Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Bocah

Oleh

image-gnews
Iklan

Seorang bocah menggambar. Ia bayangkan seekor ular sanca menelan utuh seekor gajah. Dalam gambarnya, sosok gajah itu sudah tak tampak lagi. Yang kelihatan: perut si ular yang menggelembung.

Si bocah pun menunjukkan gambar itu kepada orang dewasa.

Kau tak takut melihat ini, tanyanya. Kenapa harus takut melihat gambar sebuah topi, jawab si orang dewasa.

Di situlah, sebagaimana diutarakan dalam Pangeran Kecil Antoine de Saint-Exupery, orang dewasa gagal. Mereka tak gentar, tapi itu karena mereka tak bisa membayangkan sesuatu yang lain dari apa yang kasatmata, yang praktis dan lazim. Mereka tak betah berbincang tentang ular yang menelan gajah di rimba yang aneh. Mereka lebih tertarik membicarakan "jembatan, dan golf, dan politik, dan dasi".

Imajinasi telah mengering di dunia merekasebuah dunia yang terpisah dari kehidupan anak-anak yang berkhayal dan bermain.

Pangeran Kecil dengan lembut mengukuhkan keterpisahan itu: di satu pihak wilayah anak dengan keasyikan dan keindahan yang tersendiri; di lain pihak dunia orang dewasa yang dibentuk teknologi, uang, dan pertarungan. Buku kecil ini sebuah kritik. Ia menjauhi kehidupan yang dikuasai rasionalitas untuk meraih hasil. Saint-Exupery mengajak kita menyaksikan sebuah kehilangan yang bernama dunia modern. Kita tak bisa lagi mengatakan bahwa manusia tinggal di dunia secara puitis, "dichterisch wohnet der Mensch", untuk memakai ungkapan Heidegger. Tak ada lagi padang pasir tempat kita berjumpa si pangeran kecil. Kini manusia menghuni dunia dan ia menghitung.

Beda yang tajam itu pernah dilukiskan Tagore dalam sajak terkenal ini: "Nelayan menyelam mencari mutiara, saudagar berlayar mengarungkan perahu, sementara anak-anak menghimpun batu dan menebarkannya kembali."

"Menghimpun batu dan menebarkannya kembali" adalah kegiatan yang dicerca di dunia orang dewasa, dunia modern, karena tak produktif.

Tentu saja Tagore, sebagaimana Saint-Exupery, tak hendak menyebut bahwa sebenarnya tak ada batas yang kedap antara dunia yang "mencari mutiara" dan dunia anak yang hanya bermain dengan batu dan ombak.

Terutama ketika pengertian "anak-anak" belum tergaris tegas.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ada masa dan tempat di mana akta kelahiran tak dikenal dan orang tak menandai persis tanggal dan tahun dalam hidupnya. Belum ada sekolah yang menentukan batas umur murid. Belum ada administrasi kota yang meminta kita mengisi formulir untuk KTP. Di dalam lingkungan itu, perjalanan hidup manusia dari bayi hingga mati ditandai dengan ritus: sunat, potong gigi, pingitan, membunuh hewan buruan. Jarak antara "masa kanak" dan "akil balig"" praktis pendek atau berbatas kabur. Apa yang kini dilihat sebagai "buruh anak-anak" jangan-jangan bukan kejahatan, hanya karena tenaga kerja tak dibedakan umurnya dan semua anggota keluarga harus mencari nafkah. Di daerah pertanian yang melarat, anak adalah bagian dari alat produksi.

Dengan kata lain, konsep "bocah" tak datang sejak awal kehidupan sosial. Ia sebuah konstruksi masyarakat, sebuah sebutan yang ditemukan sesuai dengan perkembangan sejarah.

Mungkin sebab itu kita tak pernah melihat tokoh anak dalam wayang kulit atau golek, bahkan ketika dalang mengisahkan lahirnya Gatotkaca. Phillipe Aries, yang menelaah sejarah anak-anak di Eropa, menunjukkan bahwa di sana pun sampai sekitar abad ke-12 seni rupa "tak kenal masa anak-anak dan tak mencoba menggambarkannya". Bayi Ismail dari Perjanjian Lama dilukiskan dengan otot perut lelaki dewasa. Bayi Yesus baru tampak sebagai bayi di abad ke-14 seni rupa Italia.

