Dunia nyata

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • NINOY, semoga di surga kau temui demokrasi. Tapi di surga, tentu saja, tidak ada demokrasi. Bukan karena di sana Tuhan bertahta tanpa dipilih, selama-lamanya. Bukan karena di hadapan-Nya rahasia-rahasia kita yang paling terpendam pun diketahui. Tapi karena demokrasi tidak seperti sungai bening berair susu, dengan sejumlah pelayan bidadari dan buah yang nikmat cepat didapat. Demokrasi bukanlah sesuatu yang ideal. Filipina pernah tahu itu. Sebelum Marcos muncul sebagai otokrat, apakah arti pilihan yang ditawarkan sistem poitik di sana waktu itu: calon pemimpin yang satu tak banyak berbeda dari calon pemimpin yang lain. Yang satu, seperti halnya Ninoy sendiri, datang dari keluarga kaya raya. Yang lain, multimilyuner. Yang satu pro-Amerika. Yang lain pro-Gedung Putih. Orang-orang kiri gemar mengejek demokrasi sebelum Marcos itu sebagai pilihan antara Pepsi Cola dan Coca Cola .... Tapi bukankah pers bebas? Benar. Tapi juga kekayaan yang berlebihan, yang bisa menguasai pers itu. Dan juga senjata. Demokrasi Amerika yang dicangkokkan itu menyebabkan Filipina dengan cepat mengecewakan para patriotnya. Hidup menjadi semacam godaan gairah yang melelahkan, seperti suasana dalam cerita Nick Joaquin, The Woman Who Has Two Navels: di sana pesta seperti tak kunjung berakhir, dalam suasana yang mau runtuh, dan di satu adegan, di sebuah restoran Kota Manila, orang pada ketakutan melihat dua lawan politik bersua - lengkap dengan para pengawal yang berpistol. Demokrasi memang bukan sesuatu yang ideal, bahkan kadang terdengar konyol. Mungkin sebab itulah, di Yunani dulu eksperimen itu pun terbatas tempatnya dan ringkas usianya. Pericles, sang penguasa tertinggi Kota Athena, yang menjaga kemerdekaan penuh para warga negara, pada akhirnya jatuh oleh kemerdekaan berbicara dan memilih itu. Ketika Athena di ambang perang, menutup diri dan kena wabah, Pericles dimusuhi oran banyak: ia bahkan dituduh korupsi dan dimakzulkan. Majelis perwakilan rakyatnya jelas selalu riuh rendah. Perang dengan mudah dibangkitkan. Bahkan kaum demokrat pula yang akhirnya menghukum Socrates -- yang memang cenderung menolak pemerintahan oleh orang kebanyakan itu. Filosof yang dihukum mati meminum racun itu lebih mengharapkan aristokrasi: pemerintahan yang berdasarkan pengetahuan dan kemampuan, bukan pemerintahan yang diwakili oleh "juru mudi, tukang batu, peniup seruling". Ketidaksabaran kepada "juru mudi, tukang batu, peniup seruling" yang dipilih untuk menentukan corak dan jalannya negeri itu memang nampaknya cukup umum: kapan saja, di mana saja. Jauh sebelum sejumlah perwira Indonesia dan beberapa ratus demonstran mencoba membubarkan Parlemen pada 17 Oktober 1952, di Inggris hal yang serupa pun terjadi. Pada 20 April 1653, Oliver Cromwell mengumpulkan sejumlah prajurit dan menempatkan mereka di pintu-pintu Parlemen. Lantas dia masuk. Cromwell bukan seorang lembut hati dan penyabar. Ia berang melihat Parlemen itu hanya tak putus-putusnya berdebat, setelah lima tahun sebelumnya menyatakan Inggris sebagai republik (raja sudah dipancung) dan para anggotanya kini praktis yang berkuasa. Pagi itu Cromwell menunjukkan betapa hampanya ilusi itu: ia mengusir mereka, setelah memaki-maki, dan bubarlah Parlemen dari kursinya. Cromwell menjadi sang Pelindung. Artinya, ia memerintah dengan senjata. Inggris dibagi ke dalam 12 distrik militer. Sensor dikenakan, penangkapan bisa terjadi sewaktu-waktu dan ketika rasa tidak puas menyebar, ia menyusun 160 pengawal pribadi di sekitarnya. Ia memang beberapa kali dicoba dibunuh, tapi kekuasaan memang membawa demamnya sendiri. Ketika ia sakit dan orang bertanya siapa penggantinya, Cromwell -- yang telah ikut menumbangkan monarki -- menjawab, "Richard." Ia memilih anaknya. Seperti yang kelak dilakukan Napoleon, ia hendak membentuk dinasti. Dari kisah seperti itu orang pun tahu bahwa demokrasi memang mengundang diri untuk diludahi, atau dielakkan. Barangkali karena ia dengan mudah mempertontonkan diri bukan sebagai taman firdaus seperti yang banyak dibayangkan. Tapi soalnya kenapa ia harus dibayangkan sebagai taman firdaus? Bukankah ia justru sebuah sistem yang bertolak dari asumi bahwa seorang manusia, juga orang seperti Cromwell yang saleh itu, tidak sempurna ketika harus berhubungan dengan kenyataan dunia? Dalam asumsi itu wajar bila tanggung jawab, hak, kewajiban -- dan begitu pula dosa serta kesalahan -- harus dibagi secara luas.

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.