Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Menanti Gebrakan Hilmar Farid

image-profil

image-gnews
Iklan

Aris Setiawan, Etnomusikolog dan Pengajar Institut Seni Indonesia Surakarta

Di ujung 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI melantik Direktur Jenderal Kebudayaan baru, Hilmar Farid. Pengangkatan Hilmar mengubah tradisi yang selama ini dipegang oleh Kementerian, karena Hilmar adalah pejabat eselon satu pertama yang berlatar belakang non-pegawai negeri.

Hilmar dikenal sebagai sejarawan dan Ketua Perkumpulan Praxis sejak 2012. Dia adalah sejarawan yang meraih gelar doktor bidang studi kebudayaan dari National University of Singapore. Keterlibatannya dalam bidang kebudayaan tak diragukan lagi.

Meskipun dia dipilih sebagai Dirjen Kebudayaan melalui proses lelang jabatan, kita ingat bahwa Hilmar punya sumbangan besar bagi pemenangan Joko Widodo sebagai presiden. Pada masa pemilihan presiden, dia adalah Ketua Panitia Simposium Sekretariat Nasional Jokowi. Jauh sebelumnya, saat Jokowi maju menjadi calon Gubernur DKI Jakarta, Hilmar juga mendirikan Relawan Penggerak Jakarta Baru (RPJB) untuk pemenangan Jokowi.

Tapi proses lelang jabatan itu terkesan bertele-tele. Posisi ini lowong sejak Mei 2015. Banyak peserta yang mendaftar, namun berbulan-bulan tak ada kepastian siapa yang terpilih. Lamanya proses seleksi ini menimbulkan asumsi publik bahwa jabatan tersebut dianggap tidak penting. Di saat lembaga di bawah kementerian lain sedang sibuk mengaplikasikan visi-misi Presiden Jokowi dengan semboyan "kerja-kerja-kerja", kinerja kementerian di bidang kebudayaan justru tak berjalan maksimal karena lamanya proses lelang.

Kini Hilmar menjadi sosok yang terpilih dan diharapkan memecah kebuntuan. Di balik gunjingan balas jasa dari penguasa, kita sepatutnya berharap banyak dari gebrakan-gebrakan yang dapat ditorehkannya. Hal ini menjadi penting, mengingat selama ini kita belum sepenuhnya melihat hasil kerja nyata dari Dirjen Kebudayaan yang langsung dirasakan oleh masyarakat luas. Padahal, hingga detik ini masih banyak konflik horizontal berbau suku, ras, agama, dan golongan terjadi di negeri ini. Idealnya, dalam konteks tersebut, lembaga negara yang bekerja di wilayah kebudayaan dapat menunjukkan posisi tawar dan sumbangsihnya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Perilaku, karakter, dan cara berpikir positif manusia Indonesia adalah cerminan kebudayaan itu sendiri. Di Jawa, misalnya, kita dikenalkan dengan istilah tepa selira, mad sinamadan, andap ansor, adi luhung, tut wuri handayani, yang merupakan ciri manifestasi kebudayaan yang kini telah luntur atau bahkan hilang. Kita tidak lagi menjumpai etika dalam berbicara, sopan-santun, toleransi, memahami, dan menghargai sesama.

Lembaga kebudayaan idealnya dapat bekerja di wilayah itu: memantik obor kebudayaan yang selama ini beranjak padam. Dia tidak melulu melakukan upaya konservasi kesenian dengan menggelar pentas-pentas seni, pameran atau mendata kekayaan budaya berbentuk fisik dengan mengirim para pamong budaya ke daerah-daerah.

Dalam konteks musik, misalnya, pada akhir 2015 kita dihadapkan bahwa toko kaset musik (compact disk) terbesar dan satu-satunya di Indonesia, Disc Tarra, menutup 40 gerainya. Kini hanya tinggal enam gerai, dan ironisnya semua berlokasi di Ibu Kota. Sementara toko kaset musik lain, sebutlah Aquarius, telah terlebih dulu gulung tikar.

Maka, untuk mencari kaset musik resmi atau legal saja kini semakin sulit. Hal ini justru akan mendorong pembajakan musik berlangsung secara besar-besaran. Dirjen Kebudayaan dapat berperan besar dalam mengatasi persoalan tersebut. Meniru kinerja Apple yang memunculkan iTunes dan Google dengan Google Play, pemerintah dapat menyediakan portal resmi, semacam etalase musik Indonesia dengan kapasitas gigantik, untuk diunduh secara legal dengan harga terjangkau dan kualitas unggul. Royalti dibayarkan kepada musikus dan pemerintah bisa menarik pajak berdasar kalkulasi keuntungan hasil penjualan. Apakah Hilmar dapat melakukan gebrakan?

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


5 Negara dengan Budaya Unik di Dunia, Ada Perayaan Bunga Mekar

13 hari lalu

Pengunjung berfoto di bawah bunga sakura pada puncak mekarnya di Tidal Basin, di Washington, DC, AS, 18 Maret 2024. Puncak mekarnya, yang didefinisikan ketika tujuh puluh persen bunga sakura mekar, terjadi pada minggu ini. Puncak mekarnya bunga tahun ini, yang dimulai pada tanggal 17 Maret, merupakan yang kedua paling awal dalam sejarah dan dipandang sebagai cerminan dari pemanasan suhu. EPA-EFE/MICHAEL REYNOLDS
5 Negara dengan Budaya Unik di Dunia, Ada Perayaan Bunga Mekar

Ada beberapa negara dengan budaya unik yang dapat menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung. Ini daftarnya untuk Anda.


