Laut

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siapa terpukau laut, tak akan membangun monumen. Nenek moyang kita, para pelautgenerasi-generasi yang berlayar dari pelbagai pesisirtak meninggalkan arsitektur yang ingin mengenang dan ingin dikenang di bandar dan pantai mereka.

    Laut adalah "tujuan biru", menurut frasa Chairil Anwar yang tak terduga-duga. Kita tahu, "biru" warna dari segala yang jauh: di sana laut adalah ruang tanpa hektare, di mana arah dan perbatasan hanya tampak pada susunan bintang, dan ombak, yang tak terhitung, muncul dan lewat terus-menerus. Seperti kekal. Saya tak pernah tahu di mana cakrawala dibatasi waktu di keluasan itu.

    Mungkin itu sebabnya terkadang laut menjadi metafor pembebasan dari beban sejarah. Laut melebur segala pusaka.

    Kita baca kembali sajak S. Takdir Alisjahbana, "Menuju ke Laut". Di sana tergambar sebuah biduk yang meninggalkan masa lalu. "Telah kutinggalkan engkau," katanya, "teluk yang tenang tiada beriak." Teluk itu perlindungan yang memperdaya dan mengungkung. Takdir menampiknya. Ia ingin generasinya lepas dari sana dan memasuki laut, ke dalam kehidupan baru yang dinamis, karena "teluk yang tenang tiada beriak" itu cuma sebuah ketenteraman warisan yang kedaluwarsa. Modernitas telah menggebrak pintu. Tradisi, adat-istiadat, yang berabad-abad jadi dasar hidup yang aman itu sedang digantikan dengan sesuatu yang lebih terbuka dan mengasyikkan.

    Takdir menggambarkan laut sebagai keasyikan tersendiri. Ia menyebut di sana "ombak ria berkejar-kejaran". Ia tak menampakkan laut sebagai ruang petualangan dan ketidakpastian. Ia, yang percaya bahwa sastra harus mengkampanyekan hal yang baik (baginya tak ada "seni untuk seni"), ingin agar dunia modern tampil memikat. Takdir bukan orang yang akan mengatakan bahwa modernisasi memperkenalkan manusia dengan krisis: penuh risiko, penuh peluang. Ia tak hendak mengakui bahwa laut bisa jadi kiasan bagi krisis itu. Sajaknya ditulis sebelum Revolusi 1945.

    Di tahun 1940-an, Rivai Apin menulis:

    Tiada tahan
    ke laut kembali, mengembara
    cukup asal ada bintang di langit

    Berbeda dengan imaji yang dipilih Takdir, dalam sajak Rivai laut adalah avontur yang menantang, sebuah rantau yang riskan. "Aku" dalam sajak ini siap menghadapi, bahkan mencari, "taufan gila". Yang kita baca adalah sebuah manifesto pembangkangan terhadap sekitar, terhadap masyarakat yang seperti fosil. "Batu semua!" hardik Rivai. Ada kejengkelan yang tak kita temukan dalam sajak S. Takdir Alisjahbana yang tersusun tertib. Bagi Rivai, apa yang kukuh, keras, beku, tak hanya harus ditinggalkan, tapi juga dimaki.

    Tapi di sini kita juga bisa tersesat. Laut dalam sajak-sajak ituyang ditulis penyair perantau, bukan pelaut sesungguhnyaseakan-akan tak ada kaitannya dengan ruang yang lain, yang lebih terkait dengan masa silam: jung atau biduk, perahu atau kapal, di mana sang "aku" berada.

    Kapal adalah bagian dari petualangan, tapi ia tak bersatu lebur dalam wilayah petualangan itu. Ia bahkan bisa menjadi sebuah kontras. Dalam kapal itulah hidup bukan selamanya kisah penjelajahan yang heroik. Dalam kapal, untuk memakai kata-kata Chairil Anwar (dalam sajak "Kabar dari Laut"), "hidup berlangsung antara buritan dan kemudi".

    Bahkan jika laut bisa dijadikan kiasan kemerdekaan, kapal sebaliknya. "Berada dalam kapal adalah berada dalam penjara," kata Samuel Johnson, penulis Inggris abad ke-18.

    Imajinasi orang ini agak terbatas. Johnson seorang penyusun kamus yang termasyhur; ia bukan penyair. Tapi kata-katanya mengingatkan kita pada kenyataan ini: kapal juga produk dari hubungan sosial. Ada pemilik dan majikan, ada jual-beli, hierarki, dan kelasi yang terasing atau mualim yang tak bebas.

    Kapal juga sesuatu yang menandai bahwa daratan tak dapat dimungkiri. Tiap pelaut akan berlabuh. Kapal menyimpan ingatan, bukan cuma di kabin nakhoda, tapi di seluruh kehadirannya. Ada kemarin yang akan, dan perlu, dijelang kembali. Kapal bahkan terkadang mirip sebuah monumen dengan nama yang selalu bisa diingat.

    Tapi apa yang perlu diingat, sebenarnya? Apa yang ingin dilupakan? Setelah bahtera kembali, para pelaut mungkin tak berniat membangun tugu tentang perjalanan mereka yang gagah berani dan bersejarah mengarungi laut. Tapi selalu ada saat manusia memuji yang agung dan memuja yang kekal dalam dirinya. Persoalannya, adakah ia mengakui bahwa ada yang tersingkir di tengah puja-puji itu. Di pesisir yang kering, kita mungkin ditinggalkan, terdampar, tersingkir, atau tak sadar bahwa kita juga bisa demikian.

    Di akhir sajak "Kabar dari Laut" Chairil Anwar memergoki kita dengan pertanyaan yang tajam seperti sebilah pisau bedah:

    Dan kau? Apakah kerjamu sembahyang dan memuji,
    Atau di antara mereka juga terdampar,
    Burung mati pagi hari di sisi sangkar?

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.