Khilafah

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • INI adalah kisah Abu Bakar, sahabat Nabi. Ia baru kemarin dulu diangkat sebagai khalifah, tapi di hari itu ia berangkat ke pasar. Di pundaknya ia bawa bahan-bahan pakaian dagangan, untuk dijual. Dengan kata lain, ia kembali akan hidup sebagaimana biasa. Tapi di tengah jalan ia eerlihat oleh Umar bin Khattab, sahabat Nabi yang lain. "Hesndak ke mana?" tana Umar. "Ke pasar," jawab sang khalifah. Umar bertanya lagi, "Apa yang hendak Anda lakukan, sedangkan Anda telah menduduki jabatan sebagai pemimpin kaum Muslimin?" jawab Abu Bakar, "Lalu dari mana aku akan memberi makan keluargaku?" Agaknya, sadar bahwa bagaimanapun juga seorang khalifah harus bebas dari urusan mencari nafkah - agar tugas utamanya tak telantar - Umar pun mengusulkan: sang pemimpin harus mendapatkan uang dan baittul maal, tempat menyimpan milik kolektif. Ditentukan kemudian bahwa jumlah uang itu tak berlebihan: cukup sebagaimana yang dibutuhkan untuk makanan kebanakan pengikut Nabi. Meskipun demikian, ada sebuah pesan Abu Bakar menjelang wafat. Ia menyuruh orang mengambil bagian hartanya scbanyak 8.000 dirham untuk dikembalikan ke baitul maal. Pemimpin itu selalu merasa khawatir, adakah ia berhak memperoleh makan dari harta bersama itu. Kisah-kisah semacam itu selalu memesonakan kita. Sebagaimana dicoba tunjukkan oleh Abul A'la al-Maududi dalam bukunya yang baru-baru ini diterjemahkan, Khilafah dan Kerajaan, semuanya adalah contoh bagaimana seorang pemimpin harus bersikap: Ia harus tahan terhadap godaan previlese. Ia harus keras kepada dirinya sendiri. Ia harus orang pertama yang mengalah. Orang Jawa punya kata untuk ini, aja dumeh. Orang Prancis juga punya kata untuk ini, noblesse obllge. Seorang yan punya posisi lebih tinggi harus mengabdi lebih banyak. Yang malang dalam sejarah manusia ialah bahwa ternyata tak setiap pemimpin bisa demikian. Buku al-Maududi sendiri menyebut pelbagai keburukan yang terjadi dalam riwayat para pemimpin Islam. Bahkan kesalahan telah dilakukan oleh sebagian sahabat Nabi: orang-orang yang pernah menyaksikan bagaimana kepemimpinan yang sepatutnya dijalankan. Para sahabat itu, kata alMaududi, toh bukan manusia yang ma'sum terlindung dari berbuat dosa. Dan penulis itu tak ingin menutup-nutupinya. Buku Khilafah dan Kerajaan karenanya sangat menggugah, tapi, tentu saja, ia terutama hanya menyoroti etika kepemimpinan. Ia kurang menganalisa latar betakang sosial ekonomi sejarah yang "merosot" itu. Ia juga tak menelaah dinamika kekuasaan, ketika keperluan-keperluan sosial berubah dan konflik baru timbul. Al-Maududi memang berbicara tentang kekuasaan sebelum mendapatkan kekuatannya dalam organisasi birokrasi. Zaman khilafah rasyidah tentu saja aman ketika kekuasaan bersumber pada kewibawaan seorang tokoh atau lebih. Dalam keadaan seperti itu, dikatakanlah bahwa sebuah masyarakat menjadi baik karena pemimpinnya baik. Tapi bisakah kita bicara hal yang sama kini? Orang masih omong soal perlunya pantan, tingkah laku pemimpin yang diteladani. Tapi, dalam kenyataan, banyak hal yang sebenarnya tak tergantung hanya dari niat baik seseorang, betapapun berkuasanya dia. Sebab, pada gilirannya, seorang pemimpin memerlukan sebuah mesin. Makin majemuk sebuah masyarakat, makin sukar masyarakat itu bergerak hanya oleh teladan tingkah laku. Diperlukan kampanye, kornunikasi, penataran, dan diperlukan pula tangan dan kaki yang efektif. Dalam perkembangannya kemudian, sang pemimpin ikut tergantung pada tangan dan kaki itu. Birokrasi juga punya kebutuhan-kebutuhannya. Bahkan, kadang ada konflik antara kepemimpinan dan mesinnya sendiri. Pengalaman sejarah itu akhirnya mengisyaratkan satu hal: cita-cita kenegaraan dalam abad ini, apa pun benderanya, tak cukup hanya mengimbau budi pekerti. Ajaran dan pedoman tentang itu penting, tapi bukan lagi yang terpenting. Buku Khilafah dan Kerajaan sendiri justru membuktikan, ada batas kekuatan ajaran itu. Bila para sahabat Nabi sendiri bisa menyimpang dari semangat Islam, tentu ada faktor-faktor dalam kehidupan manusia ang ternyata tetap tak dapat sepenuhnya diubah dan disucikan. Apalagi, menurut al-Maududi, syariat sendiri tak selamanya memberi petunjuk yang pasti. Itu tak berarti bahwa inspirasi kemuliaan akan jadi hal yang sangat sepele. Kisah Abu Bakar dan Umar di atas tetap menunjukkan kapasitas manusia untuk berbuat baik, tanpa memerlukan batin yang super. Namun zaman tak berhenti di sana, kesalahan dan kelaliman kemudian terjadi, dan hari sudah terang siang untuk kita bisa bertanya siapakah yang bisa terus-menerus sempurna. Jawabnya: tak seorang pun, tak satu pihak pun. Maka, harapan-harapan harus punya cadangan. Kita perlu siap dengan piihan yang tak amat bagus dan sementara itu tetap tak dirundung kecewa. Dalam dunia seperti ini barangkali, kompromi punya kandungan kebajikan: suatu pengakuan kedaifan yang hati-hati. Goenawan Mohamad

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.