Meninggal dunia

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • KAUM inteligensia Prancis tak hanya mewakill dirinya sendiri. Raymond Aron mengatakan itu dan ia membuktikan itu. Pemikir itu meninggal pekan lalu di Paris, karena serangan jantung dalam umur 78, hanya beberapa hari setelah memoires-nya terbit dan jadi pembicaraan orang. Tak ada yang berkelebihan dalam kenyataan ini: bahwa hidupnya, dan pikirannya, dikenang orang tak cuma di satu sisi Sungai Seine yang punya gereja tua dan kafe-kafe kaki lima. Bukan karena ia bicara dari sebuah kota asal datangnya ide-ide paling dramatis dari abad ke-20. Bukan karena ia menggunakan sebuah bahasa sengau yang memberi bayangan gelas anggur dan roti panjang. Bukan hanya karena latar eksotis itu. Tapi karena Aron (seperti para pemikir seangkatannya, yang tampil sehabis Perang Dunia II) bergulat dengan problem yang bergema di mana saja: problem yang sekaligus Prancis dan juga bukan-Prancis. Problem paling gemuruh, tapi selalu dirumuskan dengan prosa yang elegan, adalah problem dengan Marxisme. Aron lahir pada 1905. Ia - anak kelas menengah kota besar yang lulus dari sekolah termasyhur, I'Ecole Normale Superieure, dengan angka terbaik - segera berangkat dari kiri ke kanan tengah. Dalam umur yang muda, 26 tahun, ketika ia mengajar di Berlin, ia telah memulai karier intelektualnya "dengan suatu renungan tentang Marxisme". Seperti kemudian ditulisnya di tahun 1968: "Saya ingin melakukan kritik filsafat atas pendapat dan keyakinan saya, yang 'kiri' itu, yang saya rasakan naif, didikte oleh sekitar, tanpa dasar lain kecuali kesukaan yang spontan serta antipati yang belum terbukti." Hasil renungan dan kritik filsafat itu adalah sejumlah risalah, dan sebuah nasib: ia tak bisa terus sejalan dengan mereka yang disebutnya "teman-teman saya masa muda". Yang dimaksudkannya, terutama, adalah seorang yang bertubuh pendek dan bermata juling: Jean-Paul Sartre. Sartre, teman sekamarnya yang lulus dari l'Ecole Normale, setahun kemudian setelah Aron (tapi dengan angka yang lebih tinggi), memang lain dari yang lain. Ia tak cuma ahli filsafat dengan buku yang judul memberat misalnya Wujud dan Ketiadaan. Ia juga penulis drama, novel, dan kemudian juga seorang aktivis. Lebih jauh lagi, tokoh filsafat eksistensialis ini - setelah melakukan kritik atas Marxisme - menawarkan persekutuan kembali dengan Marxisme. Sartre memang berusaha benar untuk jadi Marxis, setidaknya versi baru. Simpatinya kepada kaum buruh, keengganannya melihat proses "Amerikanisasi" yang mengancam Eropa setelah perang usai, dan keyakinannya akan manusia yang berbuat - semua itu agaknya mendorong sikap yang demikian. Bagi Aron, tak ada yang lebih memasygulkan ketimbang itu. Renungannya sejak umur 26 itu telah menunjukkan bahwa Marxisme keliru. Ia, yang menyatakan diri "lebih setia kepada inspirasi Marx" dibanding temannya, membuktikan bahwa ia "mencurahkan lebih banyak waktu untuk menelaah mekanisme ekonomi dan sosial" masyarakat zamannya. Hasil telaahnya: pemerintah kapitalis ternyata luput dari nubuat Marx: ia tak menyebabkan pemelaratan massa. "Ia tak menggali lubang kuburnya sendiri". Di tahun 1955 Aron pun menerbitkan l'Opium des intellectuels: praktis sebuah maklumat perang kepada para cendekiawan lain yang, bagi Aron, terbius militansi kiri. Dialognya yang panjang dengan mereka yang la sebut pemeluk "marxisme imajiner" ini sekaligus juga suatu perpisahan. Aron dengan segera dapat cap "kanan". Ia tersisih dari kalangan cendekiawan - yang umumaya memasang merk "progresif". Sartre baru mau menyalaminya kembali di tahun 1980. Tapi tetap: tak ada kata-kata panas dari Raymond Aron. Khas sifatnya, bahwa ia lebih menetap pada analisanya yang mengorek dalam, dan pada pengungkapannya yang jernih. Ia tak tampil sebagai orang dengan niat selalu bikin kejutan. "Saya termasuk golongan orang yang mengajukan pertanyaan," katanya kepada seorang wartawan beberapa hari sebelum ia meninggal. Pertanyaan - dan itulah mula sengketa. Pertanyaan bisa mengungkit sebuah sendi pada sebuah susunan keyakinan - dan mengancam susunan itu guyah. Keguyahan, dalam pada itu, tak bisa dipakai untuk modal sebuah aksi dan perjuangan. Aron tahu itu. Tapi ia tahu pula apa konsekuensi sebuah perjuangan yang dilakukan atas nama sebuah dogmatisme, sebuah "agama sekuler" yang berlagak "memonopoli nilai-nilai penghabisan". Yakni, penindasan. Dan Aron tak cuma berbicara tentang Marxisme.

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.