KCBN Muarajambi Diharapkan Bisa Jadi Daya Tarik Budaya di Jambi

15 hari lalu

Kiri ke kanan: Anggota DPR RI asal Jambi dari Partai Amanat Nasional, Bakrie; Gubernur Jambi, Al Haris; Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Hilmar Farid; Arsitek, Yori Antar pada acara Prosesi Tegak Tiang Tuo 5 Juni 2024 di KCBN Muarajambi/Tempo-Mitra Tarigan
KCBN Muarajambi Diharapkan Bisa Jadi Daya Tarik Budaya di Jambi

Gubernur Jambi mengajak masyarakat sekitar untuk mengerti sejarah candi-candi di KCBN Muarajambi.


Rempah Nusantara Menghubungkan Budaya Antarbangsa di Asia Tenggara

21 hari lalu

Rempah Nusantara Menghubungkan Budaya Antarbangsa di Asia Tenggara

Kemendikbudristek bekerja sama dengan Sekretariat ASEAN mengadakan acara "ASEAN Spice: The Connecting Culture of Southeast Asians" guna mendalami lebih lanjut tentang kekayaan rempah Nusantara.


4 Fakta Tradisi Ekstrem Perang Obor di Jepara dan Misteri Air Lodoh yang Bisa Sembuhkan Luka Bakar

28 hari lalu

Peserta saling serang menggunakan obor saat tradisi perang obor di Desa Tegal Sambi, Tahunan, Jepara, Jawa Tengah, Senin 5 Juni 2023. Acara yang digelar setahun sekali sebagai wujud syukur masyarakat setempat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki melimpah, kesehatan serta keselamatan itu diikuti 40 peserta dengan sebanyak 350 obor dijadikan alat perang. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho
4 Fakta Tradisi Ekstrem Perang Obor di Jepara dan Misteri Air Lodoh yang Bisa Sembuhkan Luka Bakar

Perang obor memiliki keunikan tersendiri bagi masyarakat Jepara karena hanya dilakukan di malam Selasa Pon bulan Dzulhijjah dan di satu tempat saja yakni Desa Tegal Sambi, Jepara.


Mengenal Folklor, Bidang Ilmu yang Mempelajari Gosip dan Tradisi Lisan

29 hari lalu

Penari berpose sebelum tampil pada  pagelaran Bojonegoro Thengul International Folklore 2019 di Bojonegoro, Jawa Timur, Ahad, 14 Juli 2019.. Pagelaran ini memecahkan rekor MURI Tari Thengul kolosal dengan peserta 2.019 penari. ANTARA/Zabur Karuru
Mengenal Folklor, Bidang Ilmu yang Mempelajari Gosip dan Tradisi Lisan

Folklor dikenal sebagai kajian yang menjelaskan tradisi lisan di masyarakat, untuk mengungkapkan makna di baliknya. Berikut penjelasannya.


Universitas Brawijaya Akan Buka Rumah Budaya Indonesia di Tianjin Cina

42 hari lalu

Kampus Universitas Brawijaya di Malang, Jawa Timur, Senin, 24 November 2014. [TEMPO/STR/Aris Novia Hidayat; ANH2014112508]
Universitas Brawijaya Akan Buka Rumah Budaya Indonesia di Tianjin Cina

Universitas Brawijaya akan membuka Rumah Budaya Indonesia di Tianjin, China untuk mendorong pengenalan bahasa


Sejarah Panjang Kebaya dan Perlunya Jadi Identitas Budaya Indonesia

44 hari lalu

Ilustrasi busana kebaya. TEMPO/Fahmi Ali
Sejarah Panjang Kebaya dan Perlunya Jadi Identitas Budaya Indonesia

Pakar mengatakan kebaya bisa menjadi identitas budaya Indonesia berbasis kelokalan dengan sejarah panjang busana di Nusantara.


Mahasiswa STIP Jakarta Meninggal Dianiaya Senior, Mengapa Budaya Kekerasan di Kampus Terus Terulang?

45 hari lalu

Ilustrasi kekerasan. shutterstock.com
Mahasiswa STIP Jakarta Meninggal Dianiaya Senior, Mengapa Budaya Kekerasan di Kampus Terus Terulang?

Seorang mahasiswa STIP Jakarta meninggal setelah dianiaya oleh seniornya. Lalu, mengapa budaya kekerasan itu terus terulang?


Cara Perpustakaan Pikat Pembaca Muda

46 hari lalu

Cara Perpustakaan Pikat Pembaca Muda

Sejumlah perpustakaan asing milik kedutaan besar negara sahabat di Jakarta berbenah untuk menarik lebih banyak anak muda, khususnya generasi Z.


Bamsoet Dukung Rencana Touring Kebudayaan

58 hari lalu

Bamsoet Dukung Rencana Touring Kebudayaan

Bamsoet mendukung rencana touring kebudayaan bertajuk "Borobudur to Berlin. Global Cultural Journey: Spreading Tolerance and Peace".