Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Indonesia

Oleh

image-gnews
Iklan

Seorang dokter kapal menyediakan nama bagi Indonesia. Pada 1861, Adolf Bastian, kelahiran Bremen, Jerman, berlayar di Asia Tenggara. Ia kemudian menulis sejumlah buku. Salah satunya dibaca banyak orang: Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels, 1884-1894. Dari buku ini nama "Indonesia" mulai menandai kepulauan yang yang ribuan jumlahnya itu.

Bastian berpengaruh karena ia bukan hanya seorang dokter kapal. Ia lulus ilmu hukum, lulus biologi, ia berminat dalam ilmu yang di zamannya disebut "ethnologi", dan ia juga dokter. Bahwa ia jadi dokter kapal, itu tanda keinginannya menjelajah bagian bumi yang lain. Pada 1873, ia ikut mendirikan Museum fr Vlkerkunde di Berlin, dengan koleksi besar karya manusia dari pelbagai penjuru.

Dokter kapal yang tak henti-hentinya mengarungi laut melintasi batas ini -- dan meninggal dalam perjalanan di usia 80 -- yakin bahwa ada yang menyatukan sesama manusia: "gagasan-gagasan dasar", Elementergedanken.

Umat manusia, tulis Bastian, "punya segudang gagasan yang dibawa lahir dalam diri tiap orang,". Gagasan elementer itu muncul dalam pelbagai variasinya dari Babilonia sampai dengan Laut Selatan.

Tapi manusia juga menunjukkan Volkergedanken, gagasan yang dikondisikan oleh ruang hidup yang beragam.Bastian menggunakan pengertian Volk, atau dalam bahasa Yunani "ethnos," untuk menyebut kelompok manusia yang dipertalikan ras, adat, bahasa, nilai-nilai.

Bagi zaman ini, theori Bastian tak lagi menakjubkan. Bahkan pengertian "ethnos," juga "ras," yang jadi tulang punggung theori itu, kini guyah. Tapi kita bisa bayangkan kuatnya gema pemikiran ini di abad ketika imperialisme membentuk bumi.

Imperialisme, sebagaimana penjelajahan "ethnologi", (atau "anthropologi"), mempertemukan manusia dari pelbagai asal-usul, namun pada saat yang sama menunjukkan sebuah jarak -- bahkan ketimpangan dan penaklukan. Dalam imperialisme, sebagaimana dalam karya ethnografis, orang "Barat" bukan menemui melainkan menemukan dunia lain -- seakan-akan "barang" itu ada setelah dilihat oleh "Barat". Saat itu, "barang" itu pun beku. Ia berubah jadi "yang-lain" -- sebagaimana dalam dongeng Yunani,manusia jadi batu ketika Medusa menatapnya.

Peralihan dari "liyan" jadi "yang-lain" yang membatu itulah sendi utama imperialisme. Imperialisme menorehkan sesuatu yang buruk pada kesadaran: dalam kungkungannya, kata Edward Said, orang jadi yakin bahwa dirinya semata-mata "orang putih" atau semata-mata orang "kulit berwarna". Imperialisme membuat orang tak sadar bahwa orang bukan hanya satu identitas, tapi punya sejarah yang membuatnya tak sepenuhnya ajeg, utuh, dan tunggal.

Dalam sejarah itu juga berlangsung dialektik antara temu dan takluk. Orang berada di satu ruang hidup, tapi dalam posisi yang satu tunduk, yang lain bertahta. Pertemuan bukan lagi pertemuan, melainkan penaklukan. Di ruang politik yang sama itu mereka tak saling menyapa -- bahkan dalam hidup sehari-hari.

Dalam A Certain Age, catatan-catatan yang disusun secara menarik oleh Sejarawan Rudolf Mrazek dari wawancaranya dengan generasi tua Indonesia, kita tahu bahwa dulu, di kota-kota kita, penduduk Belanda hadir tapi dengan jarak.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

"Waktu saya anak-anak," cerita Nyonya Surono, "saya tak pernah ketemu orang Belanda di jalan.". Pak Mewengkang berkisah tentang masa kecilnya di Sulawesi Utara. "Saya besar di dusun, dan tak ada orang Belanda di sana. Hanya, pada hari Minggu, kadang-kadang....seorang pastur Belanda datang". Wartawan Rosihan Anwar hanya sedikit berbeda. Di masa kecilnya di Agam, Sumatra Barat, ayahnya kenal orang Belanda: seorang controleur yang datang ke rumah tiap Lebaran. Hanya tiap Lebaran. Si anak cuma boleh melihat dari jauh. Sementara Pak Oey, yang besar di Surabaya dan Batavia, cuma melihat orang Belanda di kolam renang.

