Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Metropolis

Oleh

image-gnews
Iklan

Ada sebuah kota fantasi yang terbelah. Tapi barangkali tak istimewa. Tiap kota besar selalu terbelah.

Di satu lapis, ruang hidup dibentuk penduduk yang kaya raya; di lapis lain, orang-orang yang miskin dan terpojok. Di satu sisi, ada bagian yang selalu ingin diperlihatkan, sebagai scene; di sisi lain, bagian yang hendak disembunyikan, obscene.

Metropolis, karya Fritz Lang yang termasyhur, menampilkan keterbelahan itu dengan gamblang--meskipun kota dalam film ini cuma sebuah fantasi tentang masa depan. Diproduksi pada 1927, film bisu ini bercerita tentang sebuah kota raya nun pada tahun 2026, yang berdiri dengan bangunan dan infrastruktur yang di mana pun di dunia waktu itu belum pernah ada.

Tapi pesan moralnya amat tua.

Di balik gedung-gedung megah yang menjulang ke langit dan jalan-jalan raya yang terbentang jauh di atas tanah, kekuasaan berada di tangan keras satu orang: Joh Fredersen. Ia bukan tokoh politik. Ia pemilik modal. Ia tampak sendirian, tanpa saingan, tanpa bergandengan tangan (atau berhadapan) dengan kekuasaan lain. Bahkan di layar putih itu, kita mendapatkan kesan sebuah kota besar yang amat lengang. Tak ada manusia berkerumun. Tak ada Negara. Fredersen Dewa Modal Yang Maha-Tunggal.

Tapi sejak film ini bermula kita tahu, ada yang mengerikan dan menyedihkan di balik itu: ribuan pekerja yang tak berwajah tampak menggerakkan seantero metropolis dari sebuah ruangan mesin di dunia bawah.

Mereka, seperti kemudian tampak dalam film Modern Times Charlie Chaplin, bekerja dengan murung di celah keperkasaan mesin. Mereka adalah barisan panjang yang berseragam dan berjalan kaku seperti boneka. Hidup mereka diarahkan waktu yang terukur persis. Dengan disiplin yang absolut. Tanpa senggang. Tanpa percakapan.

Film ini memang sebuah imajinasi tentang masa depan yang mencemaskan, sebuah dystopia. Bertahun-tahun setelah karya Fritz Lang, kita temukan kembali thema itu dalam film seperti Blade Runner dan Children of Men: masa depan adalah kegelapan. Kelak adalah neraka. Harapan dihabisi dengan anti-utopia.

Tapi tiap dystopia pada dasarnya sebuah kritik tentang hidup di hari ini. Tak ada masa depan yang tak disemai sekarang. Fritz Lang dan filmnya hidup sezaman dengan para pelukis Ekspresionis Jerman di masa Republik Weimar, setelah Perang Dunia I. Pada dua dasawarsa awal abad ke-20 itu, seniman-seniman ini menyaksikan ambruknya kehidupan justru di tengah optimisme sebuah kota modern.

Grosz, misalnya, melukis Berlin dalam Grostadt (1916-1917): dengan warna merah muram di angkasa, metropolis itu, Berlin, tampak sebagai ruang tanpa akhlak. Kanvas Grosz menampilkan secara karikatural orang-orang kaya dengan perut menggelembung; lelaki, berpakaian necis di sebuah kafe yang menatap perempuan yang duduk hampir telanjang; pria dengan wajah babi yang berciuman mulut dengan wanita bugil....

Seperti Metropolis Fritz Lang, ada bayang-bayang kesalihan di sini: uang adalah akar mala dan kekejian, kata Injil. Fritz Lang menampilkan alegori dari Alkitab tentang pelacur Babilonia dan angkuhnya menara Babil; Grostadt juga mengumandangkan kembali kecaman agama kepada tubuh dan syahwat--meskipun Grosz seorang komunis, dengan sikap antikapitalis yang sengit. Mungkin karena yang hendak diperlihatkannya sebenarnya sebuah kota yang ingin menyembunyikan bagian dirinya sendiri yang obscene.

Ia pernah mengatakan, ia sendiri seperti sosok-sosok yang digambarnya; di satu saat ia "orang kaya... yang memadati perutnya dengan makanan dan menenggak sampanye". Tapi di saat lain ia juga orang yang berdiri di luar pintu, diguyur hujan, mengemis. "Aku seakan-akan terbelah dua."

