Fisika

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • KITA semua pernah dengar cerita Thomas Edison kecil yang mengerami telur ayam. Ibunya kaget, tapi itulah yang terjadi: anak itu menduga bahwa telur menetas karena suhu yang hangat. Ia ingin tahu benarkah dugaannya itu. Ia mencoba. Nyonya Edison yang miskin itu ternyata tidak menghalanginya. Suaminya galak dan tak acuh. Edison kecil cuma bersekolah tiga bulan lalu pada umur 12 harus sudah cari makan. Tapi sang ibu telah menanamkan rasa ingin tahu, dan semangat yang tak kunjung habis buat eksperimen, dalam diri Thomas. Itu saja sudah cukup rupanya. Thomas ternyata kemudian berhasil melahirkan 1.093 barang baru buat orang sezamannya, dan tersohor sebelum usianya sampai 3 5 tahun. Lalu kita pun bertanya: apa jadinya seandainya Edison jadi murid sebuah sekolah -- institusi yang bisa cuma sibuk dengan tata tertib, lembaga yang bisa hanya sekadar mengurus disiplin dan mendaftar prestasi? Jawabnya, barangkali: si anak akan menghargai kekuasaan lebih dari menghargai semangat ilmu. Memang, dalam hidupnya, Edison bukanlah seorang ilmuwan. Dia teknikus. Dia bukan seorang jenius yang menemukan teori, yang menyelidik ke alam kenyataan dengan sikap seperti seorang Einstein. Tapi ada persamaan antara seorang penemu alat-alat dan seorang penyusun konsep-konsep fisika: mereka bermula dari kebebasan jiwa, dan berlanjut dalam kreasi. Kedua-duanya menolak pengekangan. Keduanya melintasi tabu. "Konsep-konsep fisika adalah kreasi bebas pikiran manusia, dan bukannya . . . ditentukan secara unik oleh dunia kenyataan di luar," tulis Einstein di tahun 1938. Seorang ilmuwan, begitulah perumpamaan yang dinyatakan Einstein, mencoba memahami realitas bagaikan seorang yang mencoba memahami mekanisme sebuah arloji yang tertutup. Ia mungkin sanggup membentuk gambar kira-kira bagaimana mekimisme itu berjalan. Tapi ia tak akan pernah yakin adakah gambarannya merupakan satu satunya yang bisa menjelaskan apa yang ia saksikan. Karena itulah ilmu-ilmu, termasuk fisika, sebenarnya bukanlah menjelaskan kenyauan di dunia. Dalam kata-kata Gary Zukav, penulis buku tentang fisika post-Newton yang ia beri judul The Dancing Wu Li Masters, para ahli fisika itu "cuma menari bersamanya". Kata kiasan "menari" yang dipakai Zukav memang padat dengan makna yang memperjelas. Di dalamnya tersirat pengetahuan bukan sebagai jalan ke arah menguasai alam, melainkan "membebaskan" alam. Di dalamnya tersirat suatu hubungan yang tidak mekanistis, melainkan sesuatu yang bisa tak terduga. Itulah sebabnya bila fisika Newton meramal kejadian-kejadian, fisika baru meramal kemungkinan kejadian. Arloji yang tertutup itu memang tak kunjung terbuka. Itulah sebabnya sudah tak ada orang yang menganggap, tak akan ada lagi hal baru yang akan dipecahkan ilmu fisika. Setelah abad ke-19, setelah zaman Newton lewat -- tanpa sepenuhnya ditinggalkan -- rahasia alam semesta tetap menunggu rasa ingin tahu yang baru. Masalahnya manakah kemudian yang akan tumbuh, jika kita berbicara tentang semangat keilmuan dan pendidikan formal: semangat keilmuan itukah, ataukah semangat yang lain? Di depan kelas, guru berdiri. Dia bisa menyatakan diri tak bisa digugat, tapi juga bisa mengajak si anak mencari jawab yang tak diketahuinya. Dia bisa berlindung pada disiplin, tapi dia juga bisa mengimbau keleluasaan berpikir. Yang menyedihkan ialah, dalam banyak hal, nampaknya di sekolah kita, sejak dari dasar sampai dengan yang paling tinggi, satu generasi tidak disiapkan untuk "menari". Dalam bahasa Cina, ilmu fisika konon disebut wu li. Tapi kata wu li bisa juga berarti nonsens. Seorang anak agaknya tak perlu ditakut-takuti dengan nonsens untuk bisa menemukan sendiri sebuah gambaran tentang realitas. Kecuali kalau kita memang setuju bahwa sekolah sama dengan rumah sakit dan penjara.

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selamat Jalan KPK

    Berbagai upaya melemahkan posisi KPK dinilai tengah dilakukan. Salah satunya, kepemimpinan Firli Bahuri yang dinilai membuat kinerja KPK jadi turun.