Prenjak Sebuah Puisi 12 Menit

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wregas Bhanutedja, sutradara film pendek Prenjak menjelaskan kepada sejumlah media dalam konferensi pers di Plaza Senayan Jakarta, 27 Mei 2016. Film pendek tersebut berhasil meraih penghargaan dalam Festival Film Cannes di Perancis. TEMPO/Nurdiansah

    Wregas Bhanutedja, sutradara film pendek Prenjak menjelaskan kepada sejumlah media dalam konferensi pers di Plaza Senayan Jakarta, 27 Mei 2016. Film pendek tersebut berhasil meraih penghargaan dalam Festival Film Cannes di Perancis. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta- Film pendek Prenjak berhasil memenangi La Semaine de la Critique Cannes tahun ini. Sebuah terobosan yang membanggakan.

    PRENJAK
    Sutradara: Wregas Bhanuteja

    Skenario: Wregas Bhanuteja

    Pemain: Rosa Winenggar, Yohanes Budyambara, Hosea Hatmaji, Banyu Bening

    ***

    SEBUAH siang. Sebuah dapur. Ditemani panci yang bergelantungan dan tepung pembuat pizza yang berserakan, Diah, perempuan berambut pendek, menggiring Jarwo, teman kerja lelakinya yang tambun dan masih mengenakan celemek untuk memasak

    ”Duduk,” kata Diah (Rosa Winenggar) dengan nada tegas. Sedangkan Jarwo sibuk memprotes karena harus segera membuat adonan pizza.

    Diah mengajukan persoalan. Dia butuh duit. Dia akan berjualan korek api. Sebatang 10 ribu rupiah. Jarwo (Yohanes Budyambara) langsung memotong kalimat Diah, seperti umumnya lelaki yang tak sabar mendengarkan perempuan bicara. ”Satu korek api yang dinyalakan, dan kamu boleh melihat vagina saya sampai api padam.”

    Kini Jarwo menelan ludah. Tawaran diterima. Hanya dalam sekejap api padam. Jarwo termenung. Dia menambah beberapa helai puluhan ribu untuk mengulang pengalamannya, sementara Diah sebetulnya membutuhkan lebih dari 100 ribu rupiah. Sembari menikmati setiap nyala korek api, Jarwo ngoceh kenapa Diah tidak mencari pacar atau suami sehingga dia bisa dilindungi dalam segala hal, termasuk dalam soal finansial.

    Diah menjawab dengan nada pendek dan tegas sembari menutup keinginan Jarwo untuk melanjutkan pertanyaan lagi. Api korek api sudah selesai. Diah mengenakan celana dalamnya, berdiri akan meninggalkan, hingga Jarwo menawarkan hal yang sama. Bedanya, justru Jarwo yang akan membayar jika Diah bersedia melihat penisnya (yang jelas sedang menggelembung naik). Diah, meski ragu, akhirnya menerima tawaran itu. Jarwo menghitung sampai 25, dan hampir selama itu Diah memejamkan mata di bawah meja. Api korek api hampir padam. Akhirnya Diah membuka matanya perlahan dan menatap penis di hadapannya. Wajahnya berubah menjadi muram. Kita tak menemukan kegairahan, tapi kesedihan.

    Film karya Wregas Bhanuteja sepanjang 12 menit ini menghebohkan dunia maya karena menjadi film (pendek) Indonesia pertama yang berhasil memenangi La Semaine de la Critique Cannes tahun ini. Prenjak sebetulnya sebuah film pendek yang kelabu, meski tetap terselip humor yang menyedihkan. Vagina dan penis disorot sebagai bagian dari cerita yang membuat para tokoh berkecamuk dengan berbagai perasaan, termasuk rasa lucu sekaligus tak nyaman sekaligus takjub.

    Tapi bukan itu yang menyebabkan film pendek ini istimewa. Sejak awal Diah digambarkan sebagai perempuan yang tak banyak basa-basi. Dia berbicara dengan tegas, nyaris tanpa emosi, dan itu semua dilakukan karena kebutuhan uang. Tapi, perlahan, kita melihat raut wajahnya yang berubah. Di bawah meja. Disinari redupnya api korek api.

    Juga pada menit-menit akhir ketika dia memandikan anak lanangnya yang bertanya ke mana bapaknya, yang hanya dijawab dengan kalimat singkat ”tidak tahu”.

