Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Indonesia di Antara Arab dan Iran

image-profil

image-gnews
Iklan

Smith Alhadar, Direktur Eksekutif Institute for Democracy Education (IDE)

Pada 11-15 September, Presiden Jokowi Widodo berkunjung ke tiga kerajaan Arab yang penting di Teluk Persia: Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar. Ketiga negara ini merupakan anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) bersama Oman, Bahrain, dan Kuwait. Di tiga kerajaan ini, Jokowi disambut hangat. Raja Salman bin Abdul Aziz bahkan terbang dari Ibu Kota Riyadh untuk menemui Jokowi di Kota Jeddah. Selain itu, Raja menyematkan penghargaan medali Star of the Order of Abdul Aziz al-Saud.

Nan tak kalah penting, perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco, berkomitmen menginvestasikan US$ 10 miliar di bidang pembangunan kilang, storage, dan sistem distribusi. Semua ini menunjukkan tingginya apresiasi Raja Arab Saudi kepada pemimpin Indonesia. Di UEA dan Qatar pun Jokowi mendapat sambutan tak kurang hangatnya. Sejumlah kerja sama sosial, politik, dan khususnya ekonomi pun disepakati. Walhasil, hasil kunjungan ini melebihi target, kata Jokowi.

Bagaimanapun, sulit untuk tidak mengaitkan keramahan para pemimpin Arab ini dengan isu politik regional, terutama perihal Iran. Dicabutnya sanksi ekonomi dan rujuknya Iran dengan Barat menyusul dicapainya kesepakatan program nuklir Iran pada 14 Juli lalu menciptakan dinamika baru di Timur Tengah. GCC sangat kecewa dengan kesepakatan itu, yang menetapkan pengayaan uranium dari program nuklir Iran hanya dibatasi selama sepuluh tahun. Dengan perkembangan ini, Iran akan mendapat pemasukan besar dari pencarian aset-asetnya yang dibekukan di bank-bank luar negeri dan dari ekspor minyak dan gasnya, sehingga lebih leluasa membantu Irak, Suriah, Libanon, Hamas dan Jihad Islam, serta milisi Houthi di Yaman. Yang tak kurang mengkhawatirkan adalah kemungkinan Iran memprovokasi komunitas Syiah di dalam GCC.

Apalagi ada gelagat Iran menarik-narik Indonesia untuk berpihak kepadanya dalam isu Yaman. Pada 29 April, Wakil Presiden Iran Bidang Manajemen dan Perencanaan Mohammad Bagher Nobakht menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla di kantornya di Jakarta untuk membicarakan krisis Yaman. Seusai pertemuan, Kalla menyatakan Indonesia dan Iran bersepakat tidak menggunakan kekerasan ataupun perang dalam menyelesaikan konflik internal Yaman. Posisi Indonesia ini berseberangan dengan GCC, yang memilih jalan perang, tapi juga tak sama dengan Iran, yang berkepentingan di Yaman dengan mendukung milisi Houthi. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, posisi politik Indonesia dalam konflik di dunia Islam tentu sangat penting.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Hubungan Indonesia-Iran memang cukup baik. Di sela-sela Konferensi Asia-Afrika di Jakarta dan Bandung pada April silam, pembicaraan Presiden Jokowi dan Presiden Iran Hassan Rouhani menghasilkan kesepakatan-kesepakatan di bidang kebudayaan dan kerja sama ekonomi. Sebagai negara besar (jumlah penduduknya 80 juta jiwa), kaya energi (minyak dan gas), dan letaknya yang sangat strategis sebagai akses ke Turki, Kaukasia, dan Asia Tengah, Iran punya daya tarik ekonomi yang kompetitif. Di bidang politik, Iran sedang bersaing dengan GCC dalam perebutan pengaruh di kawasan panas itu. GCC menggunakan identitas etnis, sementara Iran menggunakan agama (Syiah). GCC khususnya sedang berjuang mendepak Iran dari Irak, Suriah, Libanon, Palestina, dan Yaman. Dalam semua kasus ini, Indonesia mengambil sikap netral. Sebelum GCC menyerang milisi Houthi, Arab Saudi mengajak Indonesia ikut serta, tapi Jakarta menolak. Di Suriah, Indonesia bersama Iran, Irak, dan Libanon masih membuka kedutaan besar saat seluruh kedubes  anggota GCC telah ditutup. Dalam konteks ini, tampaknya Saudi, Qatar, dan UEA ingin menarik Indonesia ke kubu mereka.

