Kirk dan Spock Memburu Khan

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Star Trek Into Darkness. Startrekmovie.com

    Star Trek Into Darkness. Startrekmovie.com

    Startrek
    TEMPO.CO
    , Jakarta- Spock berhadapan dengan Spock masa tua.

    Alangkah menggairahkan. Alangkah menyenangkan. Mereka yang tumbuh bersama Kapten  James T.Kirk (di masa lalu diperankan oleh William Shatner) dan  First Officer Spock (Leonard Nimoy) , yang ikut dalam gerbong Trekkie—penggemar fanatik  Star Trek--akan menikmati pertemuan Spock versi Zachary Quinto dan Spock versi Leonard Nimoy itu. Pertemuan masa kini dan masa lalu untuk membicarakan sebuah ‘masa depan’ bagi Spock yang menghadapi sebuah keadaan darurat.

    Star Trek into Darkness adalah arahan sutradara J.J Abrams yang kedua, adaptasi dari  Star Trek  karya Gene Roddenberry,. Empat tahun lalu Abrams memperkenalkan sebuah versi baru , seluruh karakter dibuat lebih muda karena Abrams menjelajahi karakter-karakter itu sebelum segalanya dimulai di dunia Roddenbery.

    Film ini dimulai dengan  USS Enterprise yang dipimpin Kapten Kirk (Chris Pine) ditugaskan  menjelajahi planet Nibiru. Adegan awal penuh warna-warni planet Nibiru dan kejar mengejar antara Kapten Kirk  dengan penduduk lokal Nibiru. Kirk dan kawannya Spock mencoba menyelamatkan penduduk planet dari bahaya ledakang gunung vulkanik. Saat Spock dalam keadaan terkurung oleh api vulkanik, Kirk memutuskan untuk menyelamatkan Spock meski artinya ia harus melanggar peraturan Prime Directive dengan membiarkan kapal Enterprise terlihat penduduk planet.

    Di bumi, Kirk dihukum, pangkat diturunkan. Admiral Christopher Pike memegang kendali lagi untuk sementara. Inilah cara JJ Abrams mengingatkan kembali hal-hal yang khas di dalam dunia Star Trek. Hubungan ‘bromance’ antara Kapten Kirk yang ganteng, bermata biru, agak arogan dan tak ragu melanggar peraturan  yang berlaku dan Spock mahluk setengah Vulkan yang rasional, yang selalu mengikuti aturan secara harafiah. Kedua peran utama ini biasa akan bertengkar sayang, berdebat sembari saling mengejek tetapi akan saling membela.

    “Sesekali aku ingin menjambak dan mencerabut poninya!” kata Kirk menggerutu ketika dia baru saja berdebat melawan Spock. Spock tak pernah dan tak peduli dengan gerutu dan ejekan Kirk, karena dia memang terlalu dingin dan kaku bahkan untuk menangkap gurauan tim di dalam USS Enterprise.

    Dalam sebuah pertemuan di San Fransisco,  Kirk dan Spock bertemu dengan  Admiral Christopher Pike yang mengadakan pertemuan darurat bersama para perwira tinggi. Instalasi Seksi 31 dihajar bom oleh seorang mantan agen, teroris John Harrison (Benedict Cumberbatch). Pertemuan itupun dihajar oleh Harrison. Pike tewas. Kirk kalap karena Pike adalah mentornya.

    Maka selanjutnya adalah upaya Kirk dan Spock,  atas perintah Admiral Alexander Marcus (Peter Weller) untuk menghajar Harrison. Di dalam upaya pengejarannya itu, tentu saja banyak kendala. Persoalan perbedaan pendapat dengan ahli mesin Montgomery Scott (Simon Pegg) yang menyebabkan Scott mengundurkan diri;  persoalan pengkhianatan besar di dalam tim mereka dan tantangan terberat adalah menghadapi Harrison yang sungguh tak terkalahkan: brilian, penuh tipu dan sangat berotot. Kirk dan Spock hanyalah semut di mata Harrison alias Khan.

    J.J Abrams membawa kembali seluruh anggota tim yang sudah akrab bagi para penonton Trekkie. Letnan Uhura (Zoe Zaldana) yang jelita, kekasih Spock, yang kali ini brantem melulu dengan sang pacar; Dr McCoy (Karl Urban), dokter medis hebat yang tak berhenti menggerutu sepanjang perjalanan; Sulu (John Cho) yang sangat kompeten memimpin kapal setiap kali Kapten Kirk harus ke lapangan; navigator Chekov (Anton Yelchin) yang setengah mati mencoba aksen Rusia yang gagal dan juga setengah mati mengisi kekosongan Scott.

    Geng USS Enterpirse ini ditambah satu penumpang cantik baru bernama  Dr Carol Marcus (Alice Eve) yang tentu saja terus menerus digoda Kirk.

    Apakah sutradara berhasil membawa penonton pada keasyikan dunia Start Trek selama 132 menit? Ternyata dua jam lebih itu tak terlalu terasa. Itulah kehebatan JJ Abrams yang tak akan membiarkan penonton tertidur atau bosan.

    Sebetulnya skenario tak terlalu mulus, karena  setiap babak terdiri dari banyak peristiwa. Ia merasa setiap tokoh terasa harus diberi plot dan setiap plot harus digabungkan ke benang merah perlawanan terhadap Harrison alias Khan Noonien.

    Tetapi Trekkie atau bukan Trekkie akan tetap merasakan asyiknya dunia USS Enterprise dengan tokoh-tokohnya yang berhasil dihidupkan masing-masing pemain. Jika William Shatner membawa Kirk yang arogan dan penuh wibawa, Chris Pine sengaja menampilkan Kirk muda yang lebih mirip sosok Tom Cruise dalam film Top Gun: lincah, cerdas, angkuh, muda, seksi sekaligus menjengkelkan. Zachary Quinto sebagai Spock yang rasional tetapi tetap sensitif adalah duo bromance yang persahabatannya dengan Kirk jauh lebih asyik ditonton daripada menyaksikan pacarannya dengan dr.Uhura.

    Simon Pegg yang tampak sibuk betul dengan aksen Scottish, serta Anton Yelchin dengan aksen Rusia cangkokan itu memang mengganggu. Tetapi keduanya memang unsur komedi yang sejak dulu wajib tampil diantara keseriusan Spock.

    Tetapi tak ada yang bisa menandingi mata biru dingin Khan yang diperankan Benedict Cumberbacth yang kita kenal dalam serial Sherlock atau film Tinker Taylor Soldier Spy (Tomas Alfredson, 2011). Dalam film ini,dialah yang kemudian memegang kemudi dan menyetir seluruh energi film sejak awal hingga ledakan klimaks.

    Yang menarik, atau kontroversial, sutradara JJ Abrams  sudah setuju untuk menyutradarai Star Wars. Dapat dibayangkan bagaimana penggemar Star Wars dan para Trekkie ribut saat berhadapan di Comic Con karena film-film mereka disutradarai oleh satu “ayah” yang sama.

    Leila S.Chudori

    Sutradara: J.J Abrams
    Skenario   :
    Roberto Orci, Alex Kurtzman, Damon Lindelof
    Berdasarkan Star Trek oleh Gene Roddenberry
    Pemain     :
    Chris Pine, Zachary Quinto, Zoe Saldana, Benedict Cumberbatch, Alice Eve, Anton Yelchin,  Bruce Greenwood , Karl Urban, Simon Pegg, Zachary Quinto


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.