Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Keindahan dan Absurditas

image-profil

image-gnews
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - AHMAD SAHIDAH, Dosen Filsafat Universitas Utara Malaysia

Karya Pablo Picasso, Les Femmes d'Alger (Perempuan Aljazair), tercatat dalam sejarah sebagai lukisan termahal dalam sebuah lelang. Lukisan minyak yang diciptakan sekitar 1954-1955 itu laku Rp 3,2 triliun. Hingga saat ini, pembelinya yang merogoh kocek sampai US$ 179.365.000, termasuk komisi 12 persen untuk rumah lelang Christie's, tak diketahui. Sebelumnya, karya termahal dipegang oleh lukisan karya seniman Inggris, Francis Bacon, Three Studies of Lucian Freud. Pada 2013, lukisan tersebut terjual seharga US$142,4 juta (Rp 1,8 triliun) di tempat yang sama.

Tak pelak, mengingat begitu fantastisnya harga sebuah lukisan, di portal The Guardian, Sarah Crompton, penulis dan penyiar, menyoal bagaimana mungkin sebuah karya seni berharga semahal itu, sementara pada waktu yang sama ada 21 anak di bawah usia lima tahun meninggal dunia setiap menit akibat penyakit yang bisa dicegah? Mungkin, pembeli bisa menyergah bahwa karya seorang jenius tak bisa dihargai, tapi apakah Picasso setuju? Untuk itu, Crompton lebih memilih uang sebanyak itu dibelanjakan di tempat lain untuk sesuatu yang lebih bermanfaat bagi khalayak, semisal kesehatan, pendidikan, dan fasilitas umum.

Berbeda dengan Crompton, Tiffany Jenkins, sosiolog budaya, melihat karya jenius memang tidak bisa menyembuhkan kanker atau menghentikan kematian anak yang disebut oleh Crompton. Namun, sebagai masyarakat beradab, manusia tidak hanya memiliki kebutuhan ragawi, tapi juga rohani. Kalau memakai logika Crompton, sebaiknya uang yang berlimpah itu digunakan untuk kesehatan warga. Namun, kebanyakan warga yang sakit tidak hanya ingin mendapatkan yang terbaik, tapi juga kehidupan yang berharga. Lagi-lagi, seni (art) bisa menyediakan keperluan yang terakhir ini.

Clive Bell, dalam The Aesthetic Hypothesis, menjelaskan bahwa titik mula bagi semua sistem estetik mesti berupa pengalaman pribadi terhadap emosi khas. Dengan demikian tidak ada pertimbangan obyektif tentang keindahan. Meskipun demikian, betapapun ia tak menggemari apa yang disebut dengan "seni tinggi", sejatinya, kata Curt Ducasse, tidak ada cita rasa baik atau buruk, melainkan hanya selera yang berbeda. Perbedaannya, kritikus bisa menjelaskan mengapa mereka bisa menerangkan kesukaannya atas sesuatu, sementara amatir hanya menikmatinya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Persoalannya, adakah secara etik, seseorang bisa menghamburkan uang sebanyak itu untuk sebuah lukisan? Tak pelak Tiffany Jenkins menyebut penikmat seni mahal tak lebih daripada orang kaya yang ingin menanam modal demi keuntungan pada masa mendatang, dan ingin tampak istimewa karena berbeda dengan yang lain.

Dengan demikian, apabila sebuah tindakan itu bisa dinilai dari manfaat untuk sebanyak mungkin orang, meskipun mengorbankan segelintir, jelas kegemaran semacam ini tampak lancung dari sudut pandang teori utilitarianisme. Sejatinya, alam semesta telah menyediakan begitu banyak pesona dan bisa diakses oleh segala lapisan masyarakat. Dengan merujuk pada pembentukan cita rasa yang bermula dari pengalaman sehari-hari, seperti diungkap oleh Pierre Bourdieu, sosiolog Prancis, secara bersama-sama kita bisa mewujudkan selera keindahan orang ramai yang wajar, terjangkau, dan tidak berlebihan. Pendek kata, kesederhanaan itu adalah kemewahan. *


Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Kelakuan SYL saat Jadi Mentan: Palak Rp 1 Miliar untuk Umrah Sekeluarga Sampai Beli Keris Rp 105 Juta

38 hari lalu

Mantan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) meninggalkan Gedung Merah Putih KPK seusai menjalani pemeriksaan pada Jumat, 17 Mei 2024. Tempo/Mutia Yuantisya
Kelakuan SYL saat Jadi Mentan: Palak Rp 1 Miliar untuk Umrah Sekeluarga Sampai Beli Keris Rp 105 Juta

Fakta Terbaru Sidang Syahrul Yasin Limpo (SYL), di antaranya pejabat Kementan diminta Rp 1 miliar


Menengok Pameran Karya Seniman Difabel di Taman Budaya Yogyakarta

41 hari lalu

Sejumlah karya seniman difabel dari berbagai provinsi di Indonesia ditampilkan dalam pameran bertajuk Jumangkah di Taman Budaya Yogyakarta 14-22 Mei 2024. Tempo/Pribadi Wicaksono
Menengok Pameran Karya Seniman Difabel di Taman Budaya Yogyakarta

Suluh Sumurup Art Festival 2024 dengan tema Jumangkah ini wujud ruang inklusi bagi difabel untuk bergerak melalui seni rupa.


