Disney dan Abrams Membangun Jagat Baru

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah karakter dalam film Star Wars, berpose saat berlangsungnya penayangan perdana film terbaru Star Wars: The Force Awakens di Leicester Square, London, Inggris, 16 Desember 2015. REUTERS

    Sejumlah karakter dalam film Star Wars, berpose saat berlangsungnya penayangan perdana film terbaru Star Wars: The Force Awakens di Leicester Square, London, Inggris, 16 Desember 2015. REUTERS

    TEMPO.CO, JakartaKarena ini film yang sangat dinantikan sejagat, sinopsis cerita hanya akan disajikan sesuai penyajian resmi. Selebihnya tonton saja.

     ***
    Tigapuluh tahun kemudian.

    Begitu banyak yang sudah terjadi. Begitu banyak yang datang dan pergi. Demikian juga di dalam jagat Star Wars.

    Pada notasi pertama John Williams itu, seluruh penggemar fanatik di dalam bioskop seperti kena setrum: menjerit-jerit penuh kerinduan pada musik Star Wars.  Sutradara  J.J Abrams langsung melesat pada pokok plot film ini.

    Ini adalah Star Wars generasi baru. George Lucas sudah menjual hak kreatif ciptaannya kepada Disney, dan para penonton setianya menanti dengan berdebar. Apakah Star Wars akan jadi manis seperti gulali? Atau JJ Abrams mampu menghidupkan franchise yang selama ini jadi pegangan generasi tahun 1970-an dan 1980-an dan meraup generasi milenial?

    Kita berkenalan dengan mereka yang jahat: generasi kelompok hitam dengan hembusan brutal Darth Vader bernama First Order yang dipimpin Kylo Ren, Pangeran Kegelapan baru (yang diperankan Adam Driver dengan penuh kekejian). Yang penting kita juga berkenalan anak-anak muda yang masih hijau yang menjadi pembawa narasi cerita ini: Rey (Daisy Ridley) seorang perempuan remaja , yatim piatu, yang mencari makan dengan mengorek-ngorek mesin bekas dan menjualnya untuk dibarter dengan makanan. Rey kelak berkenalan dengan Finn (John Boyega), seorang anggota stormtrooper yang lari dari pasukannya dan berbalik membantu Rebellion, para pemberontak rezim First Order.  Rey adalah perwakilan rakyat jelata yang menganggap nama Luke Skywalker adalah mitos yang tak mungkin sehebat seperti yang didongengkan banyak orang.

    Maka pahamlah kita, generasi baru Star Wars ini mengingatkan generasi saya, yang akrab dengan jagat perwayangan, dengan  pada generasi Udrayana dan Udrayaka dalam Mahabharata yang mengira kesaktian Eyang Arjuna atau Bima hanyalah  mitos karena mustahil membayangkan kehebatan mereka demikian dahsyatnya. J.J Abrams tampak ingin memberikan penggemar Star Wars pelayanan kelas premium. Tokoh-tokoh penting dari trilogi awal yang berhasil merebut dan mencengkeram hati kita itulah yang kemudian menyatukan para peneggmar  fanatik Star Wars di tahun 1970-an dan anak cucunya para ‘newbie’ masa kini yang kok ya juga sudah begitu fasih dengan kosa kata : Luke Skywalker, Han Solo, Lightsaber, The Force dan Darth Vader.

    Nama-nama dari trilogi awal (Trilogi awal artinya justru Star Wars IV,V dan VI yaitu Star Wars: A New Hope; The Empire Strikes Back dan Return of the Jedi)  ini diucapkan seperti nama-nama keramat dan penuh mitos oleh para cucu cicit, seperti halnya  salah satu  dalam dunia wayang ketika mengelus kuda Eyang Arjuna almarhum dan ternyata sang kuda mampu terbang karena si cicit adalah “ksatria piningit” pilihan jagat. Jadi bayangkanlah bagaimana jika generasi baru yang dekil dan kotor—karena mereka rakyat jelata yang hidup dari mengais barang bekas di padang pasir. Seorang perempuan remaja “biasa” yang suatu saat menyadari bagaimana The Force-- sebuah kekuatan  energi yang terdiri dari seluruh kekuatan mahluk hidup yang mampu membuat seseorang/mahluk melakukan apa saja, tetapi hanya bisa muncul di dalam diri seseorang pada waktu tertentu—bukan sekedar mitos.

