Cinta Rangga Setelah 14 Tahun

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dian Sastrowardoyo (kiri) dan Sissy Priscillia (kanan) menaiki becak saat proses pengambilan gambar film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) jilid 2 di Kampung Prawirotaman, Yogyakarta, 10 November 2015. TEMPO/Pius Erlangga

    Dian Sastrowardoyo (kiri) dan Sissy Priscillia (kanan) menaiki becak saat proses pengambilan gambar film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) jilid 2 di Kampung Prawirotaman, Yogyakarta, 10 November 2015. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Jakart-- Film sekuel yang sudah lama dinantikan penggemarnya tayang pekan ini. Seperti apakah Rangga dan Cinta yang sudah dewasa?


    ***

    Buku skenario karya Sjumanjaya berjudul “Aku”, puisi Chairil Anwar, foto-foto yang yang mengirim masa lalu yang masih saja bergaung hingga kini dan terakhir: surat itu. Surat yang kemudian membuat Cinta bertanya-tanya begitu lama. Setelah sekian lama, akhirnya Cinta (Dian Sastrowardoyo), membungkus Rangga dengan segala kenangannya ke dalam sebuah kotak dan setelah berkali-kali ragu, ia membuangnya ke dalam keranjang sampah.

    Tapi itu tidak selesai. Rangga (Nicholas Saputra) muncul kembali dalam hidupnya. Kehidupan Cinta yang sementara ini sudah “tenang” terguncang kembali. Hubungannya bersama Rangga di masa lalu yang bertaut karena puisi, kini menjadi seperti menuliskan larik-larik puisinya sendiri. Seolah, seperti kata kawan-kawan Cinta—semesta seperti berkongsi untuk membuat pertemuan yang begitu mendadak di tepi keputusan besar Cinta untuk sebuah masa depan.

    Sebentar dulu. Bukankah tak mungkin dalam waktu yang begitu lama gadis seperti Cinta dan pemuda seperti Rangga (cantik, ganteng, atraktif , cerdas dan seterusnya) tak memilikki pendamping lain? Apakah Rangga sudah menikah, atau apakah Cinta sudah terikat?

    Film sekuel yang kini diarahkan sutradara Riri Riza –yang pada film pertama tahun 2002 dulu duduk sebagai produser bersama Mira Lesmana—bukan sesuatu tugas yang mudah, meski para penggemarnya sudah menjerit-jerit haus menuntut “kejelasan” kisah Cinta dan Rangga yang berakhir mengambang pada film pertama.

    Tetapi pertanyaan yang wajar muncul: bagaimana caranya membuat sekuel ketika geng Cinta dan Rangga sudah menjadi dewasa, yang sudah tak lucu lagi untuk bersungut dan mencibir? Apakah kisah Rangga dan Cinta akan sama menariknya ketika mereka sudah pada usia layak berkeluarga dan memikirkan tanggung jawab masa depan?

    Saya kira, para penggodok cerita yaitu Mira Lesmana, Prima Rusdi dan Riri Riza mempunyai jawaban: membuat film romantis ala “Before Sunrise” dengan beberapa elemen komedi romantis (masih ada tokoh seperti Milly dan Maura juga Mamet berguna untuk comic-relief).

    Ketika kita bertemu dengan kelompok Cinta, Alya, Maura, Karmen, Milly dan Rangga pada 2002 lalu, kita tak hanya terpikat pada kelima anak SMA manis, lucu dan seolah mewakili anak SMA urban; dan juga pada kisah cinta pasangan Cinta dan Rangga yang seketika menjadi aikon terbaru film Indonesia. Tapi yang lebih penting dan unik –dibanding film bertema remaja lainnya, film ini menggunakan puisi sebagai penggerak film. Puisi yang mempertemukan Rangga dan Cinta, puisi pula yang kemudin membentuk plot film itu. Dengan musik ciptaan Melly dan Anto Hoed  dan serombongan nama yang membentuk skenario serta penampilan band PAS yang menjadi bagian dari cerita, hampir sulit mencari-cari kesalahan dalam film pertama itu. Keren, meriah , asyik dan kita setuju film ini adalah sebuah aikon.

    Pada sekuel ini, kita mendengar Rangga menyitir bait-bait puisi yang lebih ‘dewasa’, yang sudah lebih bulat dan berisi dibandingkan bait remaja “pecahkan saja gelas itu”.Kini penyair Aan Mansyur yang ditugaskan menyuarakan kegelisahan Rangga dengan “Lihatlah tanda tanya itu/Jurang antara kebodohan dan keinginanku/memilikimu sekali lagi.” Gemuruh, gegap gempita dan sangat persis menggambarkan hati seorang Rangga.

