Seragam

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • KOLONEL putih yang tua itu akhirnya belum juga membunuh Mbok Berek. Ayam goreng Amerika yang menyebar itu, alhamdulillah, tak menjadi ayam goreng tunggal. Coca-Cola memang mendesak pelbagai pabrik minuman lokal yang kecil, ketika ia baru tiba di sini tapi kemudian muncul Teh Botol Sosro. Lalu, yang lain-lain. Cendol, wedang ronde, dan sekoteng bahkan tetap tak tergantikan - biarpun tak ada pidato khusus di RT-RT untuk membela mereka. Apa yang terjadi, tentu saja, bukanlah "lokal" versus "asing", atau "modern" lawan "tradisional". Dalam gejala di atas, yang terjadi hanyalah bukti bahwa kita - paling sedikit dalam urusan biologis kita, di perut -tampaknya selalu menampik untuk diseragamkan. Betapapun mulianya Sumpah Pemuda, kita sampai hari ini toh belum sampai berikrar agar soto Madura soto Kudus dan soto Bandung bersatu menjadi soto Indonesia. Karena itulah kita umumnya senang datang ke lantai di bawah gedung Sarinah Jaya, yang beberapa bulan yang lalu terbakar itu. Di sana kita bisa menyaksikan - atau mencicipi - sebuah taman mini gastronomi tersendiri. Medan: mi kopyok. Palembang: empek-empek. Jakarta: soto Maaruf. Manado: sejumlah makanan dari ikan berbumbu yang menakjubkan .... Dengan kata lain, dari sudut ke sudut, di lantai yang selalu penuh ini, di bawah tanah, kita menyaksikan suatu pertahanan diri terhadap proses produksi dan pemasaran masal. Demassification, kata seorang penulis - yang namanya tentu saja Alvin Toffler. Pernah ada waktunya, memang, ketika para ahli dan para cendekia cemas bahwa masyarakat masa depan mereka akan terdiri dari segala hal yang dibakukan. Industrialisasi berarti produksi dengan angka-angka membintang. Industrialisasi berarti organisasi dengan kapasitas yang merampatpapankan. Dari daya yang semacam itu akan lahirlah standardisasi dan sinkronisasi. Dan akhirnya: penyeragaman. Lihat saja kota-kota besar, kata para cendekia yang cemas itu: semuanya akan pencakar langit, gedung papak bertingkat yang mirip. Semuanya akan jadi sederet New York, dari benua ke benua .... Dalam novel 1984 George Orwell, masa depan ialah hidup di mana cinta ditertibkan dan benci dikoordinasikan. Hidup, dalam bayangan itu, ibarat proses dan prosedut sebuah pabrik onderdil. Tak heran bila ada sebuah cerita, konon dari Jepang, tentang seorang yang tiba-tiba merasa ngeri. Ia tinggal di sebuah flat. Seperti galibnya, bentuk kamar dan ruangan lain dalaml flat itu seragam. Tapi yang menyebabkan ia ngeri bukanlah cuma soal bentuk. Tiap pagi, pada pukul 6.30, ketika ia dibangunkan oleh dering jam di mejanya, ia juga mendengar semua penghuni flat dibangunkan oleh dering jam di meja mereka. Dan ketika ia menyentor air di kakusnya, pada detik yang sama juga ia mendengar semua orang menyentor air di kakus mereka. Hal yang serupa terjadi ketika ia menutup pintu, turun tangga, berangkat ke kantor. Tiba-tiba ia tak yakin lagi siapa sebenarnya dirinya: barangkali ia adalah orang lain, barangkali ia tetangganya. Untunglah, dalam kenyataan, di dunia yang kita saksikan kini, potret semacam itu batal terjadi. Ribuan rekaman telah dibikin dan disebarkan untuk nyanyian Madonna, tapi tak setiap orang - bahkan tak setiap remaja - menyukai Material Girl. Ratusan ribu celana denim Levi's diproduksi dan dipasarkan, tapi di jalan-jalan tetap kita saksikan ekspresi dan selera bhineka dalam berdandan. Di bidang lain, dengan skala lain, "partikularisme" seperti itu juga hadir. Misalnya dalam kekuasaan politik, ketika negeri demi negeri, bahkan wilayah demi wilayah, ternyata tak sepenuhnya dapat diatur meskipun oleh kekuatan besar. Amerika Serikat gagal mengharuskan sekutu-sekutunya 100% mengikuti politik pertahanan nuklirnya. Uni Soviet tak berhasil menertibkan politik ekonomi "anak buah"-nya. Karena itulah penamaan "adikuasa" bagi kedua negara itu tidak tepat. Mereka memang superpower, mereka memang kuat tapi kuasa? Tapi tentu ada dalam dinamika kekuatan itu yang dengan sendirinya mendorong untuk membuat dirinya jadi model. Yang kuat, bagaimanapun juga, tentu punya kelebihan dan hal baik untuk dicontoh. Dan agaknya memang ada kebutuhan sebuah masyarakat - terutama dalam proses industrialisasi dirinya - untuk menciptakan pembakuan dan penyeragaman optimal. Efisiensi dan efektivitas menghendaki itu. Soalnya kemudian tinggal sejauh mana kita bisa memilih, seraya menyadari "lain ladang lain belalang". Sebuah cara penanaman padi yang tepat untukJawa Tengah belum tentu cocok untuk Sumatera Utara. Penataran P-4, yang berhasil di banyak kalangan belum tentu baik untuk siswa sekolah menengah. Sebuah sistem hirarki, yang patut untuk kepengurusan Dharma Wanita, belum tentu tepat untuk organisasi istri para wartawan. Seorang perwira tinggi Hankam bahkan pernah saya dengar mempertanyakan: Tepatkah sebenarnya aturan upacara ABRI untuk kalangan sipil - yang tak biasa dengan sosok "sikap sempurna" itu? Saya sungguh bersimpati dengan pertanyaan seperti Itu. Ia menyebabkan kita berpikir lagi. Ia tanda kita belum beku. Goenawan Mohamad

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.