    Ini semua dimulai dari ide kisah tentang gadis korek api di Alun-alun Yogyakarta pada 1990-an yang nyaris menjadi ”urban legend”. Wregas Bhanuteja mengaku mendapat cerita itu dari kawannya yang bertemu dengan seorang gadis penjual wedang rondhe yang juga menjual korek api dengan harga seribu rupiah per batang. ”Dengan korek api tersebut, teman saya bisa melihat kemaluan sang penjual,” ucap Wregas kepada Tempo. Tapi, setelah Wregas berkeliling ke Alun-alun, penjual itu sudah tak kelihatan. ”Karena rasa penasaran dan visual yang selalu membekas itu, akhirnya saya putuskan untuk membuatnya dalam bentuk film,” ujar Wregas.

    Sembari merogoh tabungan sebesar Rp 3 juta, saweran kelompok Studio Batu--komunitas seni tempat Wregas berkarya bersama--jadilah sebuah tafsir modern dari kisah penjual wedang rondhe itu. Wregas mengembangkan imajinasinya pada sebuah setting urban Yogyakarta masa kini. Hasilnya, Wregas tak hanya berhasil menangkis sembilan sineas pesaing dalam kompetisi film pendek itu, tapi juga berhasil bercerita dengan sebuah ledakan di dalam ruang sesempit 12 menit.

    Tema yang diajukan akan mengingatkan kita pada film Siti karya Eddie Cahyono, yang kebetulan sutradara asal Yogyakarta juga. Perempuan yang akan melakukan apa pun demi kehidupan anak. Tapi Wregas mampu memampatkan seluruh kompleksitas kisah perempuan sebagai pekerja dan ibu serta mengatasi kebutuhan anak yang ayahnya ”menghilang” dari segala tanggung jawab. Gambar dimaksimalkan dengan efektif sebagai ”pencerita utama”, artinya dialog hanya penunjang. Wregas menggunakan dialog sependek dan sepadat mungkin. Tapi kita lebih memperoleh narasi dari gambar-gambar yang berkisah: api yang menyala, wajah yang terkesiap, lantas kemurungan terasa. Juga duit yang bertukar tangan, yang semakin mempertebal kesedihan.

    Sungguh yang disampaikan Marine-Paulien Mollaret , kurator film La Semaine de la Critique, memang benar. ”Bhanuteja banishes sordid voyeurism to the benefit of tender and humorous poetry.” Tindakan voyeurism, mengintip dan kemesuman, diperlakukan dengan humor dan sekaligus sebagai puisi (yang muram).

    Pada usia yang baru 23 tahun dan film pendeknya yang kelima yang sudah mendapatkan sebuah penghargaan prestisius di Festival Film Cannes, Wregas punya masa depan cerah untuk ikut menjadi sineas yang memuluskan jalan Indonesia di arena internasional.


    LEILA S. CHUDORI

    ***

    BOKS

    Wregas Bhanuteja: Film Pendek Punya Kekuatan
    KETIKA film Ada Apa dengan Cinta? 2 sedang dalam masa pengambilan gambar, Wregas Bhanuteja ditugasi Miles Films membuat dokumenter behind the scene film karya Riri Riza itu. Rendah hati dan sangat teliti, sutradara muda Wregas berjam-jam mewawancarai setiap narasumber, termasuk Tempo, untuk dokumenter itu. Hanya dua bulan setelah itu, berita meledak di dunia maya bahwa Wregas dan timnya, Studio Batu, memenangi Le Prix Découverte Leica Cine di La Semaine de la Critique Cannes 2016.

    La Semaine de La Critique atau Pekan Kritikus Film adalah salah satu festival independen yang paralel dan diintegrasikan bersama Festival Film Cannes. Le Semaine de La Critique dilahirkan pada 1962 oleh para kritikus dan wartawan Prancis yang menggugat kemapanan Festival Film Cannes, yang dianggap sudah terlalu berorientasi hanya pada nama besar. Tak lama sesudah itu, ”saudara sekandung”-nya lahir, yaitu Quinzaine des Realisateurs atau Directors Fortnight, yang dibangun oleh para sutradara Prancis. Kedua festival independen ini dianggap pilihan karya-karya inovatif yang kemudian diintegrasikan dan tetap berlangsung di bawah Festival Film Cannes. Sebagian film yang berkompetisi di La Semaine dan Quinzaine kini juga ikut berkompetisi di Festival Film Cannes untuk beberapa kategori.

    Karena itulah penghargaan dan sertifikat yang diterima pemenang seperti Wregas akan diterima dengan nama Festival de Cannes & Semaine de la Critique. Meski jadi sineas Indonesia pertama yang berhasil memenangi kategori tersebut, Wregas tampak rendah hati. Berikut ini wawancara dengan alumnus Institut Kesenian Jakarta itu.

