Tarzan Milenial Kembali ke Kongo

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Film The Legend of Tarzan (2016)

    Film The Legend of Tarzan (2016)

    TEMPO.CO, Jakarta-Sebuah interpretasi baru dari karya Edgar Rice Burrough yang menampilkan sikap baru tentang kolonialisme dan rasisme.

    ***

    Pertama-tama yang perlu diketahui: Tarzan generasi milenial ini diperankan Alexander Skarsgård.

    Aktor yang selama ini dipuja penonton fanatik serial TV True Blood, seorang Eric Northman , vampir yang berhasil mencuri perhatian melebihi para peran utamanyanya, terlebih karena ia memperlihatkan tubuh telanjang tanpa ragu tanpa pretensi. Dan tubuh telanjang dada ini—yang sudah ditambah otot dan dada yang menggiurkan—kini tampil sebagai tokoh fiktif legendaris Tarzan atau John Clayton III seorang putera bangsawan Lord Greystoke  yang pada suatu masa dalam hidupnya dibesarkan para gorila hutan Kongo dan hanya mengenal alam dan binatang sebagai bagian dari dirinya.

    Hal kedua yang perlu diketahui, Tarzan sudah pernah diperankan 18 aktor , antara lain Johnny Weissmuller, Christopher Lambert, Tony Goldwyn (pengisi suara film animasi), Kellan Lutz (pengisi suara animasi) atau model Travis Fimmel. Alexander Skarsgård adalah Tarzan ke 19.

    Tarzan arahan sutradara David Yates (Harry Potter and the Deathly Hallows 1 dan 2, 2011) ini dimulai dengan sebuah adegan yang luar biasa memukau. Di pagi yang berkabut,  dikelilingi serangkaian tebing tinggi yang mencurahkan air terjun yang deras,  Kapten  Léon Rom (Christoph Waltz) berniat menemui Ketua suku Mbonga. Kabut turun perlahan dan bak sebuah karya seni rupa, kita melihat gerombolan pendekar Mbonga yang tubuh gelap dilabur cat putih dengan tombak di tangan. Mereka sudah bersiap menghujam siapapun pengganggu kawasan Kongo –yang saat itu merupakan jajahan Kerajaan Belgia yang dipimpin Raja Leopold II yang keji dan brutal. 

    “Kalau kau menginginkan ini,” kata Kepala Suku Mbonga (Djimon Hounsou) memperlihatkan segenggam berlian Opar yang belum terasah, “kirim Tarzan kepadaku.”

    Kapten Rom memang bernafsu menguasai seluruh tanah berlian ,selain untuk memperkaya diri, juga untuk menutupi hutang Raja Leopold II yang menggunung itu. Apa susahnya menangkap Tarzan, manusia putera gorilla Kala yang sudah hampir seperti mitos super-hero sejagat? Kapten Rom, dengan rosario yang selalu melingkar di antara jari-jarinya itu itu tahu betuk: dengan modal ratusan serdadu bersenjata dan perangkap tali yang kuat, dia akan bisa menjerat manusia gorila itu.

    Maka  Tarzan rasa milenial ini memiliki plot yang terdiri dari sekuel dari cerita original  Tarzan dengan semprotan kilas balik masa kecil Tarzan—yang merupakan cerita original karya Edgar Rice Burroughs—dengan  sikap dan pandangan abad 21 di mana kolonial dan rasisme adalah kejahatan kemanusiaan terburuk.

    Berbeda dengan novel dan film klasik Tarzan sebelumnya, dalam film ini kita berkenalan dengan wajah Alexander Skarsgård  lengkap dengan kostum bangsawan di London karena dia adalah John Clayton III, Lord Greystoke yang sudah menyelami kehidupan beradab dengan isteri cantik Jane Porter.  Adalah  George Washington Williams (Samuel L.Jackson) yang mengajak John Clayton untuk kembali ke Kongo, yang merupakan “tanah air pertama” Tarzan. Williams , dalam sejarah Amerika dikenal sebagai seorang tokoh nyata,  seorang serdadu pro-Union dalam Perang Saudara dan merupakan orang Afro Amerika pertama yang meraih gelar sarjana dari Newton Theological Institution yang kemudian menjadi seorang wartawan yang  melakukan perjalanan ke Kongo pada abad 19. Williams luar biasa terkejut menyaksikan rakyat lokal Kongo yang diperlakukan seperti binatang. Nama Williams segera melejit karena memberanikan diri menulis surat protes yang keras kepada Raja Leopold II yang menyampaikan bahwa sang raja bertanggung-jawab atas kebrutalan yang terjadi di Kongo.

    Tokoh Williams dalam film The Legend of Tarzan dimanfaatkan sutradara David Yates sebagai tokoh yang mendorong Tarzan untuk mencari bukti-bukti bahwa perbudakan dan kebrutalan masih saja terjadi di sana.

