Kecaman Untuk Inggris Dan AS

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • IA pernah berkata, "Kita harus terus berusaha. Kita tak boleh mengabaikan kapasitas orang untuk tergerak oleh argumen kebaikan." la adalah Barbara Ward, lahir Mei 1914, meninggal Mei 1981. Ia bukan seorang santa. Memang, ia seorang yang religius, meskipun ia pernah meninggalkan iman Katoliknya waktu bersekolah di Oxford dan menemukannya kembali lama kemudian (dengan kesalihan baru, tentu). Toh ia tahu ia lebih "mendunia" dibanding Bunda Teresa. Salah sebuah leluconnya ialah bahwa Bunda Teresa lebih bagus berpidato, karena "Tuhan kita membungkuk ke dekat bahunya membisiki apa yang harus diucapkan." Barbara Ward memang bukan tipe biarawati yang hidup bersama dan untuk mereka yang jembel. Barbara seorang baroness. Tentu saja harus dicatat: aristokrasinya tak cuma sekedar dalam gelar, tapi juga dalam sikap dan pikiran. Dia istri diplomat, teman Presiden Kennedy dan sahabat Presiden Johnson. Tapi harus pula dicatat: bukan cuma itu kelebihannya. Ia juga sarjana tamu di Harvard dan guru besar di Columbia. Dengan kata lain, ia berada di tingkat inggi. Tapi di sana ia bukan hanya sekedar orang yang berkata, "Kita minoritas yang beruntung, kita tak berani melupakan mereka yang benar-benar miskin." Bukunya, tentang negeri-negeri kaya dan melarat, mengilhami banyak cendekiawan di dunia sejak hampir seperempat abad yang silam. Tak boleh dilupakan ialah pengaruhnya kepada tokoh-tokoh Bank Dunia. Ketika realisasi "dasawarsa pembangunan" seret, Barbara Ward memulai desakan baru untuk menarik bantuan dari negeri-negeri kaya. Komisi Pearson lahir. Lalu, beberapa tahun yang lalu, muncul pula Komisi Brandt. Robert McNamara, bekas Presiden Bank Dunia yang konon sering menunjukkan lebih dulu rancangan pidatonya kepada Barbara Ward, (dengan agak malu-malu), agaknya tak akan sering berbicara tentang kemiskinan, seandainya wanita penulis The Rich Nations and The Poor Nations itu tak begitu kuat sebagai inspirator. Setidaknya sebagai perumus yang gemilang. Bekas asisten editor The Economist ini memang pandai menyusun kata, -- meskipun semasa baru jadi penulis, ia kadang harus mengulang komposisinya 10 kali. Wanita yang di masa gadis pernah berlatih jadi penyanyi opera ini (dan kemudian jadi orang BBC) memang enak didengarkan pidatonya -- meskipun karena itu orang melihatnya "hanya" sebagai seorang komunikator. Tapi apa salahnya? The Economist menulis tentang bekas wartawannya ini 6 Juni yang lalu dalam sebuah obituari panjang yang membentang 5 halaman. Di sana dikutip satu komentar tentang Barbara Ward: ia adalah "a great simplifier," seorang yang sangat pandai merumuskan soal-soal pelik menjadi sesuatu yang sederhana. Memang, di situ pula kelemahannya. Sebab argumen yang dikemukakannya, yang diulanginya berkali-kali, dengan cara elegan, gamblang dan memikat, tak memberikan peluang untuk didebat. Khususnya dari segi: bagaimana cita-cita membantu si miskin dapat dihubungkan dengan realitas dunia yang berantakan? Itu pertanyaan yang sangat berat, memang. Barbara Ward meninggal (karena kanker) akhir Mei. Komisi Brandt yang mencoba merumuskan jalan kerjasama "Utara-Selatan" bersidang di Berlin sekitar hari itu. Dan 15 Juni yang lalu, Anthony Sampson dalam Newsweek menulis tentang "jingoisme ekonomi yang baru". Dengan kata lain: suatu kecaman terhadap kecenderungan Inggris (di bawah Thatcher) dan Amerika (di bawah Reagan) yang tak hendak peduli akan Dunia Ketiga. Pemerintahan-pemerintahan di Barat, tulis Sampson, "menekankan bahwa mereka memecahkan kesulitan dalam negeri mereka lebih dulu sebelum mereka dapat memalingkan perhatian ke bagian dunia lain." Apa yang akan dikatakan Barbaa Ward tentang ini? Dalam Hany Satu Bzmi (yang telah diterjemahkan dengan bagus ke dalam bahasa kita), ia berbicara tentang "kesetiaan yang tertinggi pada planet Bumi kita yang satu, yang indah, tapi yang mudah cidera". Ia tak berbicara tentang cara menumbuhkan kesetiaan itu. Tapi mungkin seperti katanya pula: "Kita tak boleh mengabaikan kapasitas orang untuk tergerak oleh argumen kebaikan."

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ini Daftar Lengkap Hari Libur Nasional dan Catatan Tentang Cuti Bersama 2022

    Sebanyak 16 hari libur nasional telah ditetapkan oleh pemerintah. Sedangkan untuk cuti bersama dan pergesera libur akan disesuaikan dengan kondisi.