Sekarang tinggal bagaimana kepintaran Indonesia memainkan perannya agar tujuan-tujuan nasional bisa dicapai tanpa merusak hubungan baik dengan semua negara di atas. Mesti dikatakan juga bahwa kendati berada dalam satu organisasi kerja sama militer dan ekonomi, GCC tidak satu suara dalam sejumlah isu. Pada akhir Agustus lalu, UEA berbalik-bersama Mesir dan Yordania-mendukung rezim Bashar al-Assad. Menghadapi krisis Yaman, Oman menolak bergabung dengan GCC. Sedangkan Qatar berselisih dengan Saudi dalam soal Al-Ikhwan al-Muslimun (IM) di Mesir.

Namun, dalam konteks Iran, mereka satu suara. Pada Desember tahun lalu, dalam KTT di Dhoha, Qatar, GCC sepakat membentuk angkatan laut bersama dalam rangka menghadapi Iran. Dengan muslim Indonesia yang moderat dan toleran serta tak memiliki beban sejarah dengan Iran yang Syiah dan punya hubungan baik dengan seluruh anggota GCC, Irak, Suriah, Palestina, dan Yaman, alangkah baiknya bila Indonesia-yang bersama Iran, anggota GCC, Irak, Suriah, dan Yaman adalah anggota Organisasi Kerja Sama Islam-memainkan peran pendamai. Kedudukan aman dan damai serta kerja samalah yang dapat membuat dunia Islam berkembang menuju masa depan yang lebih baik.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Dewan Eropa Kecam Standar Ganda dalam Konflik Ukraina dan Timur Tengah

4 hari lalu

Presiden Dewan Eropa Charles Michel menghadiri pertemuan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Aula Besar Rakyat di Beijing, Tiongkok, 1 Desember 2022. European Union/Handout via REUTERS
Dewan Eropa Kecam Standar Ganda dalam Konflik Ukraina dan Timur Tengah

Presiden Dewan Eropa Charles Michel mengatakan standar ganda tidak dapat diterima sehubungan dengan konflik di Ukraina dan Timur Tengah


Ragam Aksi Protes Berbagai Negara Kepada Israel

13 hari lalu

Tentara Israel memegang kerangka plastik yang ditemukan di Gaza dan dibawa ke Israel, di tengah konflik Israel dan Hamas, 27 Desember 2023. Sejumlah media menilai kerangka itu sebagai simbol pembantaian terhadap warga Palestina di Gaza.REUTERS/Amir Cohen
Ragam Aksi Protes Berbagai Negara Kepada Israel

Israel disebut-sebut sebagai negara yang paling dibenci. Berimbas kepada warganya yang ditolak masuk di sejumlah negara.


Gencar Ekspansi Pasar Global, Pertamina International Shipping Buka Dua Rute Baru di Afrika

16 hari lalu

PT Pertamina International Shipping (PIS) per 1 Februari 2023 resmi memiliki kapal Very Large Gas Carrier (VLGC) atau kapal tanker gas raksasa.
Gencar Ekspansi Pasar Global, Pertamina International Shipping Buka Dua Rute Baru di Afrika

PT Pertamina International Shipping (PIS) gencar melakukan ekspansi di pasar global. Melalui kantor cabang PIS Middle East (PIS ME), perusahaan sukses penetrasi market baru di kawasan Afrika dan menambah dua rute pelayaran baru skala internasional.


