Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

93 Tahun Taman Siswa  

image-profil

image-gnews
Iklan

Bandung Mawardi, esais

Pada akhir 1921, terbentuklah perkumpulan Selasa Kliwon, beranggotakan sembilang orang. Soewardi Soerjaningrat ikut bergabung dengan misi mempertinggi spiritualitas dan adab Jawa. Soetatmo Soeriokoesoemo dan Ki Ageng Soerjomentaram menghendaki perkumpulan Selasa Kliwon sanggup "menaklukkan dunia modern" dan merangsang kemajuan bangsa. Misi terbesar mereka adalah mengadakan kemudahan pendidikan bagi kaum muda (Kenji T., Demokrasi dan Kepemimpinan: Kebangkitan Gerakan Taman Siswa, 1992). Soewardi Soerjaningrat ditugaskan menjalankan mandat: mengadakan pendidikan partikelir bercorak nasional alias melawan dominasi pendidikan kolonial. Mandat itu dibuktikan pada 3 Juli 1922 dengan mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa.

Sejarah pendidikan itu bermula di Yogyakarta. Perguruan Nasional Taman Siswa adalah representasi pembesaran nasionalisme berbasis pendidikan-pengajaran. Penggunaan istilah "nasional" menampar arogansi pemerintah kolonial. Soewardi bertekad mengajak kaum pribumi meraih kebijaksanaan, kemuliaan, kehormatan, dan kemajuan tanpa instruksi-instruksi kolonial. Perguruan itu bersemangat revolusioner. Ikhtiar besar dihadang pemerintah kolonial melalui ordonansi dan represi terhadap para tokoh di Taman Siswa.

Perguruan itu semakin besar, bersebaran di pelbagai kota di Jawa dan Sumatera. Pemerintah kolonial bertambah cemas saat melihat kaum pribumi menentukan sistem pendidikan dan kurikulum sendiri, tak menuruti peraturan-peraturan resmi. Taman Siswa bergerak dengan ramuan harmoni antara nasionalisme, pelestarian tradisi, dan kemodernan. Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara juga mengolah pelbagai ide dari para tokoh pendidikan Barat, Rabindranath Tagore, dan para leluhur di Nusantara dengan maksud menguatkan corak nasional dan pendidikan demi keluhuran.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Febre dalam buku Taman Siswa (1952) menganggap Taman Siswa itu Ki Hajar Dewantara. Penjelasan Febre: "… tjiptaan dan pentjipta disini adalah demikian rapatnja, sehingga sifat-sifat tjiptaan itu sesuai benar dengan watak arsiteknja." Ki Hajar Dewantara memang arsitek pendidikan nasional, tapi ia tak sendirian. Beliau selalu memerlukan urun ide, dana, dan tenaga dari pelbagai kalangan untuk memastikan perguruan nasional tak bisa dimatikan oleh penguasa. Harapan itu terkabul. Taman Siswa semakin berkembang di pelbagai kota. Para tokoh kebangsaan muncul dari rahim Taman Siswa. Masa panen terbukti saat Indonesia merdeka. Para lulusan Taman Siswa mengisi kantor-kantor pemerintah untuk menjalankan tugas demi bangsa dan negara.

Sejarah itu perlahan surut. Zaman sudah berubah. Tahun demi tahun, sekolah-sekolah bernama Taman Siswa tutup dan mengalami penurunan derajat. Taman Siswa lekas menjadi nostalgia. Kini, ikhtiar mengapresiasi Taman Siswa mulai dimunculkan lagi oleh Anies Baswedan, meski cenderung retorika puitis dan simbolis. Sejarah itu jauh tapi kita mesti menjenguk saat melihat situasi pendidikan di Indonesia gampang amburadul. Kita mesti menginsafi bahwa Taman Siswa tak harus selalu nostalgia. Taman Siswa itu gerakan. Kita pantas menjadikan Taman Siswa sebagai referensi gerakan ketimbang cuma "cerita pendek" di buku-buku sejarah pendidikan Indonesia. *

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Wisata Edu-heritage Ungkap Benang Merah Cirebon - Jakarta di Masa Lalu

13 hari lalu

Bangunan Keraton Kasepuhan yang dibangun oleh Panembahan Pakungwati I tahun 1529 di Cirebon, Jawa Barat, (26/1). Keraton kerajaan Islam ini merupakan perluasan dari Keraton Pakungwati yang dibangun oleh Pangeran Cakrabuana. TEMPO/Prima Mulia
Wisata Edu-heritage Ungkap Benang Merah Cirebon - Jakarta di Masa Lalu

Sejarah hubungan Cirebon - Jakarta dimulai saat Pelabuhan Sunda Kelapa yang dikuasai oleh Portugis.


