Banjir

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Banjir yang meluluhlantakkan hidup disebut berkali-kali dalam pelbagai cerita purba, baik di Mesopotamia maupun Yunani.

    Juga dalam Mahabharata:

    Anak-cucu Adamis dan Hevas dengan segera jadi begitu jahat hingga mereka tak dapat lagi hidup rukun. Brahma pun memutuskan untuk menghukum ciptaannya. Vishnu memerintahkan Vaivasvata membangun sebuah kapal untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Ketika kapal itu siap, dan Vaivasvata dan keluarganya ada di dalam dengan benih tiap tanaman dan pasangan jantan-betina tiap jenis hewan, hujan besar pun turun dan sungai-sungai mulai meluap.

    Dengan cepat akan terlihat persamaan nama antara Mahabharata dan yang kita dapatkan dalam agama-agama Ibrahimi: "Adamis" dengan "Adam", "Hevas" dengan "Hawa". Juga nama anak-anak yang lahir dari Satyavarman setelah banjir besar dalam Matsya Purana mirip dengan keturunan Nuh yang disebut Alkitab: "Shem", "Sham", dan "Jyapeti" dekat sekali bunyinya dengan "Shem", "Ham", dan "Japhet" (dalam Quran: "Yafith").

    Saya tak bisa memastikan adakah itu indikasi bahwa kitab-kitab Hindu lama punya pengaruh ke dalam agama Ibrahimi. Setidaknya bisa dikatakan: ada persamaan yang membayang-bayangi di celah-celah perbedaan di antara pelbagai agama itu. Terutama kisah tentang banjir besar.

    Air yang melanda secara destruktif itu adalah sebuah hukuman, dan bahtera yang dinaiki Vaivasvata atau Nuh adalah sebuah garis pemisah dalam seleksi. Seperti dalam Mahabharata, dalam Quran disebutkan mereka yang zalim tak akan diangkut, sedangkan mereka yang mukmin, atau yang jauh dari kejahatan, akan selamat.

    Dan sebuah transformasi terjadi: dunia lama tak bisa dipertahankan dan dunia baru lahir. Yang fasik binasa. Meskipun dengan catatan: tak semua yang selamat adalah makhluk yang sama sekali baru. Mereka yang berkembang biak pascabanjir tetap segaris dengan mereka yang datang dari dunia lama. Mereka telah melalui ujian, tapi mereka juga manusia yang terbatas.

    Thema tentang banjir yang membawa transformasi dalam keterbatasan itu bisa didapatkan juga dalam Epik Gilgamesh. Meskipun tanpa argumen tentang dosa dan hukuman.

    Cerita yang versi standarnya berasal dari 1.000 tahun sebelum Masehi ini kisah Gilgamesh, raja yang bertakhta di Uruk, kota di tepi timur Sungai Eufrat.

    Gilgamesh dua pertiga dewa dan sepertiga manusia. Dengan kombinasi itu ia bukan sosok yang stabil. Di satu sisi ia angkuh bukan main. Dengan kekuasaannya yang mutlak dan tubuhnya yang kuat serta ganas ia rebut semua bocah dari ayah mereka dan ia renggutkan pula tiap anak perawan dari kekasih mereka. Tapi di sisi lain ia juga gembala dan penghulu kota yang arif, rupawan, dan teguh hati.

    Tak merasa tenteram menghadapi sosok macam itu, orang-orang Uruk memohon kepada para dewa agar didatangkan orang yang sepadan buat menandingi Gilgamesh. Maka diciptakanlah Enkidu. Ia kasar-kukuh, rambutnya panjang terurai seperti rambut dewi jagung; tubuhnya penuh rambut seperti dewa ternak. Tapi segera setelah perkelahian mereka yang pertama, alih-alih membenci, sang Raja jatuh sayang kepada Enkidu.

    Mereka jadi sangat akrab, hingga ketika Enkidu meninggal karena sakit, Gilgamesh meraung selama tujuh hari. Tiba-tiba ia jadi takut Maut. Ia lupa Enkidu pernah bercerita bahwa dewa agung telah berpesan lewat mimpi: Jangan sedih. Hidup abadi bukanlah takdirnya. Toh, para dewa telah memberinya kekuatan melepas dan mengikat, jadi gelap dan jadi terang bagi manusia.

    Gilgamesh lupa itu; ia pergi mencari Utnapishtam, "Sang Nun Jauh". Untuk itu ia harus minta Urshanabi, tukang perahu tambang, membawanya ke Dilmun, tempat Utnapishtam tinggal. Orang inilah yang, setelah menempuh banjir yang destruktif, berubah jadi makhluk abadi.

    Di depan orang tua itu Gilgamesh bertanya: apa arti hidup dan mati? Bagaimana ia menemukan keabadian yang ia cari?

    Utnapishtam tak segera menjawab. Tapi akhirnya diceritakannya juga pengalamannya melintasi air bah yang mengerikan yang dibikin para dewa itu.

    Dalam Epik Gilgamesh, amarah para dewa bukan karena manusia telah berdosa. Yang terjadi hanya rasa sesak di Shurrupak. Di kota yang jadi tua bersama dewa-dewanya itu, ruang hidup penuh, manusia bising. Ini membuat Aru, bapak para dewa, jengkel. Ia perintahkan agar Enlil, dewa bumi yang tak menyukai manusia, membasmi makhluk yang ribut itu. Banjir pun disiapkan.

    Tapi beruntung Utnapishtam. Di malam harinya Ea, dewi air jernih yang menyayangi manusia, membisikkan satu perintah dalam mimpi: buatlah perahu. Maka ketika banjir datang dengan angin gemuruh selama enam hari enam malamhingga bahkan para dewa ikut ketakutanUtnapishtam telah siap dalam bahtera. Ia telah memunggah seluruh keluarganya, barang berharga, dan satwa yang dimilikinya. Dan setelah sepekan terhanyut, kapal itu menyangkut ke pucuk gunung. Ia turun. Ia selamat. Bukan itu saja: Enlil datang kepadanya dan kepada istrinya dan menyatakan mereka abadi.

    Dapatkah keabadian itu ditularkan? Begitu selesai bercerita, orang tua itu memberi kesempatan Gilgamesh. Untuk mencapai hidup kekal, lelaki dari Uruk itu harus bertahan tak tidur selama enam hari tujuh malam.

    Tapi Gilgamesh gagal. Ketika Utnapishtam memberinya satu kesempatan lagiia harus mengambil sekuntum kembang di bawah perahu yang dinaikinya pulangia juga gagal. Bunga yang seharusnya ia makan itu dicuri ular.

    Gilgamesh akhirnya tahu, keabadian itu luput. Ia pun kembali ke Uruk bersama Urshanabi. Menjelang masuk kota, ia tunjukkan kepada tukang perahu itu betapa kokoh semua yang dibangunnya. Di saat itu ia tampaknya menyadari: yang fana bukan yang sia-sia.

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.