Pengunjung Selalu Padat, Lukisan Mona Lisa di Museum Louvre Paris akan Dipindahkan

50 hari lalu

Petugas membersihkan lukisan
Pengunjung Selalu Padat, Lukisan Mona Lisa di Museum Louvre Paris akan Dipindahkan

Mona Lisa karya seni yang paling banyak dikunjungi di dunia, 10 juta orang datang ke Museum Louvre untuk melihat lukisan itu setiap tahunnya.


Demonstran Pro-Palestina Rusak Lukisan Arthur Balfour, Tokoh Penyebab Bencana Palestina

9 Maret 2024

Seorang aktivis pro-Palestina memotong lukisan Menteri Luar Negeri Inggris abad ke-20, Arthur Balfour, di Universitas Cambridge
Demonstran Pro-Palestina Rusak Lukisan Arthur Balfour, Tokoh Penyebab Bencana Palestina

Demonstran Aksi Palestina merusak lukisan Arthur Balfour, politikus Inggris yang pada 1917 berjanji memberikan rumah bagi Yahudi di Palestina


Cerita Pameran Lukisan Barli di Bandung dan Pemalsuan Karyanya

25 Februari 2024

Pameran belasan lukisan Barli di SuJiVa Resto & Art Space, Bandung, 15-29 Februari 2024.  Foto: TEMPO| ANWAR SISWADI.
Cerita Pameran Lukisan Barli di Bandung dan Pemalsuan Karyanya

Menurut Rizky, pameran lukisan karya Barli juga untuk memberi kesempatan bagi orang untuk melihat karya aslinya.


Ulang Tahun Perdana, Grey Art Gallery di Bandung Pajang Ratusan Karya Seni

9 Februari 2024

Pameran karya nominasi kompetisi
Ulang Tahun Perdana, Grey Art Gallery di Bandung Pajang Ratusan Karya Seni

Karya unik yang bisa dijumpai di Grey Art Gallery adalah Self Potrait by Van Gogh, 2022. Pembuatnya Abdi Setiawan, menggunakan potongan arang kayu.


Ayurika Gelar Pameran Tunggal Lukisan Kaca Benggala di Bandung

14 Januari 2024

Lukisan dua panel kanvas buatan Ayurika berjudul Temu. (Dok.Galeri).
Ayurika Gelar Pameran Tunggal Lukisan Kaca Benggala di Bandung

Pada pameran tunggal kali ini, Ayurika lebih berfokus untuk menampilkan gambar wajah bercorak realis ekspresif.


Akhir Pekan di Bandung, Dua Seniman Bali Gelar Pameran Tunggal

18 Desember 2023

Patung berjudul The Ancestors karya I Wayan Upadana buatan 2023.  Foto: TEMPO| ANWAR SISWADI.
Akhir Pekan di Bandung, Dua Seniman Bali Gelar Pameran Tunggal

Banyak seniman asal Bali menggelar pameran tunggal karya mereka di Bandung, dua di antaranya mengadakannya akhir tahun ini.


Intip Hasil Lukisan di Motor Listrik Sergap 30.1 Trail E-Motocraft

27 Agustus 2023

motor listrik Sergap 30.1 Trail E-Motocraft dilukis oleh Putu Bonus Sudiana. (foto: Sergap)
Intip Hasil Lukisan di Motor Listrik Sergap 30.1 Trail E-Motocraft

Seorang seniman bernama Putu Bonus Sudiana mencoba tantangan baru dengan melukis di bodi motor listrik Sergap 30.1 Trail E-Motocraft.


Karya-karya Fenomenal Pelukis Legendaris Djoko Pekik

14 Agustus 2023

Butet Kartaredjasa (kiri), Presiden Joko Widodo atau Jokowi (tengah), dan Djoko Pekik (kanan). (Instagram/@masbutet)
Karya-karya Fenomenal Pelukis Legendaris Djoko Pekik

Djoko Pekik meninggal 12 Agustus 2023. Berikut beberapa karya fenomenalnya antara lain Berburu Celeng dan Sirkus Adu Badak.