    Kenapa diberi judul Prenjak, In the Year of Monkey?

    Judul yang saya berikan di film ini tidak memiliki kaitan satu sama lain. Gadis penjual korek api di Yogyakarta tersebut kerap dipanggil dengan sebutan ciblek (cilik-cilik betah melek). Ciblek adalah nama seekor burung. Maka, ketika memberi judul film ini, saya memilih nama burung yang relevan dengan ciblek, yakni prenjak.

    Mengenai judul bahasa Inggris In the Year of Monkey hanyalah karena semangat kru film ini. Saya dan teman-teman dari Studio Batu rata-rata lahir tahun 1992, shio monyet. Dan 2016 adalah tahun monyet. Jadi kami memiliki semangat bahwa 2016 akan menjadi tahun kami. Puji syukur, kami memenangi Semaine de la Critique Cannes tahun ini.

    Bagaimana ide itu muncul?

    Ide ini bermula dari kisah teman saya di Yogyakarta yang saat masih SD pernah pergi ke alun-alun Kota Yogyakarta. Dia bertemu dengan seorang gadis penjual wedang rondhe yang juga menjual korek api dengan harga seribu rupiah per batang. Dengan korek api tersebut, teman saya bisa melihat kemaluan sang penjual. Setelah mendengar kisah masa kecil teman saya itu, saya memutuskan pergi ke alun-alun dan mencari gadis penjual korek tersebut. Namun kini sudah tidak ada. Begitu pula di sudut Kota Yogya yang lain, saya sudah susah menemuinya. Karena rasa penasaran dan visual yang selalu membekas itu, akhirnya saya putuskan saja untuk membuatnya dalam bentuk film.

    Mengapa Anda memilih konteks yang lebih ”modern”?

    Saya memiliki ketertarikan tersendiri untuk menuangkannya dalam konteks zaman sekarang yang dekat dengan saya. Saya membuatnya dengan harga yang lebih mahal, yakni 10 ribu rupiah per batang, dan hal ini dilakukan seorang karyawan restoran. Semua itu adalah fantasi dan imajinasi saya terhadap gadis korek api.

    Mengapa penting memperlihatkan kedua alat kelamin secara frontal?

    Bagi saya, dua alat kelamin itu adalah bentuk lingga dan yoni, laki-laki dan perempuan, di mana keduanya akan saling melengkapi satu sama lain untuk kehidupan. Jika salah satu peran hilang, yang satu akan berjuang lebih keras untuk hidupnya, seperti tokoh Diah, yang harus menghidupi anaknya sendirian. Jadi saya rasa lingga dan yoni harus ada di dalam film karena inilah yang bisa menggambarkan keseimbangan laki-laki dan perempuan sebagai manusia.

    Bagaimana dengan para pesaing Anda? Apakah sempat menyaksikan film mereka?

    Ada sepuluh film pendek (termasuk film saya) yang berkompetisi, di antaranya film Portugal, Brasil, Prancis, Yunani, dan Taiwan. Semuanya saya tonton dan semua keren. Mereka memiliki bahasa sinema khas masing-masing. Tidak melulu naratif dan struktur tiga babak. Mereka memiliki gaya bertutur yang berbeda antara satu dan yang lain. Secara teknis, kualitas kamera mereka jauh lebih baik dibanding saya karena menggunakan kamera profesional, seperti Red Camera dan Alexa. Sedangkan saya hanya Canon 5D Mark III. Dari sisi anggaran produksi, mereka jauh lebih besar. Ada satu film dari Yunani berjudul Limbo yang mengalokasikan anggaran untuk membuat replika seekor ikan paus yang terdampar di tepi pantai.

    Menurut Anda, apa keistimewaan film pendek dibanding film panjang?

    Film pendek memiliki kekuatan menyampaikan sebuah pesan dalam waktu singkat dan efisien. Penonton tidak perlu duduk berlama-lama untuk menikmati drama dan konflik sampai akhirnya menuju premis seperti halnya film panjang. Film pendek lebih fleksibel untuk diputar di berbagai waktu dan memiliki pesan yang cepat tersampaikan.

    Bercita-citakah membuat film panjang dan apa bayangan Anda untuk film panjang?

    Tentu. Prenjak adalah film pendek kelima saya dan teman-teman sudah mendesak bahwa saatnya berkembang menuju cerita film panjang pertama saya. Maka saya akan mulai menulis. Saya masih butuh waktu sekitar satu bulan buat beristirahat untuk kemudian menyusun rencana saya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.