    Di dalam durasi dua jam 16 menit, berbagai pertempuran, pembunuhan massal, perkelahian antara pasukan Gelap melawan para Pemberontak itu berlangsung untuk satu hal : sebuah peta lokasi Luke Skywalker yang ‘menghilang’ dari peredaran. Dan J.J Abrams menerjemahkan peta dalam jagat Star Wars ,lengkap dengan kompleksitasnya dengan brilian. Hal lain yang memang diakui para pennggemar film, J.J Abrams adala si Midas  dalam dunia sinema yang selalu berhasil meniupkan roh film-film lama menjadi raksasa yang memuntahkan duit tak berkesudahan. Serial TV Mission Impossible yang, apa boleh buat kini menjadi trade mark Tom Cruise; serial film Star Trek dan kini Star Wars adalah hasil olahan J.J Abrams yang bersinar-sinar.

    Sebagai penggemar fanatik Star Wars, Abrams nampak ingin memenuhi rasa haus penonton (masa kini) : peran utama yang ditampilkan adala seorang perempuan (di masa lalu salah satu kritik terhadap serial film Star Wars adalah karena film itu terlalu “boys club” dan “putih banget” alias kurang multikultural) ditemani seorang lelaki Afro-America. Ini pilihan yang disengaja karena Star Wars sudah memasuki abad 21.

    Abram juga menyadari bahwa penonton Star Wars justru kecewa dengan trilogi prekuel (Star Wars Episode I: The Phantom Menace; Attack of the Clones dan Revenge of the Sith) yang justru disutradarai oleh penciptanya George Lucas. Salah satu kekecewaan penonton –dari banyak kritik—adalah karena penggunaan CGI yang dianggap berlebihan dan karena “hilang”nya tokoh-tokoh yang disukai penonton karena tokoh itu memang belum lahir pada edisi prekuel.

    Maka tak segan-segan, Abrams menyediakan bergentong air segar untuk para penonton haus: pertemuan generasi baru dan generasi lama Star Wars. Jadi meski koreografi perkelahian Ligt Saber yang (sengaja) dibikin berantakan (maklum tokohnya masih newbie); meski kecewa karena ingin menyaksikan lebih banyak aksi aktor Indonesia Iko Uwais, Yayan Ruhian serta Cecep Arif Rahman; dan meski terasa sangat Disney karena Abram dengan penuh kesadaran meminimalisir adegan keji atau buas, harus diakui film pertama dari trilogi Star Wars terbaru ini adalah sebuah sukses baru.

    Bukan saja dia berhasil membuat sebuah skenario dan plot cerita yang berhasil memasukkan tokoh baru dan lama dengan cerita yang logis dan bisa diterima jagat Star Wars, tetapi Abrams tidak hanya memasan aktor Harrison Ford atau Carrie Fisher sebagai elemen nostalgia atau cameo sekedarnya. Mereka tetap jantung dari film ini, dengan urat nadi para pemain muda yang berhasil memompa kehidupan dalam jagat George Lucas yang “tidur panjang” untuk waktu yang lama.

    Droid baru BB8 , yang berbentuk dua bola dan bertingkah dan menggelinding seperti anjing yang patuh dan lincah untuk sementara seolah sebagai pengganti R2-D2 yang cerdas atau C-3PO yang senewen melulu.  Abrams juga paham betapa pentingnya para robot dan droid ini untuk melengkapi elemen persahabatan di dunia Star Wars.

    Mungkin yang kurang menarik adalah para mahluk dari ras berbeda bertubuh atau berwajah seperti binatang purba  dalam edisi ini tidak banyak peran kecuali Maz Kanata. Para species lain hanya berperan sambil lalu.

    Abram agaknya memusatkan perhatian pada hal yang paling penting dalam trilogi IV,V dan VI: sekeren apapun pesawat, robot, pasukan atau dunia fantasi yang diciptakan George Lucas, para penonton tetap selalu menjagokan bagian emosional hubungan para tokohnya dalam film-film ini. Abram menyajikannya dengan penuh perhitungan. Dan dia juga nerasil membuat  semua pemain untuk tampil prima.

    Kita terluka. Terpukau. Kita ketagihan. Dan ingin menyaksikan lanjutannya. J.J Abram jelas telah memberikan “Force” baru ke dalam sebuah cerita klasik yang terlantas begitu lama. 

    Leila S.Chudori


    STAR WARS:  THE FORCE AWAKEN
    Sutradara : J.J Abrams

    Skenario : J.J Abrams, Lawrence Kasdan dan Michel Ardnt
    Berdasarkan tokoh-tokoh kreasi George Lucas

    Pemain : Harrison Ford, Carrie Fisher, Daisy Ridley, John Boega,  Oscar Isaac, Adam Driver, Lupita Nyong’o

     



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.