692 Tahun Ibnu Khaldun, Sejarawan Muslim Penulis The Muqaddimah Pengantar Sejarah Dunia

17 hari lalu

Ibnu Khaldun
692 Tahun Ibnu Khaldun, Sejarawan Muslim Penulis The Muqaddimah Pengantar Sejarah Dunia

Ibnu Khaldun seorang tokoh muslim yang berpengaruh terhadap ilmu sosial, politik, dan ekonomi dunia. Ini peringatan 692 tahun kelahirannya.


Tutup Sampai Juni 2024, Benteng Vredeburg Yogya Direvitalisasi dan Bakal Ada Wisata Malam

47 hari lalu

Salah satu sudut Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta yang tengah direvitalisasi hingga Juni 2024. Tempo/Pribadi Wicaksono
Tutup Sampai Juni 2024, Benteng Vredeburg Yogya Direvitalisasi dan Bakal Ada Wisata Malam

Museum Benteng Vredeburg tak hanya dikenal sebagai pusat kajian sejarah perjuangan Indonesia tetapi juga destinasi ikonik di kota Yogyakarta.


Situs Sejarah Hingga Museum Jadi Favorit Wisatawan di Festival Musim Semi Cina

18 Februari 2024

Festival Musim Semi di Cina. Xinhua
Situs Sejarah Hingga Museum Jadi Favorit Wisatawan di Festival Musim Semi Cina

Liburan Festival Musim Semi atau Tahun Baru Imlek berlangsung meriah di Cina. Wisatawan penuhi libur 8 hari itu ke berbagai destinasi wisata menarik.


Arab Saudi Temukan Ribuan Artefak pada Awal Periode Islam

6 Februari 2024

Pengunjung melihat koleksi museum di Museum Almoudi, Mekkah, Arab Saudi, Jumat 28 Oktober 2022. Museum tersebut berisikan berbagai properti peradaban dan perlengkapan hidup sehari- hari masyarakat Arab di zaman dulu. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Arab Saudi Temukan Ribuan Artefak pada Awal Periode Islam

Di antara temuan arkeologi itu adalah artefak-artefak dari Masjid Usman bin Affan pada abad ke 7 hingga ke 8 sebelum masehi


Optimis Ganjar-Mahfud Kuasai Suara, Sekjen PDIP: Keduanya Berpihak Sejarah yang Benar

14 Januari 2024

Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDIP Hasto Kristiyanto memberikan keterangan kepada media ketika mengunjungi Rumah Susun Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, pada Ahad, 14 Januari 2024. Dalam kunjungannya itu, Hasto juga membagikan telur kepada warga setempat. Tempo/ Adil Al Hasan
Optimis Ganjar-Mahfud Kuasai Suara, Sekjen PDIP: Keduanya Berpihak Sejarah yang Benar

Mengingat pentingnya sejarah itu, Hasto mengungkap pesan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.


Berkunjung ke Lokasi Tragedi Situjuah di Sumatra Barat, Ada Peringatan Khusus Setiap Januari

12 Januari 2024

Monumen Peristiwa Situjuah di Nagari Situjuah Batua, Sumatra Barat (TEMPO/Fachri Hamzah)
Berkunjung ke Lokasi Tragedi Situjuah di Sumatra Barat, Ada Peringatan Khusus Setiap Januari

Sampai saat ini tragedi Situjuah masih dikenang masyarakat Nagari Situjuah Batua Sumatra Barat. Ada pengibaran bendera sebulan penuh dan ziarah makam


Bernalar Berdaya di SMAN 91 Jakarta: Membangun Generasi Muda dengan Pemikiran Cerdas dan Literasi

11 Januari 2024

Bernalar Berdaya di SMA 91 Jakarta Timur
Bernalar Berdaya di SMAN 91 Jakarta: Membangun Generasi Muda dengan Pemikiran Cerdas dan Literasi

Kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan generasi muda terhadap literasi digital dan sejarah.


Ini Alasan Kenapa Tahun Baru Jatuh Pada 1 Januari, Ada Sejarahnya

26 Desember 2023

Januari ditetapkan sebagai awal tahun baru melalui sejarah yang panjang. Berikut ini alasan kenapa tahun baru jatuh pada 1 Januari. Foto: Canva
Ini Alasan Kenapa Tahun Baru Jatuh Pada 1 Januari, Ada Sejarahnya

Januari ditetapkan sebagai awal tahun baru melalui sejarah yang panjang. Berikut ini alasan kenapa tahun baru jatuh pada 1 Januari.


Sejarah Hari Ibu 22 Desember, Berawal dari Sumpah Pemuda

22 Desember 2023

Ada banyak rekomendasi kado untuk hari ibu yang unik. Tidak melulu memberi bunga atau baju, Anda bahkan bisa memberikan kado dalam bentuk investasi. Foto: Canva
Sejarah Hari Ibu 22 Desember, Berawal dari Sumpah Pemuda

Sejarah Hari Ibu 22 Desember berawal dari Kongres Pemuda Indonesia pada 28 Oktober 1928 hingga mencetuskan para perempuan untuk menyatukan diri.