Anggota keluarga perusahaan

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • SOICHIRO Honda adalah kapitalis yang aneh. Namanya--seperti Ford --menempel pada merk mobil dan motor yang keluar dari pabrik. Tapi perlu ada catatan khusus untuk menyebut bahwa pabrik itu pabriknya. Sebab, dalam perusahaan raksasa itu, Soichiro Honda cuma punya andil 5%. Nama besar itu hanya seorang pemilik kecil. Betapa pun anehnva posisi itu, Tuan Honda bukan suatu perkecualian. Lihat saja Konosuke Matsuita. Dia juga cuma punya 3% dari seluruh saham Matsuhita Electric. Sepati ditunjukkan Japan Company Handbook (terbitan musim gugur 1980), tak ada perusahaan Jepang yang peseronya menguasai 40%--atau lebih--dari seluruh saham. Di situlah pula letak perbedaan antara Jepang dan AS. Menurut survei tahun 1976 majalah Fortune, kira-kira 30% dari perusahaan di AS merupakan kongsi keluarga. Dan jika kita tengok ke Eropa, beda antara Jepang dengan negeri kapitalis lain kian terang: di Prancis, misalnya, 50% dari 200 perusahaan top dimiliki oleh famili-famili. Di AS atau di Prancis, famili-famili itulah yang agaknya bisa mengatakan "perusahaan saya". Para karyawan tidak. Di Jepang sebaliknya: bila orang Jepang bilang "pausahaan saya", itu cuma berarti perusahaan tempat ia bekerja. "Umumnya di Jepang orang menerima," tulis Koji Matsumoto dalam majalah Journal of Japanese Trade & Industry terbitan Januari 1982, "bahwa para karyawanlah, dan bukan para pesero, yang merupakan anggota keluarga perusahaan". Matsumoto, tentu saja, tengah berbicara tentang satu hal yang akhirakhir ini menakjubkan dunia: bagaimana mungkin tingkat produktivitas kerja pabrik-pabrik Jepang bisa sampai lebih 2 kali dibanding dengan perusahaan Amerika ataupun Jerman. Ternyata ia tak menyebut-nyebut semangat bushido, konsentrasi zen, atau mutu gizi ikan mentah. Ia tak mengutip sebaris pun dari buku tua Miyamoto Musashi, A Book of Five Rings, yang diterjemahkan ke bahasa Inggris saking inginnya orang Amerika mencari rahasla sukses manajemen Jepang. Yang dikemukakan Matsumoto justru sesuatu yang telah diketahui secara luas, tapi tak kurang menariknya: sifat istimewa kapitalisme Jepang. Inilah sebuah kapitalisme yang tak teramat menganggap penting tingginya dividen bagi para pemegang saham. Bahkan, inilah kapitalisme yang menganggap dividen serupa saja dengan rente yang harus dibayar untuk pinjaman bank: sejenis biaya. Orang bisa mengatakan, bahwa inilah kapitalisme para manajer: kapitalisme yang biasa membayar seJumlah orang, para sokaiya, untuk hadir dalam rapat pemegang saham guna mendukung keputusan-keputusan dewan direksi. Tapi benarkah ini sesuatu yang khas Jepang? Omong kosong. Dari tahun 1964 orang bisa mengutip Robin Moris yang telah menulis The Economic Theory of "Managerial Capitalism", ketika Jepang belum mengagetkan siapa pun. Ia juga bicara tentang kapitalisme yang tujuan para manajernya bukanlah mencapai sebanyak-banyaknya untung, tapi sebanyak-banyaknya assets. Ia juga bicara bahwa akhirnya yang membentuk tujuan perusahaan adalah motivasi para manajer itu, bukan para pemegang saham--bukan pula apa yang terdapat dalam pasar. Barangkali memang ke tahap itulah Jepang masuk, lebih dulu dari yang lain-lain: ke suatu masa, ketika karena kian majemuknya hal ihwal, keunggulan teknik lebih diperlukan. Di situlah fungsi seseorang jadi lebih penting ketimbang besarnya milik. Kapitalisme memang tidak runtuh. Apa yang dibayangkan James Burnham setengah abad yang lalu dalam The Managerial Revolution meleset. Tapi benar agaknya bahwa kekuasaan kaum manajer lebih menonjol: sejenis Kelas Baru, yang berperan setelah proletariat ternyata gagal menggantikan borjuasi. . . . Tuan Soichiro Honda adalah kapitalis yang aneh. Dia ternyata tak menguasai segala-galanya. Tiap pagi para. karyawan ber-taiso, produksi sibuk dan grafik naik. Siapa yang pada akhirnya akan mengendalikannya?

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.