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Persoalannya: apa yang akan terjadi dengan keterbelahan ini? Apa yang bisa dilakukan? Revolusi? Baik Fritz Lang maupun Grosz mengelak.

Grosz kemudian pindah ke Amerika, bosan dengan kanvasnya sendiri yang karikatural. Dalam Metropolis, konflik antara Fredersen, sang superkapitalis, dan para buruhnya yang tertindas tak diselesaikan dengan pemberontakan. Metropolis akhirnya hanya sebuah melodrama.

Sang Dewa Kapital yang digambarkan tak punya hati kemudian jadi insaf karena rasa sayang kepada anaknya yang tunggal, Freder. Seperti Sidharta Gautama, Freder dilindungi di istana agar tak pernah melihat penderitaan. Tapi suatu ketika ia bertemu dan jatuh cinta kepada Maria, perempuan muda pelindung si miskin. Seperti Gautama, Freder berubah. Ia memihak yang ditindas.

Tapi film ini diakhiri dengan jabat tangan. Yang semula sebuah dystopia berujung pada utopia. Dengan gampang.

Dalam banyak hal, Metropolis--yang pekan lalu diputar di Teater Jakarta, dengan iringan musik hidup dari Orkestra Babelsberg, sebagai awal festival German Season--adalah sebuah prestasi sinematik yang mengagumkan, yang mendahului masanya. Tapi ia juga sebuah cerita yang itu-itu saja: membawakan petuah tua.

Ajaran moral sering sangat menyederhanakan sejarah, seakan-akan hidup hanya dihuni ide-ide yang sudah jadi. Tapi Metropolis cocok dengan itu: karya ini megah tapi tampak lebih mengutamakan gambar bidang-bidang yang tertib, ketimbang apa yang tak terduga-duga dalam manusia. Di awal film, orang-orang yang di bawah itu ditertibkan Fredersen dan kekuasaannya. Di akhir film, mereka ditertibkan Maria dan kemuliaannya.

Si lemah tetap tak berwajah, tak bernama. Jangan-jangan mereka tak dianggap hidup, hanya jembel dalam sebuah kota yang terbelah.

Tak mengherankan bahwa Partai Nazi bertepuk tangan untuk Metropolis.

Goenawan Mohamad

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Jurnalis Depok dan Human Initiative Kurbankan 5 Kambing saat Idul Adha 1445 Hijriah

1 menit lalu

Wartawan dari Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Depok sedang menyiapkan paket daging kurban Idul Adha 1445 Hijriah hasil kolaborasi dengan Human Initiative di Jalan Waru, Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Sukmajaya, Depok, Senin, 17 Juni 2024. TEMPO/Ricky Juliansyah
Jurnalis Depok dan Human Initiative Kurbankan 5 Kambing saat Idul Adha 1445 Hijriah

Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) bersama Human Initiative (HI) berkurban 5 ekor kambing untuk warga Depok pada Idul Adha 1445 Hijriah


PHRI Bali Minta Pemda Atur Investasi dan Bisnis WNA di Pulau Dewata

1 menit lalu

Ada banyak tempat wisata di sekitar Canggu yang bisa Anda eksplor saat berlibur ke Bali. Mulai dari desa adat hingga pantai. Foto: Canva
PHRI Bali Minta Pemda Atur Investasi dan Bisnis WNA di Pulau Dewata

PHRI Bali berharap pemerintah perlu melakukan pengawasan secara ketat terhadap investor asing yang masuk ke Bali. Memastikan investasi masuk itu legal dan berizin


Inilah 10 Rekomendasi Olahan Daging Kurban Selain Sate

7 menit lalu

Warga membungkus daging kurban dengan daun kayu jati dan tisuk di Sekolah Motekar, Sukajadi, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Senin 17 Juni 2024. Tradisi daging kurban yang dibungkus menggunakan daun kayu jati dan tisuk serta tali bambu itu merupakan tradisi turun temurun warga dengan memanfaatkan sumber daya alam di sekitar tanpa plastik sekaligus melestarikan budaya gotong royong. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi
Inilah 10 Rekomendasi Olahan Daging Kurban Selain Sate

Dengan berbagai pilihan olahan daging kurban yang lezat ini, Anda dapat menciptakan hidangan spesial untuk merayakan Iduladha.


UEFA Dakwa Serbia karena Suporternya Bentangkan Spanduk Provokatif saat Lawan Inggris di Euro 2024

12 menit lalu

Kiper Inggris Jordan Pickford berusaha menepis bola saat melawan Serbia dalam pertandingan Grup C Euro 2024 di Arena AufSchalke, Gelsenkirchen, 17 Juni 2024.REUTERS/John Sibley
UEFA Dakwa Serbia karena Suporternya Bentangkan Spanduk Provokatif saat Lawan Inggris di Euro 2024

UEFA meluncurkan penyelidikan disipliner terhadap suporter Serbia yang dianggap melakukan tindakan tak pantas saat melawan Inggris di Euro 2024.


Ramai Prabowo Dikabarkan Akan Naikkan Rasio Utang jadi 50 Persen PDB, TKN: Pelaku Pasar Tak Perlu Khawatir

13 menit lalu

Presiden terpilih sekaligus Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menemui Presiden Joko Widodo atau Jokowi di Istana Kepresidenan Jakarta, pada Kamis, 13 Juni 2024. TEMPO/Daniel A. Fajri
Ramai Prabowo Dikabarkan Akan Naikkan Rasio Utang jadi 50 Persen PDB, TKN: Pelaku Pasar Tak Perlu Khawatir

Anggota Dewan Pakar TKN Prabowo-Gibran, Drajad Wibowo, membantah Presiden terpilih Prabowo Subianto akan menaikkan rasio pajak Hingga 50 persen.


Mengenal Lip Tie, Gangguan pada Bibir Bayi yang Sebabkan Sulit Menyusu dan Bicara

13 menit lalu

Ilustrasi ayah dan bayi. Foto: Unsplash/Nubelson Fernandes
Mengenal Lip Tie, Gangguan pada Bibir Bayi yang Sebabkan Sulit Menyusu dan Bicara

Lip tie merupakan kondisi dimana bibir atas bayi terikat dengan gusi. Hal ini dapat menyebabkan bayi kesulitan untuk menyusu bahkan cadel.


Putin Kunjungi Korea Utara untuk Pertama Kali dalam 24 Tahun

13 menit lalu

Presiden Rusia Vladimir Putin berjabat tangan dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un selama pertemuan di Kosmodrom Vostochny di wilayah Amur timur jauh, Rusia, 13 September 2023. Sputnik/Mikhail Metzel/Kremlin via REUTERS
Putin Kunjungi Korea Utara untuk Pertama Kali dalam 24 Tahun

Presiden Rusia Vladimir Putin akan mengunjungi Korea Utara untuk pertama kalinya dalam 24 tahun terakhir menggarisbawahi kedekatan kedua negara.


Undip: 4.429 Calon Mahasiswa Baru Lolos Lewat Jalur UTBK SNBT 2024

16 menit lalu

Universitas Diponegoro Semarang. (www.kampusundip.com)
Undip: 4.429 Calon Mahasiswa Baru Lolos Lewat Jalur UTBK SNBT 2024

Dalam UTBK SNBT 2024, setidaknya ada 145 perguruan tinggi yang membuka pendaftaran, termasuk Undip.


Timnas Slovakia Buat Kejutan dengan Kalahkan Belgia, Beri Harapan Tim-tim Kecil di Piala Eropa 2024

22 menit lalu

Pemain Slovakia Ivan Schranz melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang Belgia  dalam pertandingan Grup E Euro 2024 di Frankfurt Arena, Frankfurt, 17 Juni 2024.  Slovakia menang tipis 1-0 atas Belgia. REUTERS/Lee Smith
Timnas Slovakia Buat Kejutan dengan Kalahkan Belgia, Beri Harapan Tim-tim Kecil di Piala Eropa 2024

Pelatih Timnas Slovakia Francesco Calzona mengatakan kemenangan 1-0 atas Timnas Belgia memberikan harapan bagi tim-tim kecil di Piala Eropa 2024.


Begini Cara Menghilangkan Bau Amis Daging Kurban

23 menit lalu

Warga membungkus daging kurban dengan daun kayu jati dan tisuk di Sekolah Motekar, Sukajadi, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Senin 17 Juni 2024. Tradisi daging kurban yang dibungkus menggunakan daun kayu jati dan tisuk serta tali bambu itu merupakan tradisi turun temurun warga dengan memanfaatkan sumber daya alam di sekitar tanpa plastik sekaligus melestarikan budaya gotong royong. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi
Begini Cara Menghilangkan Bau Amis Daging Kurban

Dengan mengikuti tips berikut, Anda dapat memastikan bahwa daging kurban yang Anda sajikan tidak hanya lezat, tetapi juga bebas dari bau amis.