Bersatunya Kata dan Perbuatan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • J. Sumardianta
    Penulis buku Mendidik Pemenang Bukan Pecundang

    Seorang eksekutif senior di sebuah perusahaan asuransi berskala global pagi-pagi benar sudah sampai di kantor. Ia dengan tergopoh-gopoh menumpahkan pakaian wanita milik istrinya dari koper yang terisi penuh. "Istri saya diselingkuhinya!" teriak eksekutif itu sembari menunjuk ruang chief executive officer (CEO).

    Eksekutif puncak perusahaan itu, terbukti kemudian, terlibat skandal dengan istri koleganya. CEO mempromosikan istri eksekutif melebihi kompetensinya. Perempuan itu, agar punya lebih banyak waktu berduaan, didaulat menjadi asisten pribadi CEO supaya mereka bisa sering bepergian ke luar negeri dengan dalih perjalanan bisnis.

    Perusahaan multinasional itu memiliki semboyan Four T's: Truth (kebenaran), Trust (kepercayaan), Transparency (keterbukaan), dan Teamwork (sinergi). Para karyawan merasa dikhianati. Mereka mendapati budaya perusahaan hanyalah kepura-puraan, kebohongan, dan topeng kemunafikan. Perilaku CEO telah meluluhlantakkan Four T's. Motivasi itu sebab. Perilaku itu akibat. Perusahaan digerakkan oleh penonjolan diri, kemarahan, keresahan, dan ketakutan. Bukan eksplorasi, kooperasi, kekuatan dari dalam, dan pengendalian diri.

    Anekdot di atas, sebagaimana dikisahkan Danah Zohar dan Ian Marshal dalam Spiritual Capital (2005), adalah preseden buruk tidak menyatunya kata dengan perbuatan. Media sosial dan TV, pekan lalu, heboh memberitakan sekaligus menggosipkan perilaku seorang motivator kelas wahid. Sang motivator masyhur sedang dipermasalahkan oleh seorang lelaki dewasa yang mengaku sebagai anaknya. Lelaki 30 tahun itu merasa diabaikan dan ditelantarkan sang motivator. Dia ingin diakui sebagai anak oleh bapaknya. Si bapak kebetulan adalah pesohor, pencerah yang biasa mengampanyekan kebenaran nilai-nilai universal melalui program Golden Ways.

    Sang motivator menceraikan istrinya 17 tahun lalu. Si anak tidak boleh menemui bapaknya, bahkan sekadar untuk meminta biaya kuliah. Motivator itu sudah menyangkal semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya melalui saluran TV. Ia menantang orang yang mengaku sebagai anaknya tersebut menjalani uji DNA.

    Harus diakui, terlepas dari skandal ini, sang motivator memang merupakan public speaker hebat. Ia secara natural bisa berkomunikasi dengan pemirsa TV yang memang menuntut kecerdasan interpersonal. Ini berbeda benar dengan para motivator lain yang jago membakar semangat audiens di gedung tapi melempem saat berhadapan dengan kamera TV.

    Seorang motivator lain yang intonasinya teduh dari Bandung, beberapa tahun sebelumnya, juga ditinggalkan para penggemarnya. Fan motivator kondang itu—kebanyakan ibu-ibu—kecewa berat. Dai yang getol mempromosikan nilai kesetiaan itu ketahuan menikah siri dengan sekretarisnya.

    Lebih parah lagi skandal yang menimpa seorang mubalig yang sedang melesat namanya. Mubalig ini punya pesantren di Selopamioro, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Pesantren tersebut merupakan langganan para artis Ibu Kota buat ngadem di kala tertekan. Oase damai ini tiba-tiba diserbu massa. Sang mubalig dilaporkan ke polisi karena menghamili santri muda dari desa setempat. Sebuah penerbitan di Yogyakarta rugi bandar. Penerbit ini telanjur mencetak tiga jilid buku sang mubalig saat moralitasnya terjerembap. Ribuan buku batal dipasarkan. TV dan media sosial heboh membahasnya.

    Tanpa TV, para motivator, menurut Rhenald Kasali dalam Camera Branding (2013), "is just a name not a branded name". Reputasi mereka lahir, tumbuh, dibesarkan, dan diluluhlantakkan peradaban sosial TV. TV membutuhkan selebritas. Mereka pandai menciptakan sekaligus mengempaskannya. Para motivator, sebagaimana umumnya selebritas, bisa mendapatkan sekaligus kehilangan camera branding. Camera branding dibentuk lewat prinsip-prinsip sosial TV: keterlibatan, dialog, umpan balik seketika, komunitas, dan story telling.

    Prinsip-prinsip itulah yang menentukan apakah selebritas akan menurun ke "tangga neraka" atau menapaki "tangga surga". Mereka jatuh ke neraka bila inkonsisten, tidak autentik, tidak bisa dipercaya, dan tidak loyal. Mereka diangkat ke surga bila konsisten, kredibel, loyal, dan bisa dipercaya. Camera branding dibangun berdasarkan dua fondasi: cameragenic (sedap dipandang) dan auragenic (berkarakter terpuji). Cameragenic bisa dilatih terus-menerus. Auragenic hanya bisa dibangun dengan kesadaran diri.

    Kamera TV hanya tertarik pada kepribadian cameragenic dan auragenic, sedap dipandang, serta enak didengar dengan gestur elegan dan kredibel. Kepribadian itulah yang bisa menimbulkan dampak penularan kebaikan yang luar biasa sebagaimana program The Oprah Winfrey Show atau Kick Andy.

    Media sosial memiliki kecepatan mencengangkan dalam melambungkan seseorang sekaligus menenggelamkannya. Perilaku public speaker, public figure, dan selebritas yang terbiasa tampil di TV mesti walk the talk—tindak-tanduk kudu sejalan dengan ucapannya. Bila menyimpang, pasti jadi bulan-bulan netizen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.