Ujian Nasional Berbasis Komputer

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Darmaningtyas, pengamat pendidikan

    Setidaknya, ada dua hal mendasar yang membedakan ujian nasional (UN) 2015 dengan UN tahun-tahun sebelumnya. Pertama, mulai 2015, hasil UN tidak menjadi penentu kelulusan, melainkan sebagai sarana pemetaaan kualitas pendidikan saja, sedangkan kelulusan diserahkan sepenuhnya kepada sekolah, karena sekolahlah yang lebih paham akan perkembangan murid. Kedua, diperkenalkannya UN berbasis komputer atau disebut computer-based test (CBT), sehingga tidak semua UN dikerjakan dalam lembar kertas.

    Banyak orang—awalnya termasuk penulis sendiri—mengira CBT ini sama dengan UN daring (online), sehingga muncul kekhawatiran banyak pihak soal gangguan dari para hacker (peretas). Tapi ternyata CBT ini bukan UN online, hanya berbasis komputer saja. Pengertian online itu selalu terkoneksi dengan jaringan Internet yang luas, sehingga dapat diakses oleh banyak pihak dari mana saja. Sedangkan CBT hanya terkoneksi dengan server di sekolah itu, tidak dengan jaringan Internet secara luas sehingga tidak perlu dikhawatirkan akan diganggu oleh peretas.

    CBT sebetulnya sudah dilaksanakan sejak 2014. Hanya, saat itu baru khusus untuk sekolah-sekolah Indonesia yang di luar negeri. Namun pada 2015 UN komputer dicoba diterapkan pada 585 sekolah sebagai rintisan dari total 79.429 SMP/SMA/SMK yang ada.

    Secara konseptual, CBT bermanfaat meningkatkan mutu, fleksibilitas, dan untuk keandalan UN karena meminimalkan praktek menyontek. Dari segi waktu, pelaksanaan ujian dapat dilakukan secara bergiliran; memperlancar proses pengadaan UN karena tidak perlu mencetak dan mendistribusikan soal yang memerlukan waktu dan biaya besar; serta memberikan hasil yang lebih cepat dan detail kepada siswa, orang tua, dan sekolah.

    UN berbasis komputer ini sesungguhnya hanya mengakomodasi perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang ada di masyarakat. Anak-anak sejak usia SD telah banyak yang mengenal smartphone. Hanya, selama ini produk teknologi tersebut lebih banyak berfungsi rekreatif, lalu oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dimanfaatkan untuk lebih produktif, yaitu untuk mengerjakan soal UN.

    Memang diperlukan persyaratan tertentu untuk dapat melaksanakan CBT ini, antara lain jaringan listrik yang andal, rasio jumlah komputer dengan siswa 1:3, serta memiliki guru IT. Tapi yang tidak kalah penting adalah kesiapan mental guru maupun murid. Infrastruktur fisik lengkap namun kalau mental guru dan murid tidak siap, juga tidak bisa dilaksanakan.

    Sebagai rintisan, tidak terelakkan bahwa ada masalah dalam pelaksanaan CBT, terutama menyangkut soal keandalan jaringan listrik dan komputer. Kasus tertundanya uji coba CBT di Kota Tangerang (6 April 2015) lalu adalah contohnya. Tapi hambatan tersebut tidak boleh mengendurkan semangat memanfaatkan kemajuan teknologi sebagai sarana tes akhir.

    Namun UN berbasis komputer tak harus dipaksakan. Di perkotaan Jawa yang listriknya jarang mati, UN berbasis komputer mungkin dapat dilaksanakan di banyak sekolah, tapi di daerah-daerah luar Jawa yang listriknya sering biarpet, tentu CBT tidak bisa dilaksanakan. Dengan kata lain, kunci sukses CBT bergantung pada sinergi Kemendikbud serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.



  • UN
  •  

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.