Injil sebagai undang-undang

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • JAUH sebelum Khomeini, Calvin Dan Jenewa di tahun 1536. Di hari itu, laki-laki dari Prancis yang kelak mengguncangkan sejarah Katolik itu tiba, tepat ketika ia berumur 27 tahun. Masih muda, memang. Tapi setahun sebelumnya ia telah mulai termasyhur. Ia dikenal sebagai seorang yang menulis sebuah buku daiam bahasa Latin, Christianae religionis institutio. Karya ini, yang kemudian dibakar di Paris, tapi dilanjutkan Calvin hampil sepanjang hayatnya sampai setebal 1.118 halaman, merupakan pembelaan theologisnya melawan Gereja di Roma dan sekaligus sebuah kitab ajaran. Dan ajaran itu adalah ajaran yang angker, keras, persis, logis, sederhana. Jenewa memang kebetulan sedang menunggu seorang seperti dia. Kota ini, dengan niat membebaskan diri dari kekuasaan Savoy di Barat Daya yang mendeking sang uskup, tengah meninggalkan iman Katolik dan memeluk Protestantisme. Di situ juga telah ada Farel, ahli agama berjanggut merah yang memaki Paus sebagai "anti-Kristus". Tapi di pihak lain, di Jenewa juga terdapat misalnya satu distrik yang diperintah oleh seorang Reine du bordel, ratu kupu-kupu malam. Maka bersama Farel pun Calvin mencoba membersihkan Jenewa, baik dari dosa Katolik maupun dosa erotik. Dewan Kota, yang terdiri dari kaum bisnis yang menyukai independensi dan ketertiban, menyetujui mereka. Hidup pun diperketat. Setahun lamanya orang Jenewa betah dengan pengetatan ini. Tapi kemudian mereka menggeliat, lalu membelot. Dewan Kota hasil pemilihan baru meminta agar rohaniwan Farel dan Calvin tak usah ikut campur urusan politik. Kedua orang itu menolak. Kedua orang itu diusir. Tapi Jenewa tanpa Farel dan Calvin ternyata seakan kambing lepas dari kandangnya: perjudian, percabulan, mabuk-mabukan dan perkelahian jalanan tambah sering terjadi. Kaum bisnis, yang punya suara kuat di Dewan Kota, akhirnya cemas bahwa kekacauan seperti itu bisa mengganggu perdagangan. Tahun 1541 pelbagai delegasi dikirim ke Strasbourg, tempat Calvin tinggal. Mereka membujuk agar ahli agama itu kembali memimpin kehidupan rohani di Jenewa. Mula-mula Calvin menolak, tapi kemudian dengan murah hati ia pun berjunjung--lalu memutuskan untuk menetap di kota itu. Sekaligus makin menetap juga keyakinannya yang hebat untuk menjadikan Jenewa kota yang streng menuruti satu undang-undang: Injil. Dengan Injil sebagai undang-undang, para rohaniwanlah yang pegang kekuasaan: mereka itu yang dianggap penafsirnya yang patut. Pemerintahan sipil harus menaati itu. Tiap rumah tangga mesti mendengarkan khotbah Minggu. Yang telat ditegur. Secara reguler rumah-rumah diperiksa. Sebab ada aturan untuk warna dan jumlah pakaian. Ada dekrit tentang banyaknya hidangan di waktu makan. Bukan saja Katolikisme dianggap murtad, nama anak pun tak boleh berasal dari nama para santu. Nyanyian yang tak berbau agama dilarang. Pers dan buku disensur. Bicara kurang ajar tentang Calvin dianggap tindakan kriminal. Di bawah kekuasaan theokratik yang begitu yakin jadi pelaksana Sabda Tuhan itu, hal seperti ini pun terjadi: seorang wanita dibui karena potongan rambutnya terlampau menjambul. Seorang anak dipotong lehernya karena memukul orangtuanya. Tuhan, bagi Calvin yang jatuh cinta pada ilmu hukum waktu muda, nampaknya hanya menonjol sebagai pemberi aturan mutlak. Calvin memandang-Nya terutama tak sebagai yang Maha Pengasih. Tuhan bagi Calvin, kata para ahli, adalah Tuhan dari Kitab Wasiat Lama: Sang Penghukum Mahabesar. Apakah hasilnya? Kota Jenewa memang jadi bersih, sampai hari ini. Tapi manusia toh terus bahagia dengan musik yang dulu dilarang dan buku yang dulu disensur--terus dengan keleluasaannya, keisengannya, dan kegembiraannya yang luas. Mungkin dalam hal seperti itulah agama kadang terasa "utopistis" seperti yang dikatakan Abdurrahman Wahid dalam satu ceramah. Manusia tak sepenuhnya bisa diprogram. Ia hanya bisa ditakdirkan.

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    OTT Bupati Kolaka Timur, Simak Fakta Penangkapan dan Profil Andi Merya

    Bupati Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Andi Merya Nur, ditangkap KPK dalam OTT. Ia diduga menerima suap yang berhubungan dengan dana hibah BNPB.