Waspada Teror ISIS

Majalah Tempo

Enak dibaca dan perlu.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemerintah tak boleh lengah dalam menghadapi ancaman teror dari kelompok radikal Negara Islam Irak dan al-Sham (ISIS). Serangan di Paris yang menewaskan sedikitnya 130 orang pada pertengahan November lalu menunjukkan bahwa kelompok ini mampu menggalang kekuatan bersenjata di luar Irak dan Suriah. Eropa, Amerika Serikat, dan sejumlah negara Asia bersiaga, begitu pula semestinya Indonesia.

    Peningkatan kewaspadaan itu diperlukan, mengingat sejumlah pelaku serangan di Paris masih belum tertangkap. Salah satu tersangka teror, Frederic C. Jean Salvi, bahkan pernah bergabung dengan kelompok pengajian As-Sunnah di Cibiru, Bandung. Kelompok Cibiru ini diketahui masuk daftar kelompok pendukung ISIS. Bukan mustahil ia kembali bersembunyi di Indonesia.

    Warga Prancis tersebut pernah disangkutkan dengan kelompok yang ditangkap polisi lima tahun lalu itu. Ketika itu polisi menangkap lima tersangka yang dideteksi akan meledakkan Markas Besar Polri dan sejumlah gedung kedutaan besar di Jakarta. Polisi menyita Mitsubishi Galant tahun 1985 milik Salvi yang diduga akan digunakan sebagai pengangkut bom.

    Menyusupnya warga asing yang berniat menyebarkan teror itu harus diantisipasi. Bukan sekali ini saja warga asing terlibat dalam kegiatan radikal yang berujung pada aksi penembakan atau pengeboman. Pada September tahun lalu, misalnya, polisi menangkap empat orang asing yang diduga sebagai bagian dari jaringan teroris pimpinan Santoso di Poso, Sulawesi Tengah. Kelompok Santoso ini masih terlibat baku tembak dengan aparat keamanan pada pekan lalu.

    Selain mengamati warga asing, polisi mesti memantau pergerakan warga Indonesia yang pulang dari Suriah. Ada sekitar 220 orang yang kembali dari negara itu. Polisi tentu tak boleh gegabah menuding mereka sebagai pelaku teror. Sebagian dari mereka justru para ibu dan anak-anak yang berangkat ke Suriah untuk mencari keluarga mereka.

    Tapi tak dapat disangkal bahwa kelompok radikal Negara Islam ini telah memikat banyak pengikut. Jumlah warga Indonesia yang teridentifikasi bergabung dengan ISIS, misalnya, mencapai 384 orang. Sebanyak 54 orang di antaranya tewas di Suriah dan 59 orang lainnya masih bersama ISIS. Direktur Pelayanan Terpadu Satu Pintu Badan Pengusahaan Batam, Dwi Djoko Wiwoho, adalah salah seorang yang menyatakan terang-terangan bergabung dengan ISIS.

    Dengan dana besarpendapatan dari ladang minyak sebesar US$ 40 juta (hampir Rp 600 miliar) per bulanmereka melakukan propaganda lewat pelbagai situs dan media sosial. Kelompok ini juga mengirim dana ke Indonesia. Dengan kedok menikahi perempuan Indonesia, mereka meminta perempuan yang akan dijadikan istri membuka rekening. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan menemukan aliran dana Rp 7 miliar yang disinyalir untuk pembiayaan terorisme.

    Dengan adanya sejumlah fakta itu, aparat keamanan dan masyarakat mesti lebih memperketat pengawasan terhadap pendukung kelompok teror itu. Mencegah, bagaimanapun, jauh lebih baik sebelum korban bergelimpangan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.