    Setelah diyakinkan Jane yang bersemangat untuk “kembali ke rumah”—karena Jane Porterpun tumbuh dan besar di Kongo dan bertemu dengan Tarzan di sana—dan juga karena keinginan John Clayton a.k.a Tarzan bertemu dengan sang ibu gorila yang membesarkannya, maka berbondong-bondonglah mereka ke Kongo.Mereka  reuni dengan kepala suku Kuba dan menjenguk rumah lama Jane, tempat ia dibesarkan. Tentu saja acara kumpul-kumpul, bernyanyi dan kangen-kangenan ini hanya bertahan beberapa menit karena Kapten Rom—entah bagaimana, padahal jaman itu belum ada internet dan sosial media—sudah mendengar kabar kedatangan Tarzan. Tarzan ditangkap tapi berhasil lepas. Yang gawat adalah Jane sandera bagi si jahat Rom yang kemudian mengikat perempuan itu di tepi tiang kapal.

    Untuk sebuah film kolosal yang sebagian besar menggunakan CGI (Computer Generated Imagery), film ini sebetulnya berhasil menampilkan sinematografi yang luar biasa.  Kecuali   untuk  adegan perkelahian dan kemesraan Tarzan dengan berbagai binatang  yang nampak betul sebagai bentukan CGI,  adegan-adegan lain nampak meyakinkan.  Adegan Tarzan melayang-layang dengan akar pohon; terjun dari ketinggian tebing atau segala hal yang terasa melalui batas kemampuan manusia biasa itu adalah adegan fantastis.

    Yang menarik, kita tak akan menyaksikan sosok klasik Tarzan yang mengenakan sepotong kain yang menutup kemaluannya dan melolong sembari bergelantungan pada akar pohon. Tarzan Milenial ini, karena dia berstatus seorang bangsawan yang kembali ke hutan, maka dia hanya bertelanjang dada dan mengenakan celana pantalon beige.  Yates seolah ingin meruntuhkan elemen dongeng masa lalu itu dengan realisme masa kini.

    Masa kecil Tarzan yang berambut gimbal dan berkelakuan seperti gorila karena memang dibesarkan oleh gerombolan binatang ini, menjadi sekumpulan kilas balik untuk menjelaskan pada mereka yang tak mengetahui sejarah Tarzan klasik. Selebihnya David Yates nampak ingin memberi pemikiran progresif masa kini: mengutuk kolonialisme dan rasisme.

    Perubahan pandangan politik ini tentu saja wajar. Yang menjadi problem adalah David Yates nampak tak cukup percaya diri membentuk sosok yang lebih orisinal sehingga dia seperti mencangkok tokoh Hans Landa (Film Inglorious Basterds, Quentin Tarantino) dalam bentuk Kapten Rom yang sama-sama diperankan Christoph Waltz dan juga tokoh Mayor Marquis Warren (The Hateful Eight, Quentin Tarantino) dalam bentuk George Washington Williams yang sama-sama diperankan Samuel L.Jackson.  Untuk tokoh sejarah seperti Williams, Yates memilih untuk memperlakukannya sebagai comedic relief, seorang tokoh yang menyegar-nyegarkan cerita karena Tarzan dalam film ini adalah tokoh introvert yang cenderung murung.

    Catatan lain adalah, Yates kurang menjelajahi hubungan emosional Tarzan dengan para binatang yang mesra untuk menunjukkan dia adalah bagian dari anggota warga hutan Kongo . Dalam serial Tarzan karya Edgar Rice Burroughs, yang dipengaruhi oleh cerita kisah Mowgli dalam The Jungle Book (Rudyard Kipling, 1894),  binatang dan alam adalah bagian terpenting yang membentuk kepribadian Tarzan. Tarzan bukan hanya menjadi semacam ‘superhero’ alam pembela yang lemah, tetapi juga karena pada saat kita belum mengenal “sadar lingkungan”, Tarzan adalah tokoh fiktif yang sejak dini sudah menyadari pentingnya keseimbangan alam (tak heran pada awal film ini, kedua pemain utama film ini menyampaikan iklan publik untuk melawan penjualan gading gajah).   Yang menarik  kisah Tarzan juga kemudian berpengaruh begitu kuat bagi banyak pencipta di dunia, termasuk duo  Kwik Ing Hoo dan Lie Djoenliem yang melahirkan komik legendaries Wiro, Anak Rimba.

    Terlepas beberapa catatan tadi, The Legend of Tarzan tetap sebuah interpretasi baru untuk sosok Tarzan yang asyik ditonton terutama karena Yates mencoba menampilkan kekinian nilai-nilai anti kolonialisme  yang terasa sepanjang film. Selain itu, di masa lalu, Tarzan hampir selalu diperankan fotomodel atau atlit yang tak mengenal seni peran karena saat itu sineas cenderung mementingkan bentuk tubuh belaka. Pemilihan pada aktor Alexander Skarsgård tentu saja bukan karena dia cakep dan bertubuh tinggi dan berotot, tapi karena dia memang seorang aktor yang bisa berperan dengan meyakinkan.

    Leila S.Chudori

    ***

    The Legend of Tarzan
    Sutradara        :
    David Yates
    Skenario`        : 
    Adam Cozad dan Craig Brewer
    Berdasarkan Tarzan, karya Edgar Rice Burroughs
    Pemain             : Alexander Skarsgård, Samuel L.Jackson, Margot Robbie, Christoph Waltz, Djimon Hounsou
    Produksi  :
    Warner Bros Pictures, Village Roadshow Pictures, RatPac-Dune Entertainment

               


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.