Dalam kehidupan sehari-hari, di masa itu, anak memang bukan kehadiran istimewa yang terpaut di hati. Kematian lumrah. Bocah gampang datang dan pergi. Aries mengutip Montaigne, penulis esai termasyhur itu: "Aku telah kehilangan dua atau tiga anak di masa kecil mereka, bukannya tanpa sesal, tapi tanpa dukacita yang dalam."

Baru kemudian, anak-anak mengambil posisi sentral. Di masa lalu yang lebih miskin, ketika lampu belum ditemukan dan malam adalah jam panjang yang gelap, anak-anak tidur bersama sekamar dengan orang dewasa. Ketika kehidupan semakin baik, dan kebutuhan semakin beragam, mereka mendapatkan kamar sendiri. Pakaian mereka tak lagi hanya miniatur pakaian orang tua. Model baju mereka lain, seperti tampak pada potret si kecil yang dipasang di mana-mana.

Sejak itu, masa depan tergaris bersama anak-anak. Kindergarten muncul di tiap sudut: persiapan ke tahap pendidikan sesudahnya. Di Indonesia, sejak kelas menengah tumbuh, majalah seperti Ayah Bunda jadi penting: yang baru jadi orang tua butuh bimbingan untuk mengantar buah hati mereka dari awal. Di Jepang, orang tua mendera anak-anak mereka sejak usia dini agar jadi murid yang 12 tahun kemudian bisa masuk ke universitas terkemuka. Harapan dibangun dengan rasa cemas.

Maka sebuah paradoks baru muncul: ketika anak jadi makhluk spesial, mereka juga jadi proyek. Mereka disiapkan jadi penerus orang tua, baik dalam iman maupun harta. Mereka tak dibayangkan mandiri, sebagai pembaharu apalagi pembangkang. Masa kecil yang spontan pun hilang: si bocah tak lagi "menghimpun batu dan menebarkannya", melainkan sejak dini berangkat "mencari mutiara". Kontrol diberlakukan, dan kadang-kadang tak jelas mana bimbingan dan mana penganiayaan.

"Semua orang dewasa dulu juga anak-anak... tapi hanya sedikit yang ingat itu"Antoine de Saint-Exupery, Pangeran Kecil.

Goenawan Mohamad

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Kementerian Sosial Klaim Data Penerima Bansos Diperbarui Setiap Bulan

15 detik lalu

Kepala Pusdatin Kemensos Agus Zainal Arifin dan Staf Khusus Menteri Sosial, Bidang Pengembangan SDM dan Program Kementerian, Suhadi Lily, memberi klarfikasi terkait bansos di kantor Kemensos, Cawang, Jakarta Timur, Jumat, 21 Juni 2024.
Kementerian Sosial Klaim Data Penerima Bansos Diperbarui Setiap Bulan

Kementerian Sosial mengklaim data penerima bansos di DTKS diperbarui setiap bulan. Pemutakhiran data itu padan dengan NIK.


Benarkah Perempuan Lebih Mudah Kedinginan Dibanding Laki-laki?

4 menit lalu

Ilustrasi kedinginan. Shutterstock
Benarkah Perempuan Lebih Mudah Kedinginan Dibanding Laki-laki?

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki bereaksi terhadap perubahan suhu dengan cara yang sama.


Seniman Patung Gabriel Aries Gelar Pameran Poetical Urgency di Lawangwangi Bandung

7 menit lalu

Pameran tunggal seniman patung Gabriel Aries di Galeri Lawangwangi Bandung, 22 Juni-29 Juli 2024. Foto:  TEMPO| ANWAR SISWADI.
Seniman Patung Gabriel Aries Gelar Pameran Poetical Urgency di Lawangwangi Bandung

Seniman patung, Gabriel Aries menggelar pameran dengan mengolah karyanya yang menghubungkan material alami dengan resin.


Top 3 Tekno: Jalur PPDB 2024, Adopsi AI Game oleh Embracer Group, dan Ulasan Kratom

12 menit lalu

Orang tua calon peserta didik mendatangi posko pra-pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2024 di SMAN 1, Jakarta, Rabu 5 Juni 2024. Petugas dari Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Sudin Dukcapil) serta Sudin Pendidikan Wilayah Jakarta Pusat disiagakan untuk melayani orang tua calon peserta didik yang mengalami kendala terkait PPDB. Prapendaftaran PPDB Jakarta 2024 ditutup pada Rabu, 5 Juni 2024. TEMPO/Subekti.
Top 3 Tekno: Jalur PPDB 2024, Adopsi AI Game oleh Embracer Group, dan Ulasan Kratom

Ulasan mengenai fungsi jalur PPDB 2024 memuncaki Top 3 Tekno, Senin, 24 Juni 2024.


