Senin, 15 Oktober 2018

Broer

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • MEREKA memanggilnya "Broer". Nama lengkapnya: F.J. Tumbelaka Ia orang Minahasa, tentu. Tapi Ia dlbesarkan di Jawa Timur. Ia ikut bertempur dalam revolusi kemerdekaan di Jawa Timur, dan kemudian bekerja sebagai orang sipil di Jawa Timur. Latar belakang ini mungkin tak istimewa. Tapi pada Tumbelaka, hal itu menyebabkan ia jadi si "Broer" pada saat yang dibutuhkan. Ia berhasil diterima oleh dua kalangan yang tengah memusuhi. Dialah, setidaknya menurut Barbara Sillars Harvey dalam bukunya Permesta, Pemberontakan Setengah Hati, yang ikut jadi pereda dua pasukan yang baku bunuh, ketika sejarah Indonesia memasuki salah satu babaknya yang sedih. Sejak akhir 1956 sampai dengan 1961, Indonesia mengalami peristiwa yang kemudian ternyata memang umum terjadi di pelbagai negeri yang baru berdiri: letusan ketidakpuasan yang nyaris meretakkan. Daerah-daerah mengaum dan menembakkan marahnya kepada pemerintah pusat. Para pemimpin politik, militer, para pembentuk opini umum, bahkan rakyat biasa menggerundel tak putus-putus. "Harapan dan semangat yang dibangkitkan dalam revolusi 1945--1949 ternyata sukar dipertahankan begitu kemerdekaan diperoleh," tulis Harvey. Bukan sesuatu yang aneh. Bung Karno pernah bilang, dengan kiasannya yang khas, bahwa kemerdekaan adalah "jembatan emas" ke arah masyarakat sempurna, yang adil yang makmur, yang tenteram, dan seterusnya. Tapi kenyataannya tak akan pernah demikian. Kemerdekaan adalah jalan licin yang panjang dan sepi, yang hanya lebih baik ketimbang rawa-rawa penjajahan. Di jalan licin dan sepi itu kita harus menentukan arah sendiri, menabrak-nabrak sendiri, dan membikin kesalahan-kesalahan kita sendiri. Kita tak bisa lagi bilang, sepenuhnya, bahwa kita korban orang lain. Mungkin karena itulah rasa kecewa timbul. Kekacauan pun terjadi. Kemudian: ket kerasan. Salah satu bentuknya ialah apa yang kemudian disebut sebagai "Pemberontakan Permesta". Pada tengah malam I Maret 1957, orangorang sipil terkemuka di Ujungpandang (waktu itu Makassar) dibangunkan dari tidur mereka oleh pasukan berseragam. Mereka diundang untuk suatu pertemuan di Gubernuran. Banyak yang dibangunkan secara agak kasar, dan tak sedikit yang ketakutan. Tapi pada pukul 3 diniharinya, barulah perkaranya jelas. Dengan cara dramatis, komandan militer tertinggi di wilayah itu Letnan Kolonel Ventje Sumual, membacakan proklamasi keadaan darurat perang di Indonesia Timur. Di dinihari itu juga dibacakan "Piagam Perjuangan Semesta Alam" yang kemudian disingkat jadi Permesta. Ada bombasmc dalam kata-kata "semesta alam" itu, ada yang teatral dalam cara memaklumkannya. Tapi mungkin semuanya mencerminkan sifat dasar penstiwa politik han ItU: suatu gertakan ke arah pemerintah di Jakarta. Sumual dan kawan-kawan menggertak agar keluhan mereka di daerah didengar. Gertakan itu pada mulanya bukan pemberontakan. Mereka hanya minta hak-hak daerah yang lebih besar untuk mengatur diri sendiri. Mereka menandaskan berkali-kali, mereka tak hendak melepaskan diri dari Republik Indonesia. Mereka bukan separatis. Mereka bahkan masih ingin meneguhkan simbol-simbol persatuan, seperti kepemimpinan "dwitunggal" Sukarno-Hatta. Mereka juga tak banyak berbeda dengan para perwira ABRI lain di kubu "sana": sama-sama antikomunis, dan sama-sama meyakini adanya tali bertaut yang satu - Pancasila. Mereka, dengan kata lain, sama-sama, berbagi mitos dengan orang-orang yang kemudian beradu senjata dengan mereka. Mungkin karena itulah - walaupun sejumlah besar korban berjatuhan kekerasan yang terbit karena Permesta relatif cukup cepat bisa berakhir. Mungkin karena itulah "Broer" Tumbelaka bisa berperan dengan mudah. Oktober 1959, si "Broer". bekas tentara senior itu, menghubungi Kolonel Surachman, panglima Divisi Brawijaya. Ia menawarkan diri untuk mencoba mencapai suatu penyelesaian dengan para pemberontak Permesta. Akhirnya idenya disetujui. Awal 1960, Tumbelaka berangkat ke Manado. Ia mengontak Mayor Somba, orang Tomohon kelahiran Jawa Tengah yang merupakan tokoh pemberontak dengan pasukan terkuat dan juga teman lama si "Broer". Sepucuk suratnya yang ia sampaikan lewat kurir bermula dengan kalimat: "Saya datang kemari bukan karena paksaan orang . . . " Demikianlah kontak demi kontak berlangsung, dan Tumbelaka kaget sendiri menyaksikan betapa mgmnya orang seperti Somba menyelesaikan persengketaan. Orang bisa bilang, semua ini karena Permesta sudah terpojok - dan itu benar. Tapi orang juga bisa mencatat, bahwa di sini sebuah bangsa bisa menyelamatkan badan dan jiwanya dengan ikatan-ikatan persatuan, biarpun hanya mitos. Dan ia pun bisa terus hidup bila ia tahu kapan harus menguburkan dendam. Goenawan Mohamad

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Citra serta Jurus Kampanye Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno

    Berlaga sebagai orang kedua, Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno melancarkan berbagai jurus kampanye, memerak citra mereka, dan menyambangi banyak kalangan.