    Tetapi puisi-puisi Aan yang itu tidak menjadi penggerak plot seperti halnya film pertama. Puisi dalam film ini seperti menjadi penanda, sebagai peletik api. Dan seterusnya kita akan menyaksikan Rangga dan Cinta yang berada pada sebuah pertemuan yang mengejutkan, menggembirakan sekaligus memicu kemarahan dan kebingungan. Mereka bertengkar, baikan, bertengkar lagi, masa lalu muncul dan membuka luka lama, lantas saling memaafkan untuk kemudian berbincang lagi. Sepanjang malam, sepanjang jalan Yogyakarta yang diisi dengan perbincangan dan beberapa perkenalan pada pelbagai tempat dan pertunjukan itu mau tak mau akan mengingatkan pada film klasik “Before Sunrise”, sebuah jejak yang cukup ambisius karena Richard Linklatter membangun dialog tokoh Jesse dan Celine secara organik dari perbincangan kedua aktor Ethan Hawke dan Julie Delphie.

    Tapi tak berarti adegan jalan-jalan ini tak menarik. Rangga dan Cinta akan selalu menarik karena sejak remaja mereka adalah pasangan remaja yang unik, pasangan yang gemar membaca sastra. Mereka  sama-sama cerdas, berapi-api       dan bahkan sempat bicara politik (tentang Ayah Rangga yang dianggap pemberontak) . Bagaimana perkembangan karakter mereka kini? Mungkin kecenderungan dan keunikan mereka setelah 14 tahun akan  lebih menarik jika semakin dikembangkan atas nama konsistensi. Bukankah mereka sudah dewasa dan sudah melalui berbagai pengalaman selain cinta? Apalagi sutradara Riri Riza memasukkan sebuah kelompok teater boneka yang sedang melejit namanya yang lazim menampilkan pentas drama dengan latar belakang prahara 1965; mengapa Rangga dan Cinta  tak sedikitpun membahas pentas yang baru saja mereka saksikan itu? Membicarakan politik dengan hanya menyebut pilpres dalam satu kalimat rasanya tak cukup dan tak menggambarkan karakter pasangan yang gemar membaca  ini.

    Soal Alya. Sejak awal, pasangan produser Mira Lesmana dan sutradara Riri Riza sudah mengumumkan bahwa Ladya Cheryl tak (bersedia) ikut main dalam film sekuel ini. Tentu saja bukan hanya para sineas, tetapi penggemar film merasa kecewa karena tokoh Alya sangat penting sebagai tempat Cinta berbicara dengan jujur, dan kawannya yang paling memahami Cinta.

    Jalan keluar Riri Riza dan para penulis skenario untuk menyelesaikan absennya tokoh Alya belum tentu disukai semua penonton, tetapi itu sebuah keputusan yang memang harus dilakukan sutradara dan produser agar plot bisa menggelinding dengan lancar.

    Yang menarik, dalam film ini , tokoh Rangga terasa diberikan porsi yang besar dan lebih menantang. Spektrum emosi Rangga lebih luas lagi hingga kita diberi kemewahan untuk menyaksikan seni peran Nicholas Saputra dalam berbagai ekspresi: sinis, angkuh, tapi akan ada saatnya tembok keangkuhan itu runtuh seketika dan kita melihat kepedihan yang mendalam.

    Baik Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo tampil dewasa bukan karena sekedar usia mereka sudah bertambah, tetapi seni peran mereka sudah lebih matang dan lebih dalam. Setiap kali mereka bertengkar, kita melihat sebetulnya kedua tokoh ini masih sangat mencintai, tetapi waktu dan segalanya sudah menjadi pembatas. Dalam menggambarkan kegairahan yang tertahan, kedua aktor ini memang juaranya.

    Film ini sudah pasti akan meledak dan sukses secara pasar karena ia sudah ditunggu begitu lama. Penantian para penonton terhadap film sekuel ini mungkin sama seperti penantian Cinta dan Rangga untuk bisa bertemu lagi. Setelah bertemu, ada gelegak rindu, tetapi ada juga kenyataan bahwa dalam 14 tahun begitu banyak yang terjadi. Cinta dan Rangga sudah dewasa; penontonpun sudah menjadi dewasa. Karena kedewasaan itu, maka akan banyak pertanyaan dan tuntutan yang timbul dari penonton, karena mereka semua merasa memiliki tokoh dan kisah cinta Rangga dan Cinta.

    Leila S.Chudori

    ADA APA DENGAN CINTA 2
    Sutradara        : Riri Riza
    Skenario          : Mira Lesmana dan Prima Rusdi
    Pemain            : Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Titi Kamal, Adinia Wirasti, Sissy Precilia, Dennis Adhiswara
    Produksi          : Miles Films dan Legacy Pictures

    Ini cuplikannya:


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.