan pers soal pembakaran pesawat dan penyanderaan pilot Susi Air, Philip Mark Mehrtens, di Jakarta, Rabu, 1 Maret 2023. Susi Pudjiastuti meminta maaf atas kejadian pembakaran dan penyanderaan pilot Susi Air yang berdampak kepada terhentinya 40 persen operasional penerbangan di Papua dan berharap kelompok penyandera bisa membebaskan pilot Susi Air Philip Mark Mehrtens. TEMPO/ Febri Angga Palguna
Susi Pudjiastuti Soal Insiden Susi Air: Pilot Disandera OPM hingga Penerbangan Tertunda

Susi Pudjiastuti buka suara soal insiden pembakaran pesawat Susi Air di Papua, mulai dari pilot yang disandera OPM hingga penerbang yang tertunda.


Susi Air Akan Beberkan Perkembangan Terakhir Pencarian Pilotnya yang Disandera KKB di Papua

1 Maret 2023

Pilot Susi Air Phillip Mehrtens ditangkap setelah dia mendaratkan pesawat komersial kecilnya di wilayah pegunungan terpencil Nduga, Papua, 7 Februari 2023. Penerbangan tersebut membawa lima penumpang dan akan menjemput 15 pekerja bangunan yang sedang membangun klinik di Paro. TPNPB-OPM
Susi Air Akan Beberkan Perkembangan Terakhir Pencarian Pilotnya yang Disandera KKB di Papua

Maskapai penerbangan milik Susi Pudjiastuti, PT ASI Pudjiastuti Aviation (Susi Air), akan menggelar jumpa pers hari ini. Apa yang akan diumumkan?


Pesawat Susi Air Dibajak dan Dibakar, Penerbangan di Zona Merah Sebaiknya Dilakukan Militer?

11 Februari 2023

Pesawat Grand Caravan milik maskapai Susi Air. ANTARA/HO-Dishub Jember
Pesawat Susi Air Dibajak dan Dibakar, Penerbangan di Zona Merah Sebaiknya Dilakukan Militer?

Pengamat transportasi mengatakan penerbangan di zona merah sebaiknya dilakukan militer agar mencegak pembajakan yang terjadi pada pesawat Susi Air.


Prajurit TNI Korban Serangan TPNPB - OPM di Nduga Bertambah 1 Orang

27 Maret 2022

Prajurit TNI mengusung peti jenazah Sertu Anumerta M Rizal Maulana Arifin di TMP Cikutra Bandung, Jawa Barat, 29 Januari 2022. Rizal dan dua prajurit TNI lainnya gugur setelah terlibat kontak senjata dengan KKB di Kampung Jenggernok, Distrik Gome, Kabupaten Puncak, Papua, pada 27 Januari 2022. TEMPO/Prima Mulia
Prajurit TNI Korban Serangan TPNPB - OPM di Nduga Bertambah 1 Orang

Prajurit TNI korban serangan TPNPB-OPM di Nduga, Papua, pada Sabtu kemarin menjadi 2 orang.