Los

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • PASAR bukanlah sesuatu yang indah apa pun yang dikatakan para turis. Memang, ada rasa advontur kecil-kecilan, ada rasa bersemangat yang seperti mengembalikan Anda kepada masa kanak, bila Anda sekali-sekali (misalnya sambil mengantar istri) memasuki los-los yang sibuk itu. Tak heran bila beberapa tahun lalu di Jakarta sejumlah bapak dan ibu gedongan punya ide unik mengadakan "Pameran Kaki Lima" di Taman Ismail Maruki. Abang penjual cendol, bapak penjuai buku loak, tukang tambal ban, dan sejenisnya itu seakan-akan bagaikan Suku Asmat dari nun jauh di pedalaman Irian Jaya. Semuanya eksotis, terutama bagi mereka yang tak pernah hidup di sana. Tapi kita toh tak pernah ingin hidup di kaki lima. Pasar bukanlah sesuatu yang indah - apa pun yang dikatakan para turis. Setidaknya, di permukaan, ia adalah sebuah centang perenang. Di sebelah sini, dilos tukang daging, berhimpun serpihan usus, keratan tulang, becak-becak darah hewan yang anyir. Di pojok di dekatnya, penjual kue basah. Lalat-lalat hijau hinggap bolak-balik. Aroma yang tajam berbaur. Ruang lembap, permukaan becek. Dan bau itu, kesumpekan itu, dari los ikan kering, dari wadah-wadah jengkol, dari bawang dan daun kol yang sebagian membusuk, seakan-akan bersekutu: menaklukkan pancaindria. Tentu saja, tak ada rak-rak rapi dengan kemasan barang warna-warni. Ini bukan supermarket. Tak ada lemari-lemari pendingin. Tak ada AC. Tak ada ketenangan yang menyebabkan suara sepatu terdengar enak menginjak lantai, dan gadis-gadis penunggu berbicara sedap.... Pasar memang bukan sebuah selingan estetis. Tapi tidak berarti ini bukan tempat terhormat. Justru ia suatu dunia, juga suatu fungsi, yang sudah sejak dulu seharusnya lebih dihormati - dengan segala kekumuhannya. Sebab, di sinilah bertemu, dan sekaligus bergulat, apa yang oleh para ahli disebut "sektor informal". Di sinilah tempat para pengecer, pedagang kecil, penghuni warung kecil, penyewa los yang kecil berkeringat dan meraih nafkah. Mereka menyusun suatu proses, yang tiba-tiba saja disadari pcntingnya, di suatu masa ketika penduduk begitu banyak dan kantor jawatan begitu terbatas. Seperti dikemukakan Sri Manoso dari LMFE UI dalam sebuah seminar pekan lalu, hanya oleh sektor ini, pada tahun 1980, misalnya, telah terserap hampir 70O dari angkatan kerja yang telah bekerja. Atau, sebanyak 24% dari penduduk. Suatu jumlah yang fantastis. Mereka tumbuh praktis tak terlihat. Mereka berkembang tanpa diatur-atur. M. Dawam Rahardjo, dari LP3ES, dalam seminar yang sama, mengutip data dari sensus BPS: di sektor perdagangan, yang menampung 24% tenaga kerja pada 1971-1980, ada separuhnya orang yang "berusaha sendiri tanpa bantuan orang lain". Tidak bcrarti mereka terisolasi dari kehidupan ekonomi yang terjadi di luar mereka. Mereka akhirnya juga harus berhubungan dengan para grosir, pedagang yang lebih besar modalnya, bahkan juga industri multinasional, baik langsung maupun tidak. Sebaliknya, yang besar-besar itu juga akan banyak kehilangan urat pemasaran, seandainya harus hidup tanpa mereka. Pemerataan? Mereka menghendaki hidup yang lebih baik, dan itu jelas. Tapi mereka sebenarnya tak begitu peduli apakah yang besar berbahaya bagi yang kecil. Mereka telah terbiasa menyelesaikan soal pemerataan itu dengan cara mereka sendiri. Sebab, pasar juga bisa dilihat sebagai tempat berbagi, bukan cuma tempat bersaing. Clifford Geertz 20 tahun lalu pernah mencatat proses itu dalam rekamannya tentang proses perdagangan diJawa. "Seperti halnya pertaman dl Jawa, perdagangan di Jawa juga sangat padat karya," tulisnya dalam bukunya yang terkenal itu, Penjaja dan Raja. Seluruhnya, kata Geertz, ibarat sederet panjang manusia yang mengangkat batu bata secara berantal, dan tangan ke tangan, untuk akhirnya mendirikan scbuah tembok, yang letaknya jauh di ujung sana. Dalam bahasa Geertz yang khas, apa yang terjadi di dalam pasar itu adalah sebuah "involusi". Kita tak tahu bagaimana pengambilan laba terjadi di situ, dalam jaring-jaring yang tampaknya tak efisien itu. Pengetahuan kita sangat terbatas, penelitian agaknya hampir tak ada. Kita tak tahu bagaimana pemilik warung singkong goreng itu bisa meneruskan usahanya bila para kuli jalanan, yang tiap kali berutang, datang sebagai pelanggan. Yang jelas, di warung itu, di los-los itu, dalam ketidakindahan itu, pemerintah boleh beristirahat - mungkin berhenti. Sebab, di sana ternyata telah hidup suatu perekonomian, juga suatu proses pembagian, yang bisa berlanjut tanpa intervensi - apalagi jika bentuk "intervensi" itu adalah tetek bengek titah dan puluhan peraturan, yang datang dari dunia para priayi. Saya tidak tahu adakah dengan demikian di sana berkecamuk kapitalisme, yang percaya akan tuahnya "tangan yang tak terlihat". Yang pasti, yang bergerak itu adalah sebuah kenyataan bahwa ada sejumlah besar manusia Indonesia - sebuah armada tenaga kerja - yang mengurus diri mereka sendiri. Goenawan Mohamad

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.