Wertheim, sarjana Belanda yang dikenal sebagai cendekiawan antikolonialisme, juga mengalami jarak itu. Ia baru tahu ada yang tak beres di sekitarnya ketika pembantunya bercerita bahwa anaknya mati karena tak ada yang mengobati sakitnya.

Zaman itu adalah zaman diabaikannya apa yang universal dalam diri manusia; Elementergedanken Bastian pelan-pelan dilupakan. "Liyan" tak lagi berarti "sesama".

Itu sebabnya racun imperialisme jadi menyengat ketika konteksnya bergeser. Kita ingat riwayat Soewardi Soerjaningrat. Juli 1913 ia menulis di sebuah koran mengecam pemerintah kolonial yang hendak merayakan kemerdekaan Belanda dari kekuasaan Prancis. Soewardi mengandaikan diri sebagai seorang Belanda yang tahu diri dan berseru, "aku tak akan membuat pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas kemerdekaannya".

Sesungguhnya Soewardi menegaskan apa yang universal dalam sesama: semua ingin merdeka, terutama orang-orang jajahan. Tapi itulah yang tak diakui pemerintah kolonial. Soewardi ditangkap. Dalam umur 14, ia diasingkan ke Belanda.

Tapi justru di sana, di negeri dengan kehidupan demokratis itu, ia kian sadar bahwa "liyan" adalah "sesama" dan "sesama" bisa berarti "setara". Dialektik antara temu dan takluk bergerak: jika di negeri jajahan temu tenggelam oleh takluk, di Eropa yang merdeka takluk tersisih oleh temu. Pembangkangan Soewardi kian tegas. Perlakuan hukum yang sama di masyarakat Belanda mengukuhkan keyakinannya bahwa mereka yang seperti dirinya bukan hamba. Mereka berasal dari sebuah kepulauan yang tak mau takluk dan jadi "Hindia Belanda".

April 1917, di halaman Hindia Poetra, Soewardi memilih nama yang dipakai Bastian bagi tanah airnya. Indonesia: negeri yang dibangun oleh yang universal, untuk semua, dan sekaligus oleh yang berbeda.

Goenawan Mohamad

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Jelang PSU di Kaltim, KPU Pastikan Kondisi Kotak Suara di 147 TPS Aman dan Tersegel

56 detik lalu

Kapolresta Samarinda Kombes Pol Ary Fadli saat melakukan pengecekan gudang logistik KPU untuk persiapan penghitungan suara ulang, amanah putusan MK. Polresta Samarinda
Jelang PSU di Kaltim, KPU Pastikan Kondisi Kotak Suara di 147 TPS Aman dan Tersegel

PSU di Daerah Pemilihan Kalimantan Timur sesuai dengan putusan Mahkamah Konstitusi dalam sengketa Pileg 2024.


Polda Sumbar Bantah Bocah AM Korban Penyiksaan Polisi, ICJR: Harus Dibuktikan dengan Standar HAM

6 menit lalu

Polisi menemukan jasad Afif (13 tahun) di bawah Jembatan Kuranji, Kota Padang. Istimewa
Polda Sumbar Bantah Bocah AM Korban Penyiksaan Polisi, ICJR: Harus Dibuktikan dengan Standar HAM

Peneliti ICJR menyatakan klaim Polda Sumbar bahwa tidak ada penyiksaan terhadap bocah AM harus dibuktikan melalui standar HAM internasional.


Koalisi Partai Benjamin Netanyahu Terancam Pecah Setelah Siswa Seminari Yahudi Harus Wajib Militer

16 menit lalu

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadiri rapat kabinet di Bible Lands Museum di Yerusalem pada 5 Juni 2024. REUTERS
Koalisi Partai Benjamin Netanyahu Terancam Pecah Setelah Siswa Seminari Yahudi Harus Wajib Militer

Kelangsungan hidup koalisi partai Benjamin Netanyahu bergantung pada dua partai Yahudi ultra-ortodoks.