PPDB SMA di Jakarta Jalur Zonasi Dimulai Hari Ini, Perhatikan 4 Ketentuannya

12 menit lalu

Posko Pelayanan PPDB Tahun 2024 Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Selatan di SMA Negeri 70 Jakarta, pada Senin, 10 Juni 2024. Tempo/Aisyah Aisyah Amira Wakang.
PPDB SMA di Jakarta Jalur Zonasi Dimulai Hari Ini, Perhatikan 4 Ketentuannya

Jakarta telah memulai tahapan Penerimaan Peserta Didik Baru atau PPDB Jalur Zonasi Jenjang SMA Tahun Ajaran 2024/2025 per hari ini, Senin 24 Juni 2024


Jenderal AS: Serangan Israel di Lebanon Dapat Meningkatkan Risiko Perang Lebih Luas

13 menit lalu

Seorang tentara Israel berjalan di samping api menyusul serangan dari Lebanon, di tengah permusuhan lintas batas yang sedang berlangsung antara Hizbullah dan pasukan Israel, dekat Kiryat Shmona, Israel utara, 14 Juni 2024. REUTERS/Ammar Awad
Jenderal AS: Serangan Israel di Lebanon Dapat Meningkatkan Risiko Perang Lebih Luas

Pasukan AS lebih sulit melindungi Israel dari serangan Hizbullah dilihat dari jarak yang dekat antara Lebanon dan Israel dan posisi pasukannya.


Brimob Polda Sumut Jaring 13 Remaja Hendak Tawuran di Deli Serdang

14 menit lalu

Personel Polda Sumatera Utara menangkap remaja yang hendak melakukan tawuran di Deli Serdang, Sumatera Utara, Minggu (23/6/2026). ANTARA/HO-Brimob Polda Sumut.
Brimob Polda Sumut Jaring 13 Remaja Hendak Tawuran di Deli Serdang

Satuan Brimob Kepolisian Daerah Sumatera Utara menangkap 13 remaja yang hendak tawuran di Pasar Pasar XII Kampung Kolam, Kabupaten Deli.


Prediksi Timnas U-16 Indonesia vs Filipina di Piala AFF U-16 2024: Jadwal, Kondisi Tim, H2H, Perkiraan Susunan Pemain

25 menit lalu

Pesepak bola Timnas Indonesia U-16 mengikuti latihan jelang pertandingan AFF U-16 di Stadion UNS, Solo, Jawa Tengah, Minggu, 23 Juni 2024. Indonesia akan bertanding melawan Filipina pada grup A Piala AFF U-16. ANTARA/Mohammad Ayudha
Prediksi Timnas U-16 Indonesia vs Filipina di Piala AFF U-16 2024: Jadwal, Kondisi Tim, H2H, Perkiraan Susunan Pemain

Timnas U-16 Indonesia lebih diunggulkan meraih kemenangan atas Filipina dalam laga grup A Piala AFF U-16 2024.


Masuk Bursa Pilkada Jabar, Begini Sepak Terjang Susi Pudjiastuti di Dunia Bisnis hingga Jadi Menteri

31 menit lalu

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersama peserta pawai bebas plastik di kawasan Sudirman, Jakarta, Minggu, 30 Juli 2023. Berbagai organisasi dan komunitas melakukan Pawai Bebas Plastik yang bertujuan untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan mendorong penanganan yang lebih baik terhadap sampah khususnya plastik. TEMPO/ Febri Angga Palguna
Masuk Bursa Pilkada Jabar, Begini Sepak Terjang Susi Pudjiastuti di Dunia Bisnis hingga Jadi Menteri

Bekas Menteri Kelautan Perikanan, Susi Pudjiastuti, masuk daftar figur potensial di Pilakda Jabar. Sosok Susi dikenal luas sejak menjabat Menteri dengan kebijakan penenggelaman kapal asing ilegal.


Bocoran Terbaru Vivo Y28s 5G Terungkap, Ini Detail Spesifikasinya

34 menit lalu

vivo ekspansi bisnis ke 6 negara Eropa.
Bocoran Terbaru Vivo Y28s 5G Terungkap, Ini Detail Spesifikasinya

Ponsel Vivo Y28s 5G akan ditenagai oleh prosesor MediaTek Dimensity 6300.