Tanaman dan tembok tiongkok

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • BANTEN, akhir abad ke-16. Kota di ujung barat laut Jawa itu terletak rendah, seluas dan sedatar Amsterdam. Di balik dindingnya yang terbuat dari bata merah, dengan benteng yang berkanon, tiga jalan terbentang dari istana. Semuanya menuju ke deretan pasar, yang umumnya penuh sesak dengan orang. Kota ini tidak indah. Bila seorang sejarawan kemudian menyebutnya sebagai "Venesia di katulistiwa", itu agaknya karena ada sebuah alun-alun. Di lapangan itulah suatu proses yang mirip bursa internasional berlangsung Para pedagang asing tiap tahun bersua di sini. Mereka umumnya tinggal di Banten sambil menunggu musim hujan. Selama beberapa bulan itu, mereka sibuk berniaga. Namun, pemegang peranutama dalam pekan yang pan)ang dan lambat itu hanya satu: para saudagar Cina. Mereka sudah sejak lama, rupanya, berada di Nusantara. Dalam sebuah lukisan seorang Belanda dari tahun 1598, tampak seorang pedagang Cina didampingi istrinya, seorang wanita Jawa. Dalam gambar itu, kelihatanlah seorang laki-laki, dengan gerak sibuk, yang membawa dacin dan kantung. Sebuah catatan pengunjung Barat di sekitar tahun itu agaknya menjelaskan arti dacin dan kantung itu. Para pedagang Cina, demikian catatan dari tahun 1595 itu, "pergi berkeliling, dengan timbangan di tangan, membeli semua lada yang mereka temukan. . ." Dalam suatu transaksi yang teratur, lada itu kemudian dioper ke kapal-kapal dari Cina yang tiba tiap Januari. Jika catatan itu cukup akurat, suatu akumulasi modal dengan cepat agaknya terjadi. Sebab, laba yang diperoleh cukup besar rupanya: apa yang dibeli dengan harga 12.000 sapeke dapat dijual sampai 50.000 sapeke. Dengan itu, para saudagar Cina kemudian bisa memutar uangnya, misalnya untuk dipinjamkan, dengan bunga. Gambaran Banten pada akhir abad ke-16 itu tak cuma sesuatu yang tersendiri. Seratus tahun kemudian, seorang kelana bernama Guillaume Dampier mengunjungi Aceh. Di sana, dalam sebuah catatan bertahun 1688, Dampier juga mengambil kesimpulan yang serupa: "Orang Cina merupakan yang paling penting di antara semua saudagar yang berniaga di sini." Di samping yang menetap, ada sebagian yang datang tiap bulan Juni dengan sekitar 10 kapal. Mereka membawa beras dan barang lain. Juga: sejumlah tukang kayu dan ahli kerajinan. Maka, selama dua bulan, di kota Aceh itu pun berlangsung semacam "pekan raya Cina".... Pekan raya seperti itu, 300 tahun kemudian, tidak ada lagi. Tapi sampai sekarang sejarah ekonomi Indonesia tampaknya memang harus ditulis dengan kenyataan yang seperti itu: kehadiran penting saudagar "nonpri" di antara "pri". Dengan atau tanpa ketegangan. Kenapa? Tak seorang pun bisa menjawabnya dengan sederet kalimat. Seorang penulis sejarah Barat pernah menyebut - selintas bahwa "orang Cina adalah saudagar secara alamiah". Tapi kenyataan ternyata lebih rumit dari itu. Ras tak pernah bisa menjelaskan dengan tuntas suatu tingkah laku. Apa yang disebut "nilai-nilai" lebih mudah dikatakan daripada dipahami sendiri. Sebab, sejarah sosial politik Cina sendiri bukanlah sejarah kemenangan kaum bermodal. Pada tahun 180 Sebelum Masehi, Kaisar Wu Ti melakukan apa yang di abad ini praktis dilakukan Ketua Mao. "Pedagang kaya dan pemilik toko besar dicegah membuat untung yang melimpah," tulis Sejarawan Szuma Ch'ien tentang masa itu. Sang Kaisar memang lebih dicatat sebagai pembangun perpustakaan dengan 1318 jilid buku puisi ketimbang sebagai pembangun kelas menengah. Dan agaknya hampir tiap penulis menyebut bagaimana di Cina sang mandarin selalu Iebih mengutamakan seni dan sastra daripada hitung dagang. Kelas atas Cina itu memang tak punya cukup insentif untuk menjadi lain, khususnya untuk jadi komersial. Memandang rendah para saudagar, aristokrasi di sekitar "Putra Langit" itu sudah bisa makmur hanya dari tanah yang mereka sewakan. Penduduk toh berjubel: di pertengahan abad ke-18, rakyat Cina sudah sebanyak 200 juta. Pada saat tanah dengan sengit diperebutkan, si pemilik tanah pun tinggal menunggu datangnya penawar yang paling enak. Dari sanalah mereka hidup. Dari sana pula mereka bisa menciptakan hal-hal yang nikmat, yang jauh dari lumpur, keringat, dan kelaparan. Dengan segera, gaya itu pun jadi suatu standar impian sosial. Maka, para saudagar pun meninggalkan kesaudagarannya. Para petani menyusun dongeng-dongengnya, sementara kaum mandarin itu terus: membaca karya klasik, seraya memanjangkan kuku yang dirawat halus. Tapi, dalam pada itu, jelas pula betapa mereka membutuhkan proteksi yang berkuasa dan berpasukan. Siapa yang akan melindungi milik mereka dari perampasan para petani yang menyewa itu, kalau bukan aparat Maharaja? Posisi mereka sebagai kelas pun semakin jauh tergantung karena aparat Maharaja itu memang mencengkam. Dalam kisah klasik Hung Lou Meng (Impian Kamar Merah) di akhir abad ke-l8, tokoh Ko Ching meninggal. Ia berpesan agar keluarganya, para aristokrat yang scdang bernasib baik, segera membeli rumah dan tanah. Dengan itu, mereka akan bisa membiayai "tujuan-tujuan kultural". Dan dengan itu mereka bisa menghindar dari suatu ancaman yang memang kemudian terjadi: dekrit Baginda untuk menyita. Hubungan kaum bermodal dengan kelas yang berkuasa, dalam kata-kata Sejarawan Fernand Braudel, adalah "ibarat tanaman yang bersua tembok". Jika rintangan itu tak merunduk, sang tanaman akan bisa menempel terus dan akar pun akan tumbuh di tembok itu. Tapi di Cina tampaknya tembok itu lebih sulit dijalari dari Tembok Besar. Dan mungkin karena itulah di luar negeri, di Banten, di Aceh, sebagai perantauan, para saudagar Cina justru lebih bisa berkembang. Terutama ketika di abad ke-17 dan 18, dinasti-dinasti Cina menghasilkan cukup pertumbuhan ekonomi, dengan memberi kaum swasta itu sesuatu yang mereka harapkan: keleluasaan.

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.