NU, Muhammadiyah, dan NKRI

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sumiati Anastasia, penulis

    Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, dua organisasi Islam terbesar di negeri ini, telah menggelar muktamar pada awal Agustus ini, di Jombang dan Makassar. Dua muktamar itu sangat penting bagi bangsa dan negara.

    Terlepas dari agenda dan dinamika internal muktamar, kita berharap kedua ormas Islam itu tetap menjadi pengusung utama Islam moderat di tengah menguatnya kecenderungan radikalisme akhir-akhir ini. Kecenderungan demikian kerap mengusik relasi Islam dengan yang lain, di negeri yang majemuk ini.

    Apalagi hingga kini, masih terus terjadi pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan (KBB) di sejumlah wilayah di negeri ini. Menurut data The Wahid Institute pada 29 Desember 2014, total temuan pelanggaran KBB sepanjang 2014 adalah 158 kasus.

    Akibat pelanggaran KBB itu, beberapa kelompok minoritas merasa terpinggirkan, sedangkan kelompok radikal kian menguat. Bahkan kelompok ISIS (Islamic State of Iraq and al-Sham) punya pendukung dan simpatisan di negeri yang berdasar Pancasila ini.

    Maka, semoga muktamar NU dan Muhammadiyah menggelorakan kembali semangat membangun dialog guna menjaga NKRI. Sebab, NKRI tak akan menjadi rumah yang aman, khususnya bagi minoritas, manakala kelompok radikal terus merecoki dengan paham yang anti-Pancasila dan NKRI.

    Terkait dengan dialog, yang penting yang satu ini bukan untuk membicarakan atau mengubah akidah atau dogma suatu agama. Dialog juga bukan debat kusir yang menjelekkan pihak lain, sebagaimana di media sosial. Dialog di sini lebih merupakan upaya membangun saling pengertian dan menghargai perbedaan demi merawat NKRI.

    Menurut mantan Ketua PBNU KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, NKRI itu ibarat sebuah rumah besar yang banyak kamarnya dan kita mempunyai kamar sendiri-sendiri. Saat di dalam kamar, setiap pemilik kamar bisa menggunakan dan merawat kamarnya sendiri-sendiri serta boleh berbuat apa pun di dalamnya. Tapi, ketika berada di ruang keluarga atau di ruang tamu, kepentingan masing-masing kamar dilebur untuk kepentingan rumah bersama.

    Para penghuni rumah, tanpa mempersoalkan asal kamar masing-masing, harus bersatu merawat rumah itu dan mempertahankannya secara bersama-sama dari serangan yang datang dari luar. Kita mempunyai rumah besar NKRI yang sudah dibangun dengan fondasi kokoh Pancasila dan yang terdiri atas kamar-kamar primordial. Kita harus bersatu menjaga rumah NKRI ini tanpa kehilangan identitas primordial masing-masing.

    Rumah NKRI semoga menjadi rumah yang nyaman bagi setiap warganya, sehingga setiap umat bisa memberikan kontribusi positif. Maka membangun dialog di tengah beragam perbedaan menjadi keniscayaan, mengingat kemajemukan negeri ini. Apalagi para pendiri bangsa sudah mewariskan moto "Bhinneka Tunggal Ika". Berbeda-beda tetapi tetap satu.

    Dengan berpegang pada moto tersebut, kita sebenarnya tidak perlu alergi terhadap perbedaan, apalagi setiap agama sama-sama mengajarkan kebaikan, cinta, dan keadilan. Setiap pemeluk agama perlu terus mendorong terjadinya dialog, kerja sama, dan sinergi di dalam bingkai NKRI.

    Pasca-muktamar, NU dan Muhammadiyah perlu terus menjadi benteng melawan radikalisme yang memecah-belah kemanusiaan. Bersama kedua ormas ini, mari kita merawat kebhinnekaan dan membangun kebersamaan demi NKRI yang aman, berjaya, dan maju. *


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    OTT Bupati Kolaka Timur, Simak Fakta Penangkapan dan Profil Andi Merya

    Bupati Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Andi Merya Nur, ditangkap KPK dalam OTT. Ia diduga menerima suap yang berhubungan dengan dana hibah BNPB.