Salip Samsung, Huawei Rajai Pasar Ponsel Lipat Fokus pada Model Ponsel 5G

19 hari lalu

Smartphone dengan logo Huawei terlihat di depan bendera AS dalam ilustrasi ini diambil 28 September 2021. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo
Salip Samsung, Huawei Rajai Pasar Ponsel Lipat Fokus pada Model Ponsel 5G

Pendorong utama kesuksesan Huawei di pasar perangkat lipat kalahkan Samsung adalah fokusnya pada model ponsel 5G.


All Eyes on Rafah, Bentuk Solidaritas Warga Dunia Terhadap Tragedi di Rafah

20 hari lalu

All Eyes on Rafah. Foto: Instagram.
All Eyes on Rafah, Bentuk Solidaritas Warga Dunia Terhadap Tragedi di Rafah

Ramai gambar All Eyes on Rafah di jagat internet, mengapa demikian?


5 Alasan Norwegia Mengakui Negara Palestina

21 hari lalu

Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares, Menteri Luar Negeri Norwegia Espen Barth Eide dan Menteri Luar Negeri Irlandia Micheal Martin memberi isyarat setelah konferensi pers di Brussels, Belgia 27 Mei 2024.REUTERS/Johanna Geron
5 Alasan Norwegia Mengakui Negara Palestina

PM Norwegia menegaskan bahwa mengakui Negara Palestina adalah penting untuk berkontribusi pada perdamaian di Timur Tengah.


Gaza Terus Digempur Israel, RI Siapkan Rencana Evakuasi WNI di Timur Tengah

21 hari lalu

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Kementerian Luar Negeri Judha Nugraha. ANTARA/Yashinta Difa/aa.
Gaza Terus Digempur Israel, RI Siapkan Rencana Evakuasi WNI di Timur Tengah

Kedutaan Besar RI di Timur Tengah telah menyiapkan rencana kontingensi untuk keselamatan WNI di tengah potensi perluasan konflik Israel Hamas di Gaza.


Konflik Timur Tengah Memanas, Rupiah Ditutup Melemah Rp 16.160

22 hari lalu

Ilustrasi Uang Rupiah. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Konflik Timur Tengah Memanas, Rupiah Ditutup Melemah Rp 16.160

Dolar AS menguat dan membuat nilai tukar rupiah melemah dalam penutupan perdagangan hari ini, Rabu, 29 Mei 2024. Nilai tukar rupiah turun 70 poin menjadi Rp 16.160 per dolar AS.


Perlintasan Imigrasi Soekarno-Hatta ke Timur Tengah Alami Lonjakan Penumpang

22 hari lalu

Jamaah haji asal embarkasi Jakarta Pondok Gede melakukan lapor diri keimigrasian setibanya di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa, 4 Juli 2023. Sebanyak 371 jamaah haji kloter empat embarkasi Jakarta Pondok Gede menjadi penerbangan perdana yang tiba di tanah air setelah melakukan rangkaian ibadah haji Arab Saudi. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Perlintasan Imigrasi Soekarno-Hatta ke Timur Tengah Alami Lonjakan Penumpang

Jemaah calon haji yang mendapatkan layanan Makkah Route tidak perlu mengantre untuk proses keimigrasian saat tiba di bandara kedatangan.


Malaysia Desak Negara Anggota Konvensi Genosida Laksanakan Putusan ICJ terhadap Israel

23 hari lalu

Warga Palestina mencari makanan di antara puing-puing yang terbakar pasca serangan Israel di daerah yang diperuntukkan bagi para pengungsi, di Rafah di selatan Jalur Gaza, 27 Mei 2024. Israel dilaporkan membombardir Rafah, yang menyebabkan 45 orang tewas. REUTERS/Mohammed Salem
Malaysia Desak Negara Anggota Konvensi Genosida Laksanakan Putusan ICJ terhadap Israel

Malaysia mendesak negara anggota Konvensi Genosida melaksanakan keputusan ICJ terhadap Israel