Tim Ahli dari Indonesia Kunjungan Kerja ke India untuk Pelajari Program Makan Siang Sekolah Gratis

21 menit lalu

Rapat di Kota Delhi dengan Shantanu, (kanan) Deputi Departemen Pangan dan Distribusi Umum India. Sumber: dokumen Kedutaan Besar India di Jakarta
Tim Ahli dari Indonesia Kunjungan Kerja ke India untuk Pelajari Program Makan Siang Sekolah Gratis

Kunjungan kerja ini bertujuan membina kerja sama bilateral dan pertukaran keahlian di berbagai sektor antara lain program makan siang sekolah gratis.


Raffi Ahmad Mundur, Aktivis Tak Yakin Proyek Beach Club Gunungkidul Dihentikan

28 menit lalu

Rencana Beach Club yang awalnya melibatkan Raffi Ahmad di Gunungkidul, DI Yogyakarta. Dok. Instagram
Raffi Ahmad Mundur, Aktivis Tak Yakin Proyek Beach Club Gunungkidul Dihentikan

Pembangunan proyek beach club Gunungkidul ini dilakukan melalui PT Agung Rans Bersahaja Indonesia (ARBI) yang tidak hanya berisi Raffi Ahmad.


Keluarga Terpidana Kasus Vina Cirebon Laporkan Ketua RT ke Mabes Polri atas Dugaan Keterangan Palsu

28 menit lalu

Politikus Dedi Mulyadi mendampingi keluarga tersangka dan saksi kasus pembunuhan Vina dan Eki di Cirebon saat membuat di Bareskrim, Mabes Polri, Jakarta, Selasa, 25 Juni 2024. Tim hukum keluarga tersangka kasus pembunuhan Vina dan Eki di Cirebon pada 2016 silam melaporkan Ketua RT Abdul Pasren ke Mabes Polri terkait dugaan membuat kesaksian palsu. TEMPO/ Febri Angga Palguna
Keluarga Terpidana Kasus Vina Cirebon Laporkan Ketua RT ke Mabes Polri atas Dugaan Keterangan Palsu

Keluarga terpidana kasus pembunuhan Vina dan Eky di Cirebon, melaporkan Ketua RT Abdul Pasren atas dugaan keterangan palsu.


Cerita Pemain Judi Online: Ada Sensasi Suara Petir Gede Duarrrrr yang Memanggil-manggil

28 menit lalu

Ilustrasi Judi Online (Tempo)
Cerita Pemain Judi Online: Ada Sensasi Suara Petir Gede Duarrrrr yang Memanggil-manggil

Perkenalannya dengan judi online sekitaran akhir tahun 2020. Mulanya dia menyaksikan rekan kerjanya yang pada saat itu memainkan judi online.


Bisa Rugikan Tumbuh Kembang Anak, Waspadai Alergi Susu Sapi pada Anak

30 menit lalu

Ilustrasi makanan penyebab alergi (pixabay.com)
Bisa Rugikan Tumbuh Kembang Anak, Waspadai Alergi Susu Sapi pada Anak

Alergi susu sapi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap protein dalam susu sapi.


3 Film yang Dibintangi Thomas Brodie-Sangster

30 menit lalu

Thomas Brodie-Sangster dan Talulah Riley. Foto: Instagram/@talulahrm
3 Film yang Dibintangi Thomas Brodie-Sangster

Thomas Brodie-Sangster aktor yang belakangan disoroti. Ia menikah dengan aktris Talulah Riley


JPPI: Tipu-tipu Nilai di Jalur Prestasi Dominasi Masalah PPDB 2024

30 menit lalu

Kaum perempuan atau ibu-ibu memukul alat masak saat aksi unjuk rasa mengkritik sistem PPDB zonasi dan afrimasi di depan gedung DPRD Jawa Barat di Bandung, 24 Juni 2024. Perempuan dari Forum Masyarakat Peduli Pendidikan menuntut agar pemerintah menambah jumlah sekolah khususnya SMA/SMK negeri di seluruh wilayah dengan merata serta menuntut penambahan kuota untuk PPDB jalur afirmasi. Minimnya jumlah SMA negeri di Kota Bandung masih jadi celah praktik jual beli bangku dan perpindahan domisili secara ilegal. TEMPO/Prima mulia
JPPI: Tipu-tipu Nilai di Jalur Prestasi Dominasi Masalah PPDB 2024

Kata JPPI soal kekacauan masalah PPDB.