Bangsa yang keras hati

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • BEN-GURION suatu hari membentangkan tangannya lebar-lebar, dan berkata, "Jika kau letakkan di satu tangan semua idaman di dunia, dan di tangan yang lain keselamatan hidup Israel, aku akan memilih yang kedua. Sebab mereka yang mati tidak memuji Tuhan . . . " Mereka yang mati mungkin tak memuji Tuhan, yang kalah bahkan tak bisa memuji diri sendiri. Ben-Gurion, pendiri Israel, perdana menteri pertama, memang berbicara tentang kenyataan-kenyataan dunia yang keras dan tidak tenteram. Dia seorang yang sehat pikiran, tapi sejauh manakah etika survival yang terus-menerus dianggap sah itu tak menyebabkan orang jadi telanjur? Rabbi Meir Kahane, bekas pemimpin Liga Pertahanan Yahudi di Amerika, datang ke Israel dan mendirikan organisasi yang disebut Kach. Salah satu idenya: mengusir orang Arab yang berada di wilayah kekuasaan Israel ke luar negeri itu. Tanpa Kach toh sudah banyak orang Palestina terusir -- seperti orang Yahudi dahulu pun diusir dari satu tempat ke tempat lain, meskipun untuk orang Palestina, penyair W.H. Auden tak menulis sajak Lagu Orang Usiran. Tidakkah Rabbi Kahane bukan bentuk yang lebih ekstrim dari dorongan kekerasan yang laten ? Orang bisa mengatakan, memang, bahwa sejak zaman Musa dalam Perjanjian Lama, bangsa Yahudi bukanlah bangsa yang biasa dengan kelunakan hati. Tuhan dalam persepsi mereka adalah Yahwe yang cepat murka. "Siapa saja pada hari Sabbat melakukan pekerjaan, harus dihukum mati!", demikian perintahnya. Dan ketika suatu ketika rakyat Yahudi berbuat dosa di Syitim, Yahwe pun memerintahkan kepada Musa: "Ambillah semua kepala rakyat dan sulakanlah di hadapan Yahwe di siang hari. . ." Di tangan para penulis lima buku pertama Kitab Perjanjian Lama, demikian tulis Will Durant dalam bagian awal The Story of Civilization, Yahwe menjadi Tuhan yang imperialistik dan ekspansionis. "Ia tak akan membawakan omong-kosong seorang pencinta damai, ia tahu bahwa Tanah yang Dijanjikan sekalipun hanya dapat direbut, dan dipertahankan, dengan pedang ia dewa perang karena ia harus demikian . . ." Durant kemudian secara selintas menyebutkan, bahwa setelah melalui masa berabad-abad, Yahwe yang penuh api itu perlahan-lahan berubah jadi Tuhan yang lembut dan penuh kasih seperti yang dibawakan Yesus. Selama berabad-abad itu, bani Israel mengalami kekalahan militer, ketaklukan politik dan juga di lain pihak, perkembangan moral. Hanya kekalahankah yang bisa mengajari sebuah bangsa untuk jauh dari "dewa perang"? Jika benar demikian, Israel harus dikalahkan, ditaklukkan -- seperti dulu yang dilakukan oleh Nebuchadrezzar dari Babilonia. Artinya perang besar harus kembali. Masalah yang pelik ialah bahwa di zaman seperti ini kekerasan seperti itu bisa berarti ketelanjuran lebih jauh. Dalam novel The Fifth Horseman karya Dominique Lapiere dan Larry Collins, dikisahkan bagaimana Presiden Ghaddafi berhasil memasang sebuah bom hidrogen di Kota New York. Ia mengancam Gedung Putih: bila Amerika tak berhasil memindahkan Israel dari Tepi Barat Sungai Yordan, bom itu akan diledakkan. PRESIDEN Amerika pun mendesak Perdana Menteri Begin. Bahkan ia menyiapkan pasukan AS untuk, kalau perlu, menghadapi pasukan Israel di wilayah yang diduduki itu. Begin, yang sakit jantung itu, menelan pilnya lalu memimpin sidang rahasia kabinet Israel: Libia akan digempur pesawat terbang yang membawa senjata nuklir . . . Berita tentu berakhir dengan banyak orang yang selamat. Tapi novel itu cukup menyelipkan kengerian puncak, menjelang hancur leburnya bumi. Ketika itu yang mati bukan saja tak memuji Tuhan, tapi juga tak bisapaham. mengapa sejarah jadi begini.

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.