Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Keberpihakan Intelektual

image-profil

image-gnews
Iklan

Seno Gumira Ajidarma
Panajournal.com

Isu keterlibatan kaum intelektual dalam politik praktis adalah juga isu keberpihakan cendekiawan di bawah mitos bahwa tempat intelektual di menara gading. Dalam istilah tersebut terdapat dua pembebanan makna oposisional: (1) kaum intelektual terasing dari khalayak dan berasyik-masyuk dalam dunia sendiri, (2) justru kaum intelektual sebagai golongan pemikir mesti memisahkan diri dari khalayak agar bebas dari segala kepentingan, dari politik sampai bisnis.

Dalam rumusan klasik: "Yang saya maksudkan ialah kelas manusia yang akan saya namakan kaum cendekiawan, dan dengan nama itu saya maksudkan semua orang yang kegiatannya pada intinya bukanlah mengejar tujuan-tujuan yang praktis, tetapi yang mencari kegembiraannya dalam mengolah seni atau ilmu atau renungan metafisik--pendeknya dalam memiliki suatu harta yang bukan duniawi" (Benda, 1997 [1927]: 25-6).

Di Indonesia, dalam narasi lain, melalui pidato Rendra pada 1975 saat menerima penghargaan Akademi Jakarta, cendekiawan disebut sebagai empu yang berumah di angin: "Sekarang saya ambil hadiah dari Akademi Jakarta. Terima kasih. Saya akan kembali ke angin." (Rendra, 1985: 85).

Baik dari menara gading maupun dari angin, jika turun ke bumi, kaum intelektual itu dianggap berkhianat terhadap diri mereka sendiri. Dalam Pengkhianatan Kaum Cendekiawan yang terbit pada 1927 di Prancis, Julien Benda mengecam "kaum cendekiawan yang telah memasuki gelanggang politik untuk menggerakkan kebencian politik dengan menjadikan diri mereka ideolog" (Soekito dalam Benda: xiv). Betapa pun, kaum intelektual Prancis turun ke jalan demi kebebasan akademik pada Mei 1968 di Paris.

Tiga puluh tahun kemudian, para mahasiswa sebagai representasi intelektual muda juga turun ke jalan, menjadi ujung tombak Reformasi 1998 yang menggulingkan Orde Baru di Jakarta. Rendra dan Semsar Siahaan, yang ikut berdemonstrasi, mengalami sendiri kekerasan negara. Dengan kata lain, pada akhirnya kaum intelektual itu--menggerakkan maupun tidak menggerakkan--terkondisikan untuk berpihak.

Kondisi ini mendapat antisipasi Antonio Gramsci ketika merenung dalam penjara fasis Mussolini di Italia masa 1929-1935: "Stabilitas kebudayaan dan kualitas organik pemikiran dimungkinkan, jika kesatuan antara kaum intelektual dan awam sama mengada bagaikan teori dan praktik. Itulah yang terjadi jika kaum intelektual secara organis merupakan intelektual dari massa, dan jika mereka mengerjakan serta membuat koheren prinsip maupun masalah massa dalam kegiatan praktis, yakni membangun sekutu sosial budaya" (Gramsci, 1971 [1947]: 330).

Intelektual organik. Istilah itu kini populer, tapi maknanya terkorupsi sampai kepada profesional yang bekerja bagi konglomerasi global. Termasuk dalam korupsi pemahaman ini adalah intelektual yang mengabdi kepada politikus, kepada partai, kepada tujuan-tujuan berskala sempit, seperti memenangi pemilihan umum.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Jika orientasi Gramsci adalah keberpihakan kepada massa petani (baca: yang lemah), paham ini suka terbelokkan untuk mengesahkan keberpihakan kepada siapa saja, dengan agenda pribadi yang selalu tersembunyi. Meski kemudian, dalam bahasa Benda, kaum cendekiawan yang disewa oleh kaum awam itu, "Sudah menjadi sama awamnya seperti kaum awam" (Benda, op.cit., 94).

Kita pun sampai pada dua paham: (1) seorang cendekiawan kehilangan status kecendekiawanan--bukan kecendekiaan--ketika berpihak; (2) seorang cendekiawan tetap sahih disebut cendekiawan ketika berpihak, tapi penilaian atas kecendekiaannya ditentukan oleh tanggung jawab etis keberpihakannya itu.

Jika konsep ini diterapkan kepada oposisi biner Pandawa dan Kurawa dalam Mahabharata, ternyata keberpihakan tidak membuat posisi kecendekiawanan menjadi sama-sama hitam atau putih. Ini dapat disaksikan terhadap tokoh-tokoh "cendekiawan" di pihak Kurawa, yang dalam layar wayang kulit berposisi di sebelah kiri--yang bermakna "jahat" atau "salah".

Dapat ditengok posisi etis empat tokoh berikut ini. (1) Bhisma, mencurahkan segenap tenaga dan pikiran untuk Astina, tempat Kurawa berkuasa, karena Astina adalah negerinya, tanah tumpah darahnya. (2) Durna, mengabdikan ilmu kewiraannya secara eksklusif kepada Pandawa dan Kurawa, tapi berpihak kepada Kurawa karena mereka memberinya kesejahteraan duniawi.

(3) Sangkuni, memihak Kurawa, selalu berusaha mencelakai Pandawa karena Kurawa adalah anak-anak kakaknya, Permaisuri Gandhari. Hanya karena Gandhari, maka Sangkuni menjadi patih. (4) Widura, adik tiri Destarastra, raja tua Astina, berada di Astina, dengan kecerdasannya selalu berusaha melindungi Pandawa dari jebakan politis Sangkuni karena menganggap Pandawa berada di jalan yang benar.

Kiranya cukup perbandingan ini untuk menilai aktivisme para intelektual dalam Pilkada DKI 2017.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Komitmen Dorong Hak Kekayaan Intelektual

56 hari lalu

Komitmen Dorong Hak Kekayaan Intelektual

Kemenkumham selama 10 tahun terakhir menelurkan berbagai program untuk mengungkit kesadaran akan Hak Kekayaan Intelektual. Termasuk perjuangan di kancah global demi pengakuan dunia.


Ragam Jenis Kekayaan Intelektual, Pahami Soal Hak Kekayaan Intelektual atau HAKI

59 hari lalu

Karut-Marut Hak Cipta
Ragam Jenis Kekayaan Intelektual, Pahami Soal Hak Kekayaan Intelektual atau HAKI

Pahami soal Hak Kekayaan Intelektual atau HaKI, sehingga karya cipta Anda bisa terlindungi secara hukum.


Ketahui 4 Jenis Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual dan Ancaman Hukumannya

26 April 2024

Karut-Marut Hak Cipta
Ketahui 4 Jenis Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual dan Ancaman Hukumannya

Jangan main-main dengan pelanggaran hak kekayaan intelektual. Berikut jenis dan sanksi hukuman bagi pelakunya.


Hari Kekayaan Intelektual Sedunia Tiap 26 April, Kenali 7 Jenis Kekayaan Intelektual

26 April 2024

Karut-Marut Hak Cipta
Hari Kekayaan Intelektual Sedunia Tiap 26 April, Kenali 7 Jenis Kekayaan Intelektual

Hari ini, tiap 26 April sejak 2001, diperingati sebagai Hari Kekayaan Intelektual Sedunia. Apa saja jenis kekayaan intelektual?


Setiap 26 April Diperingati Hari Kekayaan Intelektual Sedunia, Ini Awal Penetapannya

26 April 2024

Hormati hak cipta! TEMPO/Fahmi Ali
Setiap 26 April Diperingati Hari Kekayaan Intelektual Sedunia, Ini Awal Penetapannya

Hari Kekayaan Intelektual Sedunia diperingati setiap 26 April. Begini latar belakang penetapannya.


Pecel Rawon Resmi Jadi Kekayaan Pengetahuan Tradisional Asli Banyuwangi

23 Desember 2023

Kuliner Pecel Rawon resmi tercatat sebagai Pengetahuan Tradisional (PT) asli Bumi Blambangan, Kabupaten Banyuwangi. Foto: Diskominfo Pemkab Banyuwangi.
Pecel Rawon Resmi Jadi Kekayaan Pengetahuan Tradisional Asli Banyuwangi

Kuliner pecel rawon resmi tercatat sebagai Pengetahuan Tradisional (PT) asli Bumi Blambangan yang diserahkan Kementerian Hukum dan HAM.


BRIN Akan Tetapkan Regulasi Penggunaan AI di Industri Riset

11 Desember 2023

Kepala BRIN Laksana Tri Handoko saat menyampaikan kata sambutan di kegiatan Kick Off Peran Valuator Kekayaan Intelektual dalam Pemanfaatan Hasil Riset dan Inovasi di Jakarta, Senin, 11 Desember 2023. (Tempo/Alif Ilham Fajriadi)
BRIN Akan Tetapkan Regulasi Penggunaan AI di Industri Riset

Hingga kini belum ada regulasi yang jelas mengatur terkait penggunaan AI tersebut.


BRIN Gelar Kick Off Peran Valuator untuk Hak Kekayaan Intelektual

11 Desember 2023

Kepala BRIN Laksana Tri Handoko saat menyampaikan kata sambutan di kegiatan Kick Off Peran Valuator Kekayaan Intelektual dalam Pemanfaatan Hasil Riset dan Inovasi di Jakarta, Senin, 11 Desember 2023. (Tempo/Alif Ilham Fajriadi)
BRIN Gelar Kick Off Peran Valuator untuk Hak Kekayaan Intelektual

Kegiatan ini sebagai bentuk dan upaya kontribusi BRIN terhadap pembangunan berbasis kekayaan intelektual.


Dugaan Penjiplakan Lagu Halo-halo Bandung, Kemendikbudristek Ambil Langkah Hukum

16 September 2023

Lagu Halo-halo Bandung yang dijiplak Malaysia. Youtube
Dugaan Penjiplakan Lagu Halo-halo Bandung, Kemendikbudristek Ambil Langkah Hukum

Pemerintah Indonesia memutuskan untuk membawa kasus dugaan penjiplakan lagu Halo-halo Bandung ke ranah hukum.


Menkumham Sampaikan Dukungan Indonesia terhadap Kekayaan Intelektual Global

7 Juli 2023

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Hamonangan Laoly saat menghadiri acara Paralegal Justice Award 2023, Ancol, Jakarta Utara, Kamis, 1 Juni 2023 [Tempo/Eka Yudha Saputra]
Menkumham Sampaikan Dukungan Indonesia terhadap Kekayaan Intelektual Global

Menurut Yasonna, kerja sama internasional di bidang kekayaan intelektual akan memberikan banyak manfaat.