Palestina

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • KAU berdiri di Kamp Badawi - kau tak tahu kenapa. Ini karang tambah tajam oleh suhu November. Roket dan peluru seperti memanaskan cuaca, menggantikan angin, dan di kepalamu terlintas sumpahmu dulu: kau ingin tewas di musim dingin. Di musim dingin, tidak di musim lain. Di musim dingin, ketika darah yang mengalir cepat beku - dan lubang di tubuh yang terkena peluru itu seakan berhenti menganga. Seperti mayat Fouad di sana, seperti mayat Saad kemarin. Mungkin juga seperti dua tubuh musuh yang terhampar di lekuk tanah di bawah itu. Musuh? Siapa musuh? Kita semua orang Palestina, kau pernah bilang kepada Nayef, tiga bulan yang lalu. Kalian bertukar tanda mata: ia berikan tanda pangkat prajurit Israel yang ia tembak di pertempuran dekat Sungai Yordan dan kau memberinya sebuah pisau seorang Falangis. Kini Nayef berada di "sana", kau di "sini". Kau tahu, kau akan membunuhnya atau ia membunuhmu. Kau berdiri di Kamp Badawi - kau sendiri tak tahu persis kenapa. Barangkali karena Palestina telah ditakdirkan begini, dan Yasser (yang kau cintai itu) harus memimpinnya. Barangkali karena hanya dia yang berdiri untuk Palestina. Seperti kau bilang, hanya dia yang menjadikan Palestina. Palestina - yang bukan bagian dari Syria. Palestina - yang bukan bagian dari siapa pun. Nasionalisme kami, kau pernah bilang pada seorang wartawan asing, lahir dari kaki yang kering. Kau ingat bahwa wartawan itu menyeringai. "Dan tentang persatuan Arab?" tanyanya. Kau tidak menjawab. Kau mengangkat moncong bedilmu ke atas. "Ha-ha-ha-ha-ha. . .," kau ketawa. Kini kau tak kepingin ketawa. Cuaca terlampau dingin dan harapan terlalu sedikit. Tentu, kau sudah terbiasa dengan ini. Harapan barangkali sesuatu yang tak perlu benar bagi seorang prajurit PLO. Yang perlu adalah kemarahan, yang adil. Tapi toh ada yang sayu di saat-saat seperti ini, ketika yang adil pun sudah tak dimengerti lagi bahkan oleh teman-teman sendiri. Seseorang pernah menunjukkan sebuah karikatur dari sebuah koran Eropa. Di sana dilukiskan seorang Arab yang mengejar seorang Israel, tapi orang Arab itu dikejar juga oleh orang Arab lain. Di belakangnya, ia sendiri dikejar seorang Arab lain lagi, yang sementara itu dikejar orang Israel yang dikejar-kejar tadi. Sebuah lingkaran yang menggelikan. Kau tersenyum pahit. Jangan salahkan kealaan, jangan, Jangan salahkan langit bila ia meninggalkanmu. Sebab Tuhan, yang memberikan kemenangan kepada siapa saja yang dikehendakiNya, bukan tukang besi yang membentuk tombak buatmu. Kurasakan sakit ketika kudengar berita pagi hari, dan anjing menyalak. Kau ingat sajak Nizar Qabbani itu, bukan - setelah kekalahan di tahun 1967? Tentu. Kau juga ingat baris-baris sebelumnya: "Pidato-pidato kita yang bergelora/telah mengorbankan lagi 50 ribu tenda.... " Pan-Arabisme, wah! Omong kosong pada mimbar. Impian unta menjangkau bulan. Seperti tulis Abdullah al-Qusaymi dalam Mawaqif di akhir 1968: apa yang dihasratkan oleh mereka yang menyerukan persatuan Arab adalah sekadar cara untuk mengundang kekuasaan seorang kalif versi baru. Kaum Pan-Arabis itu hendak mentahbiskan seorang tsar, yang berkuasa di wilayah luas dengan kekuasaan yang mudah tergoda untuk jadi tanpa batas. Dengan kata lain, gambaran kaum Pan-Arabis tentang Tanah Arab yang satu agaknya bukanlah sebuah sumber harapan. Ia bahkan sebuah kemungkinan yang menakutkan. Sebab, seperti kata al-Qusaymi, "Cerita tentang negara besar dan imperium besar tak pernah merupakan cerita, atau ide, atau harapan, rakyat kecil yang banyak. Cerita itu selalu suatu cerita tentang orang-orang yang ingin jadi manusia atau tiran besar, seraya mengecilkan orang yang lain." Kini kau merasa hangat. Sejenak tembakan berhenti - tapi kutipan dari al-Qusaymi itu yang menghiburmu. Bagaimana seorang penulis Saudi - meskipun telah menetap di Beirut - bisa sampai berani ngomong seperti itu, kecuali kalau bukan oleh kerasnya kenyataan? Kita sudah lama dikerumuni kata-kata: gagak-gagak yang tangkas yang mengeroyok dan merobek-robek tubuh kenyataan yang luka di tengah gurun. Kita sudah terlampau lama terbang, menunggang gagak-gagak yang berdarah itu. Kini gagak-gagak pun berkaok tentang radikalisme: sesuatu yang bahkan lebih besar lebih gemuruh, dari sekadar persatuan Arab. Mereka bersuara tentang revolusi dunia, tentang perubahan di segenap Dunia Ketiga, tentang anti imperialisme. Memukau, memang, dan tak seluruhnya salah. Tapi Palestina adalah pertama-tama Palestina, begitu kau bilang: nasionalisme yang lahir dari kaki yang kering Suatu rencana yang berapi-api, tapi bersahaja, dan praktis pula. Barangkali itulah sebabnya kau ingin mati di musim dingin, di Kamp Badawi.

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.