11 maret

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • SAYA tak bisa bercerita tentang hari penting itu, 11 Maret 1966. Saya juga tak bisa bercerita tentang kegemuruhan Jakarta, dalam sambutan sebuah kemenangan. Pada hari-hari itu, ketika ratusan ribu orang - di antaranya teman dan sahabat saya - diayun oleh perasaan cemas dan gembira, saya tak berada bersama mereka. Saya jauh, di sebuah kota kecil di Eropa. Di kota itu orang amat tenang. Tak ada ketidakpastian nasib sebuah bangsa seperti yang tengah merusuhkan Indonesia. Pada pagi hari jam kota berkeloneng bening, dan orang sarapan roti yang hangat. Hanya surat, dari keluarga dan teman-teman, hanya beberapa potong berita yang menghampirkan keresahan yang jauh itu, dari Jakarta, ke kota itu. Satu atau dua hari setelah 11 Maret 1966, misalnya, The Times (London) memuat reportase wartawannya, entah siapa, tentang kegembiraan yang meluap di jalan-jalan Jakarta ketika berita besar itu terdengar: Presiden Soekarno akhirnya mempercayakan kepada Mayjen Soeharto untuk memulihkan ketertiban - dan PKI akhirnya dibubarkan. Ratusan khalayak menghambur ke luar rumah. Pasukan tentara dan mahasiswa pada berpelukan, rasa syukur dikibarkan di tiap pojok. Sebuah persengketaan yang menegangkan berakhir. Sebuah kemenangan dirayakan. Wartawan The Times itu tak menyembunyikan keterlibatan emoslnya. Suasana begitu menggetarkan, demikian ia menulis (dan saya kutip dari ingatan), "bahkan buat seorang pengamat yang hatinya sudah keras juga sukar untuk tak ikut terharu" . Harus saya akui, pagi itu, di depan koran itu, di ruang sarapan dengan kopi dan roti hangat itu, mata saya jadi basah. "Suatu penyelesaian agaknya terjadi di Jakarta," sapa teman yang duduk di seberang saya. "Kenapa kalian menentang Partai Komunis?" Saya cuma ketawa. Sebab, bisakah saya menerangkan sepenuhnya? Apalagi kepada seseorang yang mengetahui hidup kita hanya dari seberang meja makan? Dapatkah saya terangkan kepadanya, dengan baik, kenapa saya menentang Partai Komunis? Di Jakarta pun, dulu, kecuali kepada teman-teman dekat, saya tak dapat menjelaskannya. PKI waktu itu begitu dominan: ide, slogan, dan kekuatan partai itu seperti melumpuhkan tiap pikiran alternatif - dan banyak orang, apalagi pejabat sipil serta tentara, yang memilih diam. Kenapa menentang Partai Komunis? Pada hari-hari tahun 1960-an, ketika rasa menyerah mulai menjalar, ketika hampir semua kita otomatis tergctar nanar di hadapan kata "Revolusi", jawaban makin sulit diberikan. Kata "Revolusi" hanya salah satu. Sederet panjang yang lain berbaris, desak-mendesak: "Manipol-USDEK", "kontrarevolusi", "progresif-revolusioner", "nekolim", dan seterusnya. Seutas sabda pun disembah, ditakuti, karena ditodongkan oleh kekuatan organisasi, politik, dan media. Ia bisa menjadikan sejumlah orang terkutuk atau, sebaliknya, terbujuk. Ia telah jadi semacam sihir, sesuatu yang merogoh dan mencengkeram jiwa kita - dan menjadikannya tawanan. Tapi pada suatu siang, duduk di ruang kiri Balai Budaya di Jakarta, tiba-tiba saya melihat burung-burung gereja hinggap ke tanah. Sinar matahari menyiram mereka, dan mereka sibuk dengan gesitnya, seperti yang sering dilagukan oleh nyanyian kanak-kanak. Tiba-tiba 1.000 slogan seakan-akan berhenti di kepala saya. Kenapa selama ini orang praktis terlupa akan burung gereja, daun asam, harum tanah: benda-benda nyata yang, meskipun sepele, memberi getar pada hidup dengan tanpa cingcong? Tidakkah itu juga sederet rahmat, sebuah bahan yang sah untuk percakapan, untuk pemikiran, untuk pulsi -- seperti kenyataan tentang cinta dan mati? Kenapa segala hal harus diliput oleh "kerangka Revolusi"? Benar berdosakah kita, ataukah itu hanya suatu dosa imajiner jika kita menulis sajak tentang burung,dan tak menyangkutpautkannya dengan "Rakyat", "perjuangan", "Manipol " ? Pertanyaan seperti itu memang semacam pendurhakaan. Siapa yang belum pernah hidup dalam udara totaliter tak akan mengerti hal itu. Sebab, totalitarisme itulah yang berhasil menciptakan sihir yang saya sebut di atas: ia menghendaki badan dan batin kita secara lengkap, di bawah komandonya. Ia menghendaki kita berubah sesuai dengan kehendaknya. Untuk itu, ia siap buat mengkhotbahi terus-menerus, mengejar-ngejar dan mengusut isi hati - dan bila kita dianggapnya tak bisa ia bentuk, kita akan disingkirkannya. Kurang-lebih, itulah agaknya alasan saya menentang Partai Komunis: Saya ingin menulis tentang burung dan angin, saya ingin menerima apa saja yang wajar di dekat ambang saya, saya ingin hati dan pikiran yang merdeka, agar bisa tulus. Tapi, tentu saja, alasan semacam ini - di Barat sudah jadi klise, di Indonesia kedengaran seperti manja - tak bisa diterangkan kepada setiap orang. Bahkan mungkin hal itu juga tidak akan bisa diterangkan kepada yang lain: para kenalan, yang menentang komunisme kemarin dan hari ini, tapi tak menghargai apa artinya pikiran yang merdeka - yang tak dikejarkejar, yang tak diusut dan diancam, sebuah pikiran yang tak ditakut-takuti oleh cap "berdosa" atas nama Tuhan ataupun kewaspadaan